Opini
Opini: Ketika Gembala Tidak Lagi Membalut Luka
Ketertinggalan tidak hanya lahir dari keterbatasan geografis atau jarak dari pusat kekuasaan, tetapi juga dari cara kekuasaan bekerja.
Membaca Yehezkiel 34 di Tengah Realitas Daerah Tertinggal di Nusa Tenggara Timur
Oleh: Yorim Yosavat Kause
Pendeta GMIT di Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT.
POS-KUPANG.COM - Di Kobekaka-Enoneten, Kecamatan Amanuban Selatan-TTS, seorang lansia menjalani hidup di tengah jarak yang panjang dari layanan dasar yang seharusnya dekat.
Ketika tubuh melemah dan sakit datang, akses kesehatan bukan sesuatu yang mudah dijangkau. Jalan yang rusak dan keterbatasan kendaraan membuat perjalanan menuju pertolongan menjadi berat, lambat, dan tidak selalu pasti.
Air bersih juga menjadi persoalan yang terus membentuk ritme hidup warga. Karena itu, musim hujan tidak hanya disambut sebagai perubahan cuaca, tetapi sebagai musim sukacita, sebab air hujan menjadi penopang utama untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Baca juga: Opini: Oko Mama Rohani- Sebuah Wadah Sebelum Obat
Di tempat seperti itu, hujan bukan sekadar peristiwa alam, melainkan tanda bahwa kehidupan untuk sementara bisa bernapas lebih lega.
Apa yang dialami lansia di Kobekaka-Enoneten bukan peristiwa tunggal. Ia adalah gambaran tentang bagaimana sistem sering bekerja terlalu jauh dari kehidupan yang seharusnya dilayaninya.
Di ruang-ruang seperti ini, ketertinggalan tidak terasa sebagai istilah kebijakan, tetapi sebagai pengalaman harian yang melelahkan.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang daerah tertinggal, kita tidak sedang berbicara tentang statistik semata, tetapi tentang manusia yang hidup dalam jarak yang terlalu jauh dari pelayanan yang seharusnya mendekat.
Secara kebijakan, daerah tertinggal dipahami sebagai wilayah yang masyarakatnya kurang berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala nasional, yang ditandai oleh rendahnya kualitas pembangunan, keterbatasan infrastruktur, lemahnya akses layanan dasar, serta tingginya kemiskinan (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2021).
Definisi ini penting, tetapi tidak cukup. Ia menjelaskan kondisi, tetapi belum menyentuh akar persoalan.
Ketertinggalan tidak hanya lahir dari keterbatasan geografis atau jarak dari pusat kekuasaan, tetapi juga dari cara kekuasaan itu sendiri bekerja.
Dalam banyak kasus, ia adalah tanda bahwa kepemimpinan gagal menerjemahkan mandatnya menjadi perlindungan, pelayanan dan pemulihan yang nyata.
Negara tidak sepenuhnya absen. Program pembangunan tetap berjalan, bantuan tetap dicatat dalam laporan dan berbagai strategi terus dirumuskan.
Bappenas bahkan menegaskan bahwa percepatan pembangunan daerah tertinggal membutuhkan langkah yang menyentuh berbagai aspek, mulai dari percepatan infrastruktur, transformasi ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, reformasi birokrasi, hingga penguatan investasi dan pemasaran (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2020; n.d.).
Artinya, peta jalan sebenarnya sudah tersedia. Kita tahu apa yang harus dilakukan. Kita memiliki dokumen yang menjelaskan arah.
Namun di titik yang paling sunyi, yang sering hadir lebih dulu bukan pertolongan, melainkan laporan. Semakin banyak dokumen disusun, semakin jauh kehidupan warga dari perubahan yang dijanjikan.
Di titik ini, kepemimpinan tidak lagi bisa diukur dari jumlah program atau banyaknya rapat yang diselenggarakan, tetapi diuji dari sesuatu yang lebih mendasar, yaitu apakah ada yang datang ketika hidup mulai retak. Yang sering datang lebih dulu adalah program, bukan kehadiran.
Kita sebenarnya tidak kekurangan pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan, tetapi sering kali kekurangan keberanian untuk melakukannya.
Pertanyaan yang tersisa menjadi sangat jujur dan tidak nyaman: apakah kita sedang dipimpin, atau sebenarnya sedang dibiarkan bertahan hidup sendiri.
Dalam Kitab Yehezkiel pasal 34, kritik terhadap para pemimpin tidak dimulai dari pelanggaran hukum atau kegagalan administratif. Kritik itu jauh lebih dalam, karena menyentuh inti panggilan kepemimpinan.
Para gembala ditegur karena menggembalakan diri sendiri. Mereka menikmati hasil kawanan, tetapi gagal merawat yang sakit, membalut yang luka, mencari yang hilang dan melindungi yang lemah.
Dalam pembacaan etis, motif gembala dalam Yehezkiel 34 menjadi kritik terhadap kepemimpinan yang kehilangan tanggung jawab moral atas kehidupan umat (Augustine, 2025; Theology of Work Project, 2012).
Teks ini tidak hanya berbicara kepada ruang ibadah, tetapi juga kepada ruang publik, karena ia menyentuh relasi antara kekuasaan dan kehidupan.
Jika diterjemahkan ke dalam bahasa pemerintahan, maka menuntun ke padang rumput berarti memastikan akses ekonomi yang layak, membawa ke air berarti menghadirkan layanan dasar yang manusiawi dan membalut luka berarti menjadikan negara sebagai pemulih, bukan sekadar pengatur.
Dalam kerangka ini, kepemimpinan tidak boleh berhenti pada stabilitas administratif, tetapi harus bergerak menuju pemulihan kehidupan.
Karena itu, kepemimpinan yang tidak memulihkan, betapapun legal dan formalnya, kehilangan inti moralnya. Masalahnya, banyak kepemimpinan tidak runtuh karena melanggar hukum, tetapi karena kehilangan kepekaan.
Ia tetap berjalan, tetap terlihat bekerja, tetapi tidak lagi menyentuh kehidupan yang paling membutuhkan. Di sinilah muncul bentuk kegagalan yang sering tidak disadari, yaitu pembiaran.
Pemerintah tidak secara terbuka menolak kebutuhan rakyat, tetapi juga tidak bertindak cukup cepat, cukup serius dan cukup konsisten untuk mengubah keadaan.
Dalam konteks pelayanan publik, kondisi ini sering berkaitan dengan lemahnya standar kualitas layanan di daerah tertinggal (Ombudsman Republik Indonesia, 2019). Yang terlihat di atas kertas adalah program, tetapi yang dirasakan di bawah adalah penundaan.
Di banyak wilayah NTT, pembiaran ini bukan cerita yang jauh. Ia hadir dalam jalan yang rusak terlalu lama, dalam sekolah yang berjalan tanpa guru tetap, dalam layanan kesehatan yang sulit dijangkau dan dalam ekonomi rakyat yang tidak pernah benar-benar terhubung dengan pasar yang adil.
Ketimpangan pembangunan antarpulau juga menunjukkan bahwa wilayah timur Indonesia masih menghadapi tekanan kemiskinan dan keterbatasan akses yang signifikan (GoodStats, 2025).
Semua ini bukan sekadar kekurangan teknis, tetapi pola yang terus berulang. Dalam bahasa iman, ini bukan hanya kelemahan sistem, tetapi kegagalan etis.
Karena setiap keterlambatan adalah perpanjangan luka dan setiap ketidakseriusan adalah bentuk pembiaran yang bekerja diam-diam, tanpa suara, tetapi merusak kehidupan dari hari ke hari.
Di sinilah pentingnya memulihkan kembali makna kepemimpinan sebagai tindakan menggembalakan. Kepemimpinan tidak boleh berhenti pada pengaturan, tetapi harus bergerak menuju pemulihan.
Ia harus hadir di titik luka, menjangkau yang terpinggirkan, mengorganisasi potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi, menata birokrasi sebagai jembatan dan bekerja dengan integritas.
Tanpa itu, semua strategi pembangunan hanya akan menjadi rencana yang tidak pernah benar-benar tiba. Kita mungkin memiliki kebijakan yang benar, tetapi tanpa keberpihakan yang nyata, kebenaran itu tidak pernah menyentuh kehidupan.
Puncak dari Yehezkiel 34 justru datang dalam bentuk yang mengejutkan. Ketika para gembala gagal menjalankan tanggung jawabnya, Tuhan sendiri menyatakan bahwa Ia akan turun menjadi gembala bagi umat-Nya.
Pernyataan ini bukan hanya penghiburan, tetapi juga penghakiman. Ia menunjukkan bahwa legitimasi kepemimpinan tidak pernah bersumber dari jabatan, tetapi dari kesediaan untuk memulihkan kehidupan.
Ketika pemimpin tidak lagi hadir, maka kehadirannya kehilangan makna. Ketika kuasa tidak lagi menyembuhkan, maka kuasa itu kehilangan alasan untuk dipertahankan.
Di NTT hari ini, orang tidak sedang menunggu teori kepemimpinan yang lebih canggih. Mereka tidak membutuhkan bahasa yang semakin kompleks. Mereka hanya menunggu siapa yang benar-benar datang. Mereka tidak menuntut banyak.
Mereka hanya ingin air yang bisa dijangkau, layanan yang bisa diakses dan kebijakan yang benar-benar terasa sebagai pertolongan, bukan sekadar janji yang diulang.
Dan selama lansia di Kobekaka-Enoneten masih harus bertahan di tengah sulitnya akses kesehatan, rusaknya jalan, dan terbatasnya air bersih, semua teori kepemimpinan kita sebenarnya belum selesai.
Selama hujan masih menjadi satu-satunya alasan utama untuk bersukacita karena kebutuhan air tercukupi, kita sedang berhadapan dengan kenyataan bahwa kebijakan belum sungguh-sungguh menjangkau kehidupan.
Selama jarak antara kebijakan dan pengalaman warga masih sejauh itu, maka kita belum benar-benar memahami apa arti memimpin.
Jika luka itu tetap ada, jika kehidupan tetap berjalan dalam keterbatasan yang sama, maka persoalannya bukan lagi pada kurangnya program atau terbatasnya anggaran. Mungkin persoalannya lebih sederhana dan lebih menyakitkan.
Kita tidak kekurangan pengetahuan. Kita tidak kekurangan rencana. Kita hanya terlalu sering kehilangan keberanian untuk hadir.
Kita tidak kekurangan pemimpin.
Kita hanya terlalu sering kehilangan gembala. (*)
Daftar Rujukan
- Alkitab. (2023). Alkitab Terjemahan Baru 2. Lembaga Alkitab Indonesia.
- Augustine, M. (2025). The shepherd motif in Ezekiel 34:1--16: An exegetical analysis and its ethical perspectives. Dharmaram Publications.
- Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. (2020, 9 Mei). Menteri Suharso jabarkan strategi Bappenas untuk percepatan pembangunan 62 daerah tertinggal. https://www.bappenas.go.id
- Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. (2021). Penetapan daerah tertinggal dan daerah tertinggal entas (DTE).
- Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. (n.d.). Strategi kolaborasi untuk dorong pembangunan daerah tertinggal, kawasan perbatasan, perdesaan dan transmigrasi.
- GoodStats. (2025). Ketimpangan kemiskinan antarpulau di Indonesia 2025.
- Ombudsman Republik Indonesia. (2019, 11 Desember). Pemerintah tak punya standar kualitas pelayanan publik daerah tertinggal. https://ombudsman.go.id
- Project, T. O. W. (2012). Israel's failure of leadership (Ezekiel 34). https://www.theologyofwork.org.
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yorim-Yosavat-Kause.jpg)