Kamis, 30 April 2026

Opini

Opini: NTT- Adat, Ibu Nifas dan Nyawa yang Dipertaruhkan

Data nasional menunjukkan bahwa masa nifas adalah periode paling rawan dalam siklus reproduksi perempuan. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YOHANES DION
Yohanes Dion 

Oleh: Ns. Yohanes Dion, S.Kep.,M.Kes.
Departemen Kesehatan Keluarga dan Komunitas Universitas Citra Bangsa Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Tulisan ini merupakan ringkasan dari penelitian yang saya lakukan pada tahun 2025 tentang tradisi dalam perawatan pada masa nifas

Di Nusa Tenggara Timur ( NTT), melahirkan bukan sekadar peristiwa biologis, namun sudah menjadi peristiwa budaya, spiritual, dan sosial. 

Di balik kekayaan nilai itu, ada pertanyaan yang harus kita jawab dengan jujur: apakah semua praktik masa nifas masih aman bagi ibu dan bayi hari ini?

Data nasional menunjukkan bahwa masa nifas adalah periode paling rawan dalam siklus reproduksi perempuan. 

Baca juga: Opini: Ketika Gembala Tidak Lagi Membalut Luka

Perdarahan, infeksi, hipertensi pascapersalinan, dan masalah laktasi masih menjadi penyebab utama kematian ibu. 

Di NTT, angka kematian ibu dan bayi secara historis masih berada di atas rata-rata nasional. 

Artinya, setiap hambatan terhadap akses layanan kesehatan pada masa nifas bukan sekadar persoalan budaya tetapi persoalan nyawa.

Dalam sejumlah komunitas, ibu nifas menjalani masa pemulihan selama 40 hari dengan berbagai pembatasan: tidak keluar rumah, tidak mandi seperti biasa, serta pantangan makanan tertentu. 

Bagi masyarakat, ini adalah bentuk perlindungan fisik maupun spiritual. Tradisi memberi rasa aman, dukungan keluarga, dan legitimasi sosial. Itu tidak bisa kita abaikan.

Persoalannya muncul ketika pembatasan tersebut membuat ibu enggan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Ketika keluarga takut dicap “melanggar adat” jika membawa ibu ke puskesmas. 

Ketika dukun lebih dipercaya daripada bidan karena kedekatan emosional dan legitimasi budaya. Di titik inilah adat dan medis seperti berdiri di dua kutub yang berlawanan.

Kita tidak bisa menyederhanakan masalah ini dengan menyalahkan masyarakat. Jika ibu lebih memilih dukun, mungkin bukan karena menolak medis, tetapi karena sistem kesehatan belum cukup dekat secara budaya. 

Jika keluarga takut stigma, itu menunjukkan kuatnya kontrol sosial komunitas, sesuatu yang justru bisa menjadi kekuatan jika dikelola dengan tepat.

Masalah terbesar kita bukan pada budaya, tetapi pada pendekatan kebijakan yang sering kaku dan seragam. 

Program kesehatan datang dengan bahasa teknis, poster formal, dan penyuluhan satu arah. 

Sementara masyarakat hidup dalam narasi, simbol, dan relasi sosial yang kuat. Akibatnya, pesan kesehatan tidak sepenuhnya membumi.

Hemat saya, yang dibutuhkan sekarang adalah bukan penghapusan tradisi, tetapi negosiasi budaya cerdas. 

Larangan mandi yang berisiko infeksi bisa diadaptasi menjadi mandi air hangat yang tetap sesuai nilai local bukan memakai air panas. 

Pantangan makan bisa dikemas ulang dengan memasukkan sumber protein dan zat besi melalui suplemen tanpa menabrak keyakinan budaya. Pemeriksaan nifas bisa dilakukan melalui kunjungan rumah tanpa melanggar norma isolasi.

Lebih penting lagi, dukun, tokoh adat, dan gereja tidak boleh diposisikan sebagai pesaing tenaga kesehatan. Mereka adalah “penjaga makna” dalam masyarakat. 

Jika mereka dilibatkan sebagai mitra edukasi, resistensi akan jauh berkurang. Dialog budaya jauh lebih efektif daripada pendekatan instruktif.

Kita juga harus berani mengatakan bahwa tidak semua praktik lama layak dipertahankan jika terbukti membahayakan. Menghormati budaya tidak berarti membiarkan risiko. 

Budaya bersifat dinamis; ia bisa bertransformasi tanpa kehilangan identitas. Justru dengan dialog, tradisi dapat berkembang menjadi lebih aman dan relevan. Kesehatan ibu nifas adalah cermin kualitas kemanusiaan kita. 

Jika seorang ibu harus memilih antara patuh adat atau mencari pertolongan medis, maka yang salah bukan ibunya, tetapi sistem yang gagal menjembatani keduanya.

NTT tidak kekurangan nilai budaya. Yang kita butuhkan adalah keberanian kebijakan yang sensitif atau peka budaya dan sistem kesehatan yang rendah hati untuk belajar dari masyarakat. 

Karena pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan sekadar adat atau modernitas, melainkan keselamatan ibu dan masa depan generasi berikutnya. (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved