Opini
Opini: Dimensi Spiritual Ekowisata
Usaha mencari makna terdalam berupa nilai transeden itu dapat ditempuh juga melalui wisata spiritual agama, wisata spiritual budaya.
Nilai spiritual ODTW budaya dan alam itu umumnya berdasarkan pada narasi-narasi mitos, legenda atau cerita tradisional yang dihayati rakyat setempat di banyak daerah di NTT.
Ini merupakan kekayaan rohani kearifan lokal yang mestinya tetap dijaga dan dilestarikan dalam tantangan dunia sekular dari kemajuan teknologi, informasi dan komunikasi dewasa ini.
Dalam narasi legenda seperti inilah terkandung kekuatan daya tarik wisata spiritual suatu destinasi.
Inilah tipe wisata storynomic tourism, yang mengedepankan kisah dan nilai lebih dari apa yang kasat mata pada satu obyek atau daya tarik wisata.
“Dalam perspektif ini, narasi atau cerita memikatlah yang menjadi kekuatan pariwisata. egenda, kearifan, dan nilai-nilai lokal dapat dipadu dengan sejarah atau informasi ilmiah lain yang memberikan cara pandang baru bagi wisatawan dalam melihat sebuah destinasi wisata” ( Nirwandar & Teguh, 2020. p,240-241).
Ketiga dimensi wisata spiritual tersebut di atas perlu mendapat perhatian sewajarnya dalam pengelolaan dan promosi pariwisata agar pariwisata tidak hanya mengenai hal lahiriah.
Ekowisata vs Wisata konvensional
Pembangunan ekowisata itu berhubungan dengan tindakan koservasi dan tindakan ini tidak hanya menyangkut konservasi unsur tangible yang tampak pada alam dan budaya dan agama tapi juga termasuk konservasi unsur intangible yang tidak kasat mata yakni nilai spiritual yang melekat padanya.
Dua aspek konservasi itu mengandung nilai “care” yakni peduli dan kasih
terhadap nilai spiritual pada alam, budaya dan agama yang umumnya masih dihayati dalam kearifan lokal masyarakat desa(Aman Peter C,ed.2013. p.155-174).
Ekowisata dengan tujuan koservasi lebih mengutamakan pariwisata berkelanjutan atau sustainable tourism.
Pariwisata konvensional lebih mengutamakan pertumbuhan yang berbasis pada kekuatan modal atau kapital untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dalam usaha bisnis kepariwisataan didukung kekuatan teknologi, komunikasi, informasi dan tranportasi dan sering bercorak masal.
Pengembangan pariwisata konvensional kapitalistik sering disertai dengan tindakan eksploitasi, komersialisasi, kontaminasi terhadap alam, budaya, kearifan lokal dan agama serta perebutan lahan tanah yang luas terutama di wilayah pedesaan termasuk lahan tanah situs sejarah dan situs situs sakral.
Pariwisata konvensional dan masal cederung menjadi ancaman terhadap sustainable tourism yang mengutamakan tindakan konservsi alam, budaya, kearifan lokal baik pada aspek tangible maupun intangible.
Marketing dan promosi
Ketiga dimensi spiritual itu perlu disosialisasikan melalui daya-daya marketing dan promosi.
Dalam dunia marketing industri pariwisata, kepercayaan para pelanggan atau wisatawan terhadap suatu destinasi dan pelayanannya dapat terbentuk dalam promosi melalui faktor 4 F yakni friends (teman), families (keluarga), fans (Facebook) dan follower (pengikut Twitter) lebih dari pada iklan dan pendapat pakar ( Kotler Philip cs, 2019,p.11).
Selain itu, para pemandu wisata perlu menyuarakan narasi spiritual alam, budaya dan agama itu tatkala mereka mendampingi para wisatawan.
| Opini: Digitalisasi Pendidikan, Artificial Intelligence dan Cognitive Debt |
|
|---|
| Opini: Paradigma Baru Hukum Pidana untuk Lindungi Insinyur dan Marwah APH dari Rekayasa Kasus |
|
|---|
| Opini: Moke - Antara Warisan Budaya, Ekonomi Rakyat dan Negara yang Gamang |
|
|---|
| Opini: Kebebasan Pers dan Siapa yang Berhak Menamai Kebenaran? |
|
|---|
| Opini: Ilusi PAD dan Distorsi Akuntabilitas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Albert-Novena.jpg)