Opini
Opini: Sembilan Belas Tahun Sumba Barat Daya- Satu Refleksi Kecil
Sejak berdiri tahun 2007, Kabupaten Sumba Barat Daya, SBD telah meracik arah pembangunan yang jelas.
Oleh: Wilfrid Babun, SVD
Pegiat literasi yang berkarya di Sumba Barat Daya.
POS-KUPANG.COM - Tanggal 22 Mei 2026. Hari ini Kabupaten Sumba Barat Daya ( SBD) menginjak usia 19 tahun. Bukan angka besar, tapi cukup panjang untuk melihat seberapa jauh kita melangkah dan ke mana arah selanjutnya.
Tema HUT tahun ini, “SBD Bersyukur, SBD Melaju”, mengajak kita berhenti sejenak. Ada momen memandang ke Langit dan untuk berterima kasih.
Tidak berhenti di situ: singsingkan lengan baju untuk terus bekerja. Bersyukur karena membangun di atas fundasi yang kuat.
Baca juga: Opini: Orang Desa Tidak Pakai Dolar?
Sejak berdiri tahun 2007, Kabupaten Sumba Barat Daya, SBD telah meracik arah pembangunan yang jelas.
RPJMD 2025-2029 menegaskan visi “Terwujudnya Kabupaten Sumba Barat Daya HEBAT yang Berkarakter, Sehat, Cerdas, Berketahanan Pangan, dan Berbudaya Menyongsong Indonesia Emas 2045”.
Tahun lalu, 2025, Bupati Ratu Ngadu Bonu Wulla menyebut usia 18 tahun sebagai masa transisi dari remaja menuju dewasa. Artinya, SBD dituntut semakin dewasa, matang dalam bertumbuh, baik di pembangunan fisik maupun non-fisik.
Tetap disadari bahwa capaian-capaian yang diraih bukan kerja pemerintah semata. Ia hasil sinergisitas gotong royong berbagai pihak: pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, NGO, dan komunitas masyarakat desa.
Yang patut disyukuri juga adalah perbaikan tata kelola data. Melalui kerja sama dengan BPS, SBD mengembangkan Portal Satu Data Lintas Sektoral untuk menghasilkan data yang akurat, mutakhir, terpadu, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Publikasi Kabupaten Sumba Barat Daya Dalam Angka yang terbit tiap tahun kini menjadi rujukan utama dalam proses perencanaan. Data yang lebih baik, bisa menghasilkan kebijakan yang terarah dan terukur.
Kita tidak lagi berjalan dalam gelap. Tetapi move on dan dengan mata terbuka juga jujur melihat aneka kenyataan.
Data terbaru Musrenbang Februari 2026 cukup menantang. Hingga Desember 2025, prevalensi stunting di SBD masih di 40,7 persen. Rata-rata kunjungan ke Posyandu 48,63 persen.
Ini bukan sekadar angka statistik. Tetapi tentang sekilas kondisi aktual sosial masyarakat Sumba Barat Daya. Dan itu juga yang digarisbawahi sang Bupati.
Menurut Bupati Ratu Wulla, itu adalah bacaan, cerminan keluarga yang terjebak kemiskinan ekstrem, akses pangan terbatas, sanitasi buruk, serta rendahnya edukasi gizi.
Karena itu, wakil Bupati SBD Dominkus Alpawan Rangga Kaka dalam Musrenbang RKPD 2027 di Tambolaka menyentil tema pembangunan di tahun 2027 diarahkan pada “Peningkatan Kesejahteraan dan Kemandirian Masyarakat yang Didukung dengan Peningkatan Daya Saing Ekonomi Lokal dan Tata Kelola Pemerintahan yang Mantap”.
Ada dua isu utama yang menjadi fokus: penanganan stunting dan percepatan penurunan kemiskinan ekstrem.
Untuk itu salah satu kata kunci adalah kolaborasi. Kalau melaju, jangan lupa kolaborasi. Dan itu menjadi denyut Musrenbang.
Pemerintah kecamatan diminta menjadi koordinator wilayah untuk mengintegrasikan program desa, Puskesmas, dan pendamping desa. Puskesmas harus memastikan validitas data ibu hamil dan balita untuk menjadi basis intervensi gizi.
Dukungan NGO dan LSM diapresiasi, dan sekali lagi, Wabup Dominikus mengingatkan agar seluruh program terkoordinasi penuh dengan pemerintah daerah guna menghindari tumpang tindih anggaran.
Pesannya jelas: pembangunan yang dikejar bukan bantuan sesaat, tetapi yang mampu mendorong kemandirian ekonomi keluarga dan masyarakat secara berkelanjutan.
Di usia 19 tahun, SBD punya tiga modal untuk melaju lebih gesit:
- Data yang makin akurat melalui Satu Data Indonesia.
- Visi HEBAT yang menyatukan karakter, kesehatan, kecerdasan, ketahanan pangan, dan budaya.
- Semangat gotong royong yang masih hidup segar di desa-desa. Teringat bagaimana masyarakat Kodi Blagar bersama Wakil Bupati membangun jalan yang rusak.
Tantangan nyata selalu ada, tapi bukan tidak mungkin temukan solusi. Solusi, kalau semua elemen mau duduk bersama, memakai data yang sama, dan fokus bekerja untuk komunitas masyarakat yang menjadi sasaran yang paling membutuhkan.
Maka “melaju” bukan sekadar jargon. Tetapi aksi bersama. Sama-sama melaju. 19 tahun: ad multos annos. SBD bersyukur, SBD melaju. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Wilfrid-Babun-SVD-01.jpg)