Rabu, 27 Mei 2026

Opini

Opini: Mengapa Serangan Jantung Sering Meningkat Setelah Idul Adha?

Ancaman terbesar kesehatan modern bukanlah sate atau gulai, melainkan ketidakmampuan manusia mengendalikan pola hidupnya.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI PRIMA TRISNA AJI
Prima Trisna Aji 

Persoalan muncul ketika budaya konsumsi berlebihan bertemu dengan gaya hidup modern yang tidak sehat. 

Masyarakat saat ini hidup dalam tekanan pekerjaan tinggi, kurang olahraga, minim istirahat, stres berkepanjangan, dan pola makan yang semakin tidak terkendali. 

Ketika Idul Adha datang, tubuh yang sebenarnya sudah “kelelahan metabolik” dipaksa menerima lonjakan lemak, kolesterol, garam, dan kalori secara mendadak.

Penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa penyakit jantung kini semakin banyak menyerang usia produktif. 

Baca juga: Opini: Refleksi Kritis atas Ekspresi Diri dalam Arus Media Sosial

Studi yang dipublikasikan dalam World Health Organization menyebutkan bahwa penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia. 

Faktor risiko terbesar berasal dari hipertensi, pola makan tinggi lemak jenuh, obesitas, kurang aktivitas fisik, dan stres kronis.

Penelitian lain yang dipublikasikan dalam Journal of the American College of Cardiology juga menunjukkan bahwa konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan natrium dalam jumlah besar dapat meningkatkan risiko inflamasi pembuluh darah, lonjakan tekanan darah, serta ketidakstabilan plak aterosklerosis yang berujung pada serangan jantung akut, terutama pada individu dengan faktor risiko tersembunyi.

Ironisnya, banyak masyarakat merasa dirinya sehat hanya karena masih mampu bekerja dan beraktivitas setiap hari. 

Padahal hipertensi dikenal sebagai silent killer karena sering tidak menimbulkan gejala jelas. 

Kolesterol tinggi pun kerap berkembang tanpa keluhan berarti. Ketika pola konsumsi ekstrem terjadi pada momen tertentu seperti Idul Adha, tubuh yang selama ini tampak baik-baik saja dapat tiba-tiba mengalami kegagalan sistem kardiovaskular.

Fenomena ini diperparah oleh budaya sosial masyarakat modern. Makanan kini tidak lagi sekadar kebutuhan biologis, tetapi juga simbol kebahagiaan dan kemeriahan. 

Semakin banyak daging tersaji, semakin dianggap lengkap sebuah perayaan. Media sosial bahkan ikut memperkuat budaya tersebut. 

Banyak orang berlomba menampilkan hidangan mewah tanpa sadar bahwa tubuh memiliki batas kemampuan metabolik.

Padahal, esensi Idul Adha sejatinya bukanlah tentang pesta makan tanpa kendali. 

Hari raya ini mengajarkan pengorbanan, kesederhanaan, kepedulian sosial, dan kemampuan mengendalikan diri. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved