Rabu, 20 Mei 2026

Opini

Opini: Hantavirus dan Kepanikan Publik-Ketakutan Lebih Cepat Menyebar daripada Virus

Pada akhirnya, Hantavirus mengajarkan satu hal penting kepada kita: di era digital, wabah tidak selalu dimulai dari virus. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI PRIMA TRISNA AJI
Prima Trisna Aji 

Pemerintah setempat mengajarkan cara membersihkan rumah yang benar, penggunaan masker saat membersihkan area tertutup, serta pengendalian populasi tikus secara sehat. 

Hasilnya, kepanikan perlahan menurun dan masyarakat mulai memahami bahwa kewaspadaan jauh lebih penting daripada ketakutan berlebihan.

Kisah lain terjadi di Argentina pada 2018 ketika wabah Hantavirus menyebabkan sejumlah kematian dan memicu kepanikan massal. Banyak warga takut beraktivitas di luar rumah. 

Sekolah-sekolah ditutup sementara dan media sosial dipenuhi rumor yang tidak jelas sumbernya. Bahkan muncul kabar palsu bahwa virus dapat menular hanya lewat tatapan atau udara terbuka di perkotaan. 

Akibat banjir hoaks, masyarakat justru mengalami kecemasan sosial yang lebih luas dibandingkan dengan penyebaran virus itu sendiri.

Indonesia sebenarnya menghadapi tantangan serupa hari ini. Bukan karena jumlah kasus yang besar, tetapi karena masyarakat kita sangat rentan terhadap informasi sensasional. 

Banyak orang membaca judul tanpa memahami isi. Banyak yang membagikan video tanpa verifikasi. Di sinilah ketakutan berubah menjadi “wabah psikologis”.

Sebagai dosen Spesialis Medikal Bedah, saya melihat fenomena ini sebagai alarm penting bahwa literasi kesehatan masyarakat Indonesia masih perlu diperkuat. Kita terlalu mudah panik, tetapi terlalu malas memeriksa kebenaran informasi.

Padahal langkah pencegahan Hantavirus sesungguhnya sederhana dan sangat masuk akal.

Menjaga kebersihan rumah, membuang sampah secara benar, menutup akses masuk tikus, menyimpan makanan dengan baik, menggunakan sarung tangan dan masker saat membersihkan gudang atau area berdebu, serta rutin mencuci tangan merupakan langkah efektif yang dapat dilakukan siapa saja.

Sayangnya, pesan-pesan sederhana seperti ini kalah viral dibandingkan video bernarasi “virus mematikan baru mengancam dunia.”

Inilah tantangan komunikasi kesehatan modern. Dunia kesehatan sering berbicara terlalu ilmiah, sementara media sosial berbicara dengan emosi. Akibatnya, masyarakat lebih mudah tersentuh rasa takut daripada pengetahuan.

Penelitian terbaru dalam bidang komunikasi kesehatan menunjukkan bahwa paparan informasi kesehatan yang bersifat menakutkan secara terus-menerus dapat meningkatkan kecemasan publik, memicu stres psikologis, dan menurunkan kemampuan masyarakat mengambil keputusan rasional. 

Dalam jangka panjang, masyarakat bahkan bisa mengalami kelelahan informasi (information fatigue), yaitu kondisi ketika publik akhirnya tidak lagi peduli terhadap edukasi kesehatan karena terlalu sering diteror berita menakutkan.

Karena itu, solusi atas fenomena ini tidak cukup hanya dengan imbauan “jangan panik”.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved