Opini
Opini: Membaca Pesta Babi dari Pesan Paus Leo XIV
Film Pesta Babi adalah fakta kelam yang disuguhkan kepada kita sebagai sesama anak bangsa agar segera insaf
Oleh: Armando Labetubun, SVD
Guru SMAK Sto. Arnoldus Janssen Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Papua dengan segala keindahan alamnya dan seabrek konflik yang tiada habisnya, kerap tampil dalam amatan publik melalui dua paparan ekstrem.
Di antara kedua poros ini, film Pesta Babi mengambil alternatif ketiga: merekam realitas hidup masyarakat adat yang kental dengan alam sekaligus kelam.
Namun, sebagaimana satu karya seni yang berani mengabadikan realitas pinggiran, film ini tidak luput dari kontroversi.
Sejumlah pihak menuding film ini menjajakan rasa sakit, kemelut dan penderitaan manusia Papua dengan sorotan kamera, selain juga provokatif dengan narasi tidak berimbang.
Baca juga: Opini: Pesta Babi dan Sikap Kristen di Tengah Krisis Sosial Politik
Namun, benarkah demikian? Ataukah justru sebaliknya kamera Pesta Babi sedang menjalankan misi khusus sebagai saksi yang blak-blakan menyuarakan martabat kemanusiaan yang terlampau sering diabaikan?
Untuk mengurai kerumitan ini, pesan teologis Paus Leo XVI pada hari peringatan Komunikasi Sedunia, “Menjaga Suara dan Wajah Manusia” di Hari Minggu Paskah VII bisa menjadi pisau bedah yang relevan bagi kita atas film Pesta Babi yang cukup meresahkan kalangan tertentu tersebut.
Seruan Paus Leo XVI menjadi awasan bagi cara pandang dunia modern yang menempatkan manusia sebagai objek semata dan direduksi menjadi sekadar angk, barang atau tontonan di era digital.
Pro dan Kontra
Kritik atas Pesta Babi berangkat dari kekhawatiran, bahwa kemelut hidup yang melilit masyarakat Papua dijadikan komoditas sekaligus alat propaganda.
Penderitaan mereka dibesar-besarkan, ditelanjangi dan disorot kamera. Pihak yang berargumen demikian, menampik bahwa menyajikan realitas perjungan orang Papua atas alamnya serta air mata masyarakat adat di depan kamera justru menguatkan anggapan bahwa orang Papua adalah objek lemah dan butuh diselamatkan.
Dari sisi kajian media, kecemasan macam ini valid. Kamera punya otoritas memformat setiap sudut pandang. Jika salah di-setting, kamera membuat pelakon tampak lemah dan tertindas, lalu terjebak dalam posisi inferior.
Namun, melabeli film ini sepenuhnya eksploitatif adalah kesimpulan yang terlalu dini.
Jika disimak secara mendalam, perjuangan mengangkat nilai kemanusiaan, pelestarian lingkungan, keadilan sosial, dan penghormatan atas kedaulatan masyarakat dalam film ini justru terletak pada upaya menyingkapkan tabir realitas hidup masyarakat adat apa adanya dari dalam masyarakat itu sendiri.
Tradisi pesta babi bukan sekadar ritual kuliner, tetapi simbol kebersamaan, kehormatan, hidup komunal, identitas budaya.
Lewat pesta babi, rekonsiliasi terwujud, hubungan sosial yang rusak serta martabat masyarakat adat Papua dipulihkan.
Sorotan lensa kamera hadir bukan sebagai predator tetapi fasilitator yang membiarkan realitas masyarakat dan budayanya berbicara gamblang, telanjang tanpa pembatsan.
Pesta Babi: Medium Menyuarakan Fenomena Papua
Di tengah kendala akses informasi dan aksi pelarangan di ruang publik, film Pesta Babi harus diakui telah memainkan peran sosial yang penting sebagai instrumen komunikasi.
Ketika media arus utama (mainstream media) seringkali terperangkap dalam jurnalisme konflik penuh sensasi, film dokumenter macam ini malahan memberi ruang bagi pengungkapan aspek-aspek kemanusiaan yang hilang.
Baca juga: PMKRI Ende Gelar Nobar Film Dokumenter Pesta Babi
Film Pesta Babi ini muncul sebagai alarm sosial dan bentuk solidaritas melihat krisis agraria, deforestasi serta perlindungan hak masyarakat adat di Papua Selatan.
Film ini menjadi corong menyuarakan fenomena Papua bukan dari sisi angka statistik peningkatan ekonomi di sana ataupun laporan keamanan, tetapi dari alam, budaya dan ritual adat yang selama ini dirawat dan dihidupi.
Penonton diajak melihat dari dekat bagaimana pergeseran tatanan sosial dan fungsi suatu ekosistem, serta desakan modernisasi yang ikut menentukan struktur hidup sosial masyarakat Papua.
Pendeknya, film ini dapat dikatakan berhasil mentransformasikan rasa sakit akibat ketidadilan struktural menjadi satu gugatan atas kesadaran kolektif kita sebagai bangsa.
Menjaga Wajah dan Suara Manusia (Papua)
Di atas semua polemik seputar film ini, kiranya jernih bagi kita, bahwa film Pesta Babi menemukan pijakan filosofis teologisnya dalam pesan Paus Leo XVI.
Paus menegaskan bahwa di zaman modern, ancaman terbesar kemanusiaan hari ini yaitu hilangnya “wajah”, yaitu identitas unik manusia, dan “suara”, otonomi diri manusia akibat terkikis sistem hidup yang gagal melihat eksistensi manusia sebagai pribadi utuh.
Dalam konteks ini, hemat penulis, Pesta Babi hadir bukan sebagai satu hiburan. Ia adalah instrumen penjaga wajah dan suara manusia umumnya, dan terkhusus manusia Papua.
Pertama. Menjaga “Wajah”. Mempertontonkan wajah manusia Papua dalam film ini sebenarnya tidak dimaksudkan menelanjangi atau membeberkan aib, tetapi suatu sikap pembaharuan identitas masyarakat Papua itu sendiri.
Menampilkan perjuangan para tetua adat dan para mama papua akan lingkungan hidup dan hak ulayatnya adalah upaya subversif melawan narasi pembangunan melalui Program Strategis Nasional (PSN) yang berdampak destruktif terhadap ekosistem lingkungan hidup.
Wajah-wajah ini menuntut pengakuan bahwa merekalah pelaku sejarah dan penjaga tanah yang sejak awal mula menjadi ibu mereka. Wajah-wajah itu menegaskan, bahwa mereka bukan sebatas hiasan bagi program pembangunan.
Kedua, Menjaga “Suara”. Suara yang terdengar dalam film ini adalah satu bentuk pernyataan eksistensial.
Melalui dialog, tuturan, nyanyian, ratapan maupun kesunyian di celah adegan, film ini sebetulnya mau mengembalikan hak bersuara (right to speak) bagi mereka yang selama ini dibungkam.
Paus Leo XVI menandaskan, bahwa perlakukan atas manusia sebagai pribadi bermartabat berarti menolak segala bentuk pengkerdilan terhadap kemanusiaan mereka.
Dalam bingkai itu, Pesta Babi persis menjawabi pesan Pemimpin tertinggi Gereja Katolik tersebut, yakni menjadi wajah perjumpaan penonton dengan ‘yang lain’ (the other), yaitu orang Papua, dan bukan sekadar tontonan yang memantik rasa marah, sedih, kecewa; mengaduk-aduk emosi, melainkan sesama manusia yang serupa dengan Pencipta.
Pada akhirnya, kekhawatiran bahwa film Pesta Babi menjajakan penderitaan kaum tertindas di Papua dalam sorotan kamera, alat provokasi, bahkan mengais keuntungan, kiranya dapat ditepis jika kita mencerapnya dengan kejujuran intelektual.
Kemelut hidup yang ditayangkan dalam film tersebut benar-benar bukanlah komoditas menuai simpati murahan apalagi mengemis solidaritas dan dukungan dunia luar Papua.
Film Pesta Babi adalah fakta kelam yang disuguhkan kepada kita sebagai sesama anak bangsa agar segera insaf dan melihat sejauh mana keadilan ditegakkan di atas tanah Papua.
Atau dalam terang refleksi teologis, film dokumenter ini sebenarnya sudah menjalankan misi profetiknya.
Ia hadir sebagai medium yang memastikan wajah manusia Papua tetap eksis dalam memori bangsa, dan suara mereka tidak mati oleh intimidasi penguasa.
Film Pesta Babi menuntun kita kepada kesadaran, bahwa menghormati Papua berarti juga menghormati orang-orangnya selaku pribadi yang utuh, otonom, dan luhur. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
| Opini: Magnifica Humanitas- Menjaga Manusia di Ambang Algoritma |
|
|---|
| Opini: Menghantar Makan, Menanam Perilaku: Menelisik Peran Kader Pendamping Keluarga |
|
|---|
| Opini: Ketika Inflasi Tak Cukup Seksi untuk Disebut Politik |
|
|---|
| Opini: Membangun Kesadaran Ekologis Pemilih Pemula di Era Digital |
|
|---|
| Opini: Ketika Keberanian Bicara- Pelajaran Etika dari Sebuah Protes di Panggung LCC |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Armando-Labetubun-SVD.jpg)