Opini
Opini: Bahasa Simbol Perlawanan
Pada akhirnya, Pesta Babi memperlihatkan bahwa bahasa dan simbol bukan sekadar unsur estetika dokumenter.
Bahasa hukum dipakai untuk melegitimasi penggusuran, sementara masyarakat adat diposisikan sebagai pihak yang harus menyesuaikan diri terhadap proyek pembangunan.
Simbol negara tampil melalui seragam, dokumen, dan prosedur birokrasi. Semua itu menandai hadirnya kekuasaan eksternal yang bekerja secara sistematis terhadap ruang hidup masyarakat lokal.
Pada akhirnya, Pesta Babi memperlihatkan bahwa bahasa dan simbol bukan sekadar unsur estetika dokumenter.
Keduanya adalah instrumen politik yang merekam konflik, membongkar relasi kuasa, sekaligus menawarkan cara pandang alternatif terhadap pembangunan.
Film ini mengingatkan bahwa ketika bahasa negara gagal mendengar suara masyarakat adat, simbol budaya sering menjadi bentuk perlawanan terakhir yang masih tersisa.
Dokumenter ini juga menunjukkan bahwa perjuangan ekologis tidak dapat dipisahkan dari perjuangan budaya.
Ketika hutan dihancurkan, yang hilang bukan hanya pohon, melainkan juga ingatan, identitas, dan masa depan sebuah komunitas.
Karena itu, memahami simbol dalam Pesta Babi berarti memahami konflik Papua tidak semata sebagai persoalan ekonomi, tetapi sebagai persoalan martabat manusia dan keberlanjutan kehidupan bersama. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yoseph-Yoneta-Motong-Wuwur.jpg)