Minggu, 17 Mei 2026

Opini

Opini - Keluar dari Gua Euforia: Menggugat Budaya Coretan Kelulusan

Akhir-akhir ini publik dihebohkan dengan coretan-coretan pada seragam sekolah yang mengandung unsur pelecehan.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Fausta Yohanes Vianey Midaun, mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang 

Untuk memahami mengapa kebiasaan ini dianggap sebagai hal yang wajar, pemikiran Plato akan memberi kita sebuah jawaban yang relevan dalam menyelesaikan problem terkait aksi mencoret seragam sekolah ketika lulus sekolah, di mana bukan hanya mengotori seragam, tetapi juga menodai marwah sekolah sebagai institusi Pendidikan yang berkarakter dan bermoral.

Plato adalah seorang filsuf Yunani kuno yang hidup sekitar 427-327 SM. Plato adalah murid Sokrates dan guru dari Aristoteles. Ia dianggap sebagai salah satu filsuf Yunani kuno yang memiliki pengaruh dalam Sejarah filsafat Barat. 

Dalam suatu karya terkenalnya yang berjudul Republic, ia membahas suatu konsep alegori gua (Allegory of the cave). Dalam konsep tersebut Plato menggambarkan bagaimana keadaan sekelompok orang yang terikat dalam sebuah gua dan sebuah api di belakang mereka. 

Di mana sekelompok manusia itu hanya melihat bayangan-bayangan benda terpantul pada dinding gua di depan mereka, dan sekelompok manusia itu mengira bahwa bayangan itu adalah kenyataan. 

Namun pada suatu hari seorang manusia dari kelompok tersebut berhasil keluar dari gua, kemudian ia melihat dunia luar seperti pohon, matahari, dan benda-benda nyata lainnya.

Kemudian ia Kembali ke dalam gua untuk menceritakan kepada yang lain, tetapi mereka bersih tegas menolak untuk percaya karena telah merasa nyaman dengan bayangan yang sering mereka lihat dalam gua. 

Metafora ini menggambarkan bagaimana manusia yang masih terbelenggu dalam sebuah ketidaktahuan, hanya melihat ilusi sebagai suatu realitas. 

Jika ditarik ke konteks kelulusan, alegori ini memperlihatkan bahwa aksi mencoret baju seragam sekolah ketika merayakan kelulusan dianggap sebagai hal yang wajar oleh para siswa siswi sebab merupakan bentuk ekspresi mereka selepas mengenyam bangku Pendidikan yang cukup lama. 

Namun tak disadari, bahwa ada nilai yang mereka nodai dengan coretan cat air dan spidol diseragam mereka. Dalam pandangan plato mereka ini termasuk dalam golongan sekelompok manusia yang sedang terjebak di dalam gua. 

Di mana mereka para siswa-siswi terjebak dalam ilusi euforia kelulusan dengan coretan-coretan pada seragam mereka, padahal mereka sedang mengalami suatu kemerosotan moral dengan aksi kesenangan sesaat. 

Banyak siswa-siswi melakukan aksi ini tanpa sadar sebagai suatu tradisi turun-temurun. Namun tidak bertanya dalam diri, apakah hal ini adalah bentuk kebebasan yang sehat?

Maka dari Plato para siswa-siswi diajak untuk segera mencari jalan keluar dari ‘gua’ ini. Ada sebuah kebenaran yang berada di luar sana. Dalam usaha menghentikan tradisi ini perlu ada seorang ‘manusia’ dalam alegori Plato untuk mengatakan bahwa aksi adalah suatu tindakan yang salah dan menyimpang dari kebenaran moral sekolah.   

Jika tradisi ini telah mengakar secara kolektif, perubahan tidak cukup hanya lewat teguran individual, melainkan dibutuhkan intervensi sistem melalui kebijakan Pendidikan. 

Diperlukan bantuan eksternal dari pemerintah pusat melalui dinas pendidikan membuat suatu regulasi dalam sistem sekolah-sekolah mengenai aksi merayakan kelulusan diganti dengan hal-hal lain yang bermakna tanpa harus menimbulkan penyimpangan moral: misalnya; mengganti aksi coret-coret seragam dengan aksi membasuh kaki orang tua oleh siswa-siswi sebagai bentuk penghormatan kepada mereka atas usaha dan pengorbanan dalam membiayai sekolah mereka. 

Bentuk aksi sehat yang berikut adalah dengan menanam pohon disekitar halaman sekolah dengan begitu membantu penghijauan sekolah. Maka dengan begitu para siswa-siswi berhasil menunjukkan bahwa tidak ada usaha yang sia-sia oleh sekolah sebagai institusi Pendidikan dalam membentuk karakter dan moral para siswa-siswi.

Kelulusan seharusnya menandai kedewasaan dalam berpikir, bukan sekedar pelampiasan euforia sesaat. Keluar dari gua berarti berani meninggalkan tradisi yang kosong makna.   

Sehingga siswa-siswi NTT dapat menunjukkan kualitas diri mereka dan keberhasilan sistem sekolah yang membawa dampak positif bagi NTT dan teladan bagi daerah lain. (*)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved