Senin, 11 Mei 2026

Opini

Opini: Lapangan Kerja di Antara Data dan Denyut Kehidupan

Di tengah suasana itu, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis: tingkat pengangguran terbuka (TPT) Indonesia kembali menurun. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI DIAN SASKIA BANI
Dian Saskia Bani 

Secara nasional, sektor pertanian menjadi penyerap tenaga kerja terbesar pada awal tahun 2026, yakni 28,78 persen dari seluruh penduduk bekerja. 

Ketika tenaga kerja mayoritas terserap pada sektor dengan produktivitas rendah, perlindungan pekerja terbatas, dan pendapatan kecil, maka orang hanya terlihat "bekerja" secara statistik, tetapi penghasilan yang rendah dan ketidakpastian karier di masa depan menyulitkan masyarakat untuk membangun hidup sejahtera.

Di tengah situasi tersebut, dunia kerja sebenarnya sedang mengalami transformasi. 

Perkembangan teknologi digital membuka ruang baru dalam aktivitas ekonomi. 

Profesi seperti ojek online, virtual assistant, content creator, digital marketer, hingga tenaga ahli kecerdasan buatan mulai menjadi bagian dari lanskap ekonomi modern. 

Ruang kerja tidak lagi selalu berbentuk fisik, dan pasar tidak lagi terbatas secara geografis. 

Orang dapat bekerja kapan saja dan dari mana saja. Bagi sebagian angkatan kerja, ini bahkan menjadi peluang untuk beralih dari pencari kerja menjadi pencipta kerja.

Namun peluang ini tidak datang tanpa tantangan. Kunci utama dalam memasuki ekonomi digital adalah literasi dan kemampuan adaptasi terhadap teknologi. Tidak semua tenaga kerja memiliki akses dan keterampilan yang memadai. 

Kesenjangan digital masih menjadi persoalan nyata, terutama di wilayah kepulauan seperti NTT yang menghadapi keterbatasan infrastruktur. 

Tanpa intervensi yang tepat, transformasi digital berisiko memperlebar ketimpangan.

Di Nusa Tenggara Timur (NTT), persoalan tenaga kerja terasa lebih kompleks. Di satu sisi, angkatan kerja terus bertambah, tetapi di sisi lain, penciptaan lapangan kerja formal belum mampu mengimbangi laju tersebut. 

Akibatnya, banyak masyarakat yang akhirnya masuk ke sektor informal atau bekerja dengan produktivitas dan pendapatan yang relatif rendah, seperti pada sektor pertanian. 

Meski sebagian anak muda mulai memanfaatkan media sosial, platform digital, hingga kecerdasan buatan untuk mencaripenghasilan, pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha masih terasa jauh dari geliat ekonomi NTT secara umum.

Dalam konteks ini, pertanyaan tentang ketenagakerjaan perlu diperluas. Bukan hanya tentang jumlah lapangan kerja, tetapi juga kesiapan tenaga kerja menghadapi perubahan struktur ekonomi. 

Seberapa jauh pelaku usaha memanfaatkan teknologi, dan sejauh mana negara perlu mempersiapkan masyarakatnya untuk beradaptasi.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved