Kamis, 14 Mei 2026

Opini

Opini - Galileo Galilei dan Krisis Kebenaran di Tengah Dunia Digital

Tentu kita semua mengenal sosok Galileo Galilei sebagai salah satu ilmuwan besar dalam sejarah dunia.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Irenius Castanheira Bere 

Ada video tokoh publik yang terlihat sedang berbicara atau memberikan pernyataan tertentu, padahal sebenarnya video itu hasil manipulasi teknologi.

Situasi seperti ini sebenarnya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kisah Galileo Galilei. Pada zaman Galileo, masyarakat terlalu percaya pada pandangan lama yang sudah dianggap mutlak.

Teori geosentris yang mengatakan bumi adalah pusat alam semesta diterima sebagai kebenaran tanpa banyak dipertanyakan. 

Pandangan ini berasal dari pemikiran dan diperkuat oleh astronom . Selain itu, beberapa tokoh Gereja juga mendukung pandangan tersebut karena dianggap sesuai dengan penafsiran Kitab Suci.

Galileo mencoba membuktikan bahwa pandangan itu tidak sepenuhnya benar. Ia menyempurnakan teleskop lalu mengamati langit secara langsung. 

Dari penelitiannya, Galileo menemukan bahwa bulan memiliki kawah dan gunung, matahari memiliki bintik-bintik, serta Jupiter memiliki empat satelit yang mengelilinginya.

Penemuan lain yang paling penting adalah fase Venus yang menunjukkan bahwa Venus bergerak mengelilingi matahari. Semua penemuan itu menjadi bukti kuat bahwa bumi bukan pusat alam semesta.

Namun penemuan Galileo justru ditolak oleh banyak pihak. Ia dianggap melawan ajaran Gereja dan merusak keyakinan masyarakat.

Konflik terbesar terjadi pada masa Paus ketika Galileo diadili oleh Inkuisisi Gereja pada tahun 1633 dan dipaksa menarik kembali pendapatnya. 

Dari kisah ini terlihat bahwa manusia sering kali takut menerima kebenaran baru. Banyak orang lebih nyaman mempertahankan keyakinan lama daripada menerima fakta yang berbeda. Di sinilah muncul apa yang disebut dogma. 

Dogma adalah ajaran atau keyakinan yang diterima sebagai kebenaran tetap dan tidak boleh dipertanyakan. Dalam agama, dogma sebenarnya memiliki tujuan baik untuk menjaga iman.

Namun ketika manusia terlalu fanatik dan menolak fakta, dogma dapat berubah menjadi penghalang bagi perkembangan pengetahuan.

Hal yang mirip ternyata masih terjadi di era digital sekarang. Bedanya, jika dahulu manusia terlalu percaya pada otoritas dan tradisi, hari ini manusia terlalu mudah percaya pada media sosial dan informasi viral. 

Banyak orang langsung percaya pada suatu berita hanya 
karena banyak dibagikan atau sesuai dengan pendapat kelompoknya. Akibatnya, hoaks dan 
kebohongan menyebar sangat cepat. 

Krisis kebenaran di tengah dunia digital membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir kritis. Orang lebih mudah terpancing emosi daripada memeriksa fakta secara rasional.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved