Rabu, 20 Mei 2026

Opini

Opini: Membangun Komunikasi Kasih di Tengah Dunia yang Ramai Bicara

Manusia tidak hanya membutuhkan koneksi internet, tetapi juga kehangatan relasi yang mampu memulihkan kemanusiaannya.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI FIDEL DARSO
Fidel Darso 

Akibatnya, komunikasi perlahan kehilangan dimensi relasionalnya. Orang berbicara bukan lagi untuk membangun pengertian tetapi untuk pertahankan ego dan memenangkan perdebatan.

Ketika Kata-Kata Kehilangan Kasih

Padahal, komunikaasi sejatinya bukan sekadar  menyampaikan informasi. Komunikasi adalah cara manusia menghadirkan dirinya secara utuh kepada sesama. 

Di dalam komunikasi terdapat penghargaan, perhatian, dan pengakuan terhadap martabat manusia. 

Ketika kasih hilang dari komunikasi, maka kata-kata kehilangan daya manusianya. Situasi inilah yang banyak terlihat di ruang digital hari ini. 

Media sosial sering berubah menjadi ruang pelampiasan emosi. Orang merasa bebas menyerang karena bersembunyi di balik layar. 

Tidak sedikit pula anak muda yang tumbuh dalam budaya komunikasi yang keras dan penuh cemoohan, sehingga menganggap penghinaan sebagai sesuatu yang biasa.

Dalam kondisi seperti ini, komunikasi kasih menjadi semakin penting. Komunikasi kasih bukan berarti menghindari kritik atau menolak perbedaan. 

Sebaliknya, komunikasi kasih adalah kemampuan menyampaikan kebenaran dengan cara yang manusiawi. Ia mengajarkan bahwa perbedaan bahwa perbedaan tidak harus melahirkan kebencian.

Paus Fransiskus dan Krisis Komunikasi Modern

Mendiang Paus Fransiskus dalam pesan Hari Komunikasi Sedunia ke-57 pernah menegaskan bahwa dunia saat ini membutuhkan komunikasi yang “mendengarkan dengan hati.” 

Mendengar, menurutnya, bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan keterbukaan batin terhadap pengalaman dan pergumulan sesama.

Pesan ini sangat relevan dengan kehidupan masyarakat modern yang lebih sibuk menanggapi daripada memahami. 

Orang berlomba menyampaikan pendapat, tetapi semakin jarang membuka ruang dialog yang sehat. Akibatnya, komunikasi kehilangan empati dan berubah menjadi arena pertarungan ego. 

Dalam eniklik Frateli Tutti, mendiang Paus Fransiskus juga mengkritik budaya komunikasi digital yang kerap kali melahirkan agresivitas verbal dan polarisasi sosial. 

Menurutnya,  relasi manusia tidak boleh kehilangan semangat persaudaraan. Komunikasi seharusnya menjadi jembatan yang mendekatkan manusia, dan bukan sebagai tembok yang memisahkan. 

Pandangan Gereja tersebut menunjukkan bahwa persoalan komunikasi bukan sekadar masalah teknologi, melainkan persoalan moral dan kemanusiaan. Cara manusia berbicara mencerminkan kualitas hati dan kedewasaan etikanya.

Kemarau Dialog di Era Digital

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved