Opini
Opini: Sembilan Belas Tahun Sumba Barat Daya- Satu Refleksi Kecil
Sejak berdiri tahun 2007, Kabupaten Sumba Barat Daya, SBD telah meracik arah pembangunan yang jelas.
Ada dua isu utama yang menjadi fokus: penanganan stunting dan percepatan penurunan kemiskinan ekstrem.
Untuk itu salah satu kata kunci adalah kolaborasi. Kalau melaju, jangan lupa kolaborasi. Dan itu menjadi denyut Musrenbang.
Pemerintah kecamatan diminta menjadi koordinator wilayah untuk mengintegrasikan program desa, Puskesmas, dan pendamping desa. Puskesmas harus memastikan validitas data ibu hamil dan balita untuk menjadi basis intervensi gizi.
Dukungan NGO dan LSM diapresiasi, dan sekali lagi, Wabup Dominikus mengingatkan agar seluruh program terkoordinasi penuh dengan pemerintah daerah guna menghindari tumpang tindih anggaran.
Pesannya jelas: pembangunan yang dikejar bukan bantuan sesaat, tetapi yang mampu mendorong kemandirian ekonomi keluarga dan masyarakat secara berkelanjutan.
Di usia 19 tahun, SBD punya tiga modal untuk melaju lebih gesit:
- Data yang makin akurat melalui Satu Data Indonesia.
- Visi HEBAT yang menyatukan karakter, kesehatan, kecerdasan, ketahanan pangan, dan budaya.
- Semangat gotong royong yang masih hidup segar di desa-desa. Teringat bagaimana masyarakat Kodi Blagar bersama Wakil Bupati membangun jalan yang rusak.
Tantangan nyata selalu ada, tapi bukan tidak mungkin temukan solusi. Solusi, kalau semua elemen mau duduk bersama, memakai data yang sama, dan fokus bekerja untuk komunitas masyarakat yang menjadi sasaran yang paling membutuhkan.
Maka “melaju” bukan sekadar jargon. Tetapi aksi bersama. Sama-sama melaju. 19 tahun: ad multos annos. SBD bersyukur, SBD melaju. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Wilfrid-Babun-SVD-01.jpg)