Kamis, 30 April 2026

Opini

Opini: NTT- Adat, Ibu Nifas dan Nyawa yang Dipertaruhkan

Data nasional menunjukkan bahwa masa nifas adalah periode paling rawan dalam siklus reproduksi perempuan. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YOHANES DION
Yohanes Dion 

Program kesehatan datang dengan bahasa teknis, poster formal, dan penyuluhan satu arah. 

Sementara masyarakat hidup dalam narasi, simbol, dan relasi sosial yang kuat. Akibatnya, pesan kesehatan tidak sepenuhnya membumi.

Hemat saya, yang dibutuhkan sekarang adalah bukan penghapusan tradisi, tetapi negosiasi budaya cerdas. 

Larangan mandi yang berisiko infeksi bisa diadaptasi menjadi mandi air hangat yang tetap sesuai nilai local bukan memakai air panas. 

Pantangan makan bisa dikemas ulang dengan memasukkan sumber protein dan zat besi melalui suplemen tanpa menabrak keyakinan budaya. Pemeriksaan nifas bisa dilakukan melalui kunjungan rumah tanpa melanggar norma isolasi.

Lebih penting lagi, dukun, tokoh adat, dan gereja tidak boleh diposisikan sebagai pesaing tenaga kesehatan. Mereka adalah “penjaga makna” dalam masyarakat. 

Jika mereka dilibatkan sebagai mitra edukasi, resistensi akan jauh berkurang. Dialog budaya jauh lebih efektif daripada pendekatan instruktif.

Kita juga harus berani mengatakan bahwa tidak semua praktik lama layak dipertahankan jika terbukti membahayakan. Menghormati budaya tidak berarti membiarkan risiko. 

Budaya bersifat dinamis; ia bisa bertransformasi tanpa kehilangan identitas. Justru dengan dialog, tradisi dapat berkembang menjadi lebih aman dan relevan. Kesehatan ibu nifas adalah cermin kualitas kemanusiaan kita. 

Jika seorang ibu harus memilih antara patuh adat atau mencari pertolongan medis, maka yang salah bukan ibunya, tetapi sistem yang gagal menjembatani keduanya.

NTT tidak kekurangan nilai budaya. Yang kita butuhkan adalah keberanian kebijakan yang sensitif atau peka budaya dan sistem kesehatan yang rendah hati untuk belajar dari masyarakat. 

Karena pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan sekadar adat atau modernitas, melainkan keselamatan ibu dan masa depan generasi berikutnya. (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved