Senin, 18 Mei 2026

Opini

Opini: Basilius Agung di Era Globalisasi

Gereja yang berpartisipasi dalam budaya dengan kritis dan kreatif adalah Gereja yang setia pada misi inkarnasi. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI REDEGUNDIS KESA
Redegundis Kesa 

Namun, adaptasi ini harus disertai dengan daya kritis yang tajam untuk menyaring nilai-nilai yang bertentangan dengan Injil, sekaligus kreativitas untuk menemukan cara-cara baru dalam mewartakan Kabar Baik yang tak pernah usang.

Tanggung Jawab Sosial di Era Globalisasi

Kedua, kita hidup di era globalisasi di mana bangsa-bangsa yang jauh secara fisik benar-benar menjadi sesama kita. Realitas ini menuntut tanggung jawab sosial yang lebih luas dari Gereja. 

Gereja memang memiliki dasar-dasar tanggung jawab untuk membantu mengentaskan kemiskinan tanpa memandang etnis ataupun agama.

Santo Basilius Agung memberikan contoh konkret melalui pembangunan "Basiliad," sebuah kompleks besar di pinggiran kota Kaesarea yang berfungsi sebagai rumah sakit, panti untuk orang miskin, dan pusat pelayanan sosial. 

Ia terkenal dengan ucapannya yang radikal: "Roti di lemari Anda adalah milik orang lapar; pakaian yang tidak terpakai adalah milik orang telanjang." 

Pernyataan ini menunjukkan pemahaman Basilius yang mendalam tentang keadilan distributif dan tanggung jawab orang kaya terhadap yang miskin.

Dalam konteks globalisasi saat ini, ajaran Basilius semakin relevan. Globalisasi, yang didorong oleh teknologi baru dan ekspansi ekonomi, membawa dampak positif dan negatif. 

Di satu sisi, globalisasi membuka peluang bagi Gereja untuk menjangkau lebih banyak orang dan membangun solidaritas lintas batas. 

Di sisi lain, globalisasi juga memperlebar jurang ketimpangan dan mengikis nilai-nilai kemanusiaan.

Praktik tanggung jawab sosial gereja yang baik sudah menjadi bukan hanya kewajiban tetapi keharusan bahkan kebutuhan bagi gereja saat ini dan masa mendatang. 

Gereja harus keluar dari kungkungan ritualistik dan terlibat secara nyata dalam transformasi sosial. 

Komitmen ini bukan sekadar program sosial, melainkan ekspresi konkret dari kasih Kristus yang memihak pada yang miskin, tersingkir, dan tertindas.

Terbuka bagi Allah Pencipta

Ketiga, hanya dengan mengenal dan mengakui Allah Pencipta, Bapa kita semua, serta terbuka bagi-Nya, kita dapat membangun dunia yang lebih adil dan bersaudara. 

Teologi penciptaan mengajarkan bahwa Allah tidak lepas tangan dari ciptaan-Nya, tetapi tetap hadir dan aktif dalam sejarah manusia.

Santo Basilius Agung dalam karya terbesarnya, Hexaemeron (komentar tentang enam hari penciptaan), menunjukkan kedalaman teologi penciptaannya. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved