Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Tantangan Kesempatan dalam Kesempitan bagi OVOP

Di sinilah titik krusialnya. Jika tujuan OVOP adalah menghasilkan nilai tambah, maka kebijakan harus berani fokus.

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI JERMI HANING
Jermi Haning 

Rasionalitas Orang Miskin dan Kegagalan Kebijakan Publik dalam Mengelola Pasar (1)

Oleh: Jermi Haning
Warga Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Ada satu pola yang terus berulang dalam kehidupan orang miskin yaiu ketika kesempatan datang, mereka bergerak cepat, mengambil sebanyak mungkin, dan memaksimalkan manfaat dalam waktu singkat. 

Pola ini sering dibaca sebagai perilaku oportunistik. Namun jika ditelusuri lebih dalam, ia justru merupakan bentuk rasionalitas yang lahir dari tekanan hidup yang nyata. 

Dalam konteks ini, “kesempatan” bukan sesuatu yang rutin, melainkan sesuatu yang langka, mahal, dan sering kali tidak datang dua kali.

Baca juga: Opini: Ketika SOP Lebih Penting Daripada Martabat Manusia

Abhijit V. Banerjee dan Esther Duflo dalam Poor Economics: A Radical Rethinking of the Way to Fight Global Poverty (2011) menunjukkan bahwa dalam kondisi ketidakpastian tinggi, orientasi pada hari ini adalah pilihan yang masuk akal. 

Pendapatan yang tidak stabil dan risiko yang besar membuat masa depan menjadi terlalu jauh untuk dijadikan pijakan keputusan. Dalam kondisi seperti ini, menunda konsumsi demi investasi jangka panjang bukanlah pilihan rasional, melainkan kemewahan yang tidak semua orang miliki. 

Bahkan, dalam banyak situasi, keputusan jangka pendek justru merupakan bentuk optimasi terbaik dalam keterbatasan ekstrem.

Hal ini diperkuat oleh konsep present bias dari Richard Thaler dalam Misbehaving: The Making of Behavioral Economics (2015). 

Dalam kemiskinan, preferensi terhadap manfaat langsung bukan sekadar bias psikologis, tetapi strategi bertahan hidup. Ketika kegagalan hari ini bisa berdampak langsung pada keberlangsungan hidup, maka masa depan menjadi sesuatu yang sekunder. 

Dengan kata lain, pilihan jangka pendek bukanlah irasionalitas, melainkan rasionalitas yang beroperasi dalam horizon waktu yang dipersempit oleh tekanan ekonomi.

Path Dependence: Belajar dari Pengalaman Masa Lalu

Rasionalitas ini tidak berdiri sendiri. Ia juga dibentuk oleh pengalaman masa lalu melalui mekanisme path dependence. Berbagai program bantuan pemerintah—mulai dari IDT, DEMAM, hingga TJPS — telah meninggalkan jejak sosial yang kuat dalam cara masyarakat membaca kebijakan.

Secara formal, program-program tersebut sering disertai dengan kewajiban, mekanisme pengembalian, atau tujuan keberlanjutan. 

Namun dalam praktik, implementasi kerap menghadapi masalah klasik: lemahnya pengawasan, inkonsistensi penegakan aturan, dan minimnya akuntabilitas. Dalam banyak kasus, kewajiban tidak dipenuhi tanpa konsekuensi yang jelas.

Dari sini, masyarakat belajar. Mereka memahami bahwa:

• Aturan bisa longgar.

• Kewajiban tidak selalu ditegakkan.

• Bantuan adalah peluang yang harus dimanfaatkan saat tersedia.

Pengalaman ini membentuk ekspektasi kolektif. Maka ketika program baru seperti OVOP hadir, masyarakat tidak memulainya dari nol, tetapi dari memori sosial yang sudah terbentuk. 

Dalam konteks ini, perilaku “memaksimalkan kesempatan” bukan penyimpangan, melainkan respons terhadap sistem yang tidak konsisten.

Jaringan Sosial: Solidaritas, Tekanan, dan Tengkulak

Bryant L. Myers dalam Walking with the Poor (1999) menjelaskan bahwa jaringan sosial berfungsi sebagai “asuransi” utama dalam kondisi di mana negara dan pasar tidak sepenuhnya hadir. Pinjaman keluarga, solidaritas komunitas, dan relasi sosial menjadi mekanisme bertahan hidup.

Namun jaringan ini juga membawa tekanan: kewajiban membayar utang, membantu keluarga, hingga memenuhi tuntutan adat seperti belis.

Lebih kompleks lagi, jaringan ini mencakup relasi asimetris dengan tengkulak. Dalam banyak komunitas, tengkulak menyediakan akses likuiditas cepat melalui sistem ijon. 

Secara ekonomi merugikan, tetapi secara praktis menjadi satu-satunya pilihan.

Ketika bantuan atau peluang baru datang, manfaatnya sering tidak dinikmati sepenuhnya oleh penerima. Ia terserap untuk membayar utang lama atau memperpanjang ketergantungan. 

Ini menjelaskan mengapa banyak program tidak menghasilkan transformasi signifikan: manfaatnya tersebar dalam jaringan yang timpang.

Kegagalan Pasar: Kompetisi yang Semu

Secara teoritis, Adam Smith berbicara tentang invisible hand. Namun dalam praktik, pasar sering tidak bekerja secara ideal.

Joseph Stiglitz dalam The Price of Inequality (2012) menunjukkan bahwa ketimpangan informasi dan kekuatan pasar menciptakan hasil yang tidak adil. 

Struktur pasar terkonsentrasi, distribusi dikuasai pemain besar, dan pelaku kecil hanya bersaing di ruang sempit.

Dalam kondisi ini, kesempatan ekonomi tidak benar-benar setara. Ini bukan sekadar kegagalan kompetisi, tetapi kegagalan struktur.

Rasionalitas dalam Kesempatan Terbatas

Semua kondisi ini—ketidakpastian, path dependence, tekanan sosial, relasi tengkulak, dan kegagalan pasar—membentuk satu logika sederhana yakni ketika peluang muncul, ia harus dimanfaatkan secara maksimal.

Orang miskin tidak punya banyak kesempatan untuk mencoba dan gagal. Mereka tidak memiliki cadangan untuk menanggung risiko. Maka keputusan yang terlihat agresif sebenarnya adalah bentuk kehati-hatian dalam dunia yang tidak memberi ruang untuk kesalahan.

Tantangan Nyata bagi OVOP

OVOP masuk ke dalam realitas ini. Secara konsep kuat, tetapi dalam praktik menghadapi kompleksitas struktural.

Rasionalitas jangka pendek membuat masyarakat melihat OVOP sebagai peluang langsung, bukan investasi. Path dependence mengurangi kepercayaan. Jaringan sosial dan tengkulak menghambat akumulasi.Akibatnya, OVOP berisiko menjadi program sesaat.

Siklus Politik dan Kehampaan Pengetahuan

Program pembangunan juga terjebak dalam siklus politik lima tahunan. Ketika kepemimpinan berubah, program ikut berubah.

Masalahnya bukan hanya perubahan, tetapi hilangnya pembelajaran. Dokumentasi lemah, evaluasi tidak sistematis, dan pengetahuan tidak terakumulasi. Produk tidak sempat matang, pasar tidak terbentuk.

Pendekatan Supply-Based: Produksi Tanpa Pasar

Pendekatan yang dominan masih supply-based. Produksi didorong tanpa memahami permintaan.

Akibatnya, terjadi mismatch. Bantuan tidak selalu relevan, tetapi tetap diterima karena kesempatan dianggap langka. Ini memperkuat logika “kesempatan dalam kesempitan”.

Menuju Kebijakan yang Lebih Realistis

Di sinilah titik krusialnya. Jika tujuan OVOP adalah menghasilkan nilai tambah, maka kebijakan harus berani fokus.

Data stunting menjadi indikator penting. Jika angka stunting anak di wilayah seperti TTU mencapai sekitar 49 persen, maka sangat mungkin orang tua sebagai pelaku ekonomi berada dalam kondisi kerentanan serius, bahkan mendekati 70 persen.

Dalam kondisi seperti ini, tidak banyak yang bisa diharapkan dari mereka untuk melakukan investasi. Fokus utama mereka adalah subsisten.

Stunting bukan hanya soal fisik, tetapi juga berdampak pada perkembangan kognitif. Dalam banyak studi, anak dengan stunting kronis memiliki kapasitas belajar, pengambilan keputusan, dan produktivitas yang lebih terbatas. 

Ini bukan soal individu, tetapi soal kondisi struktural yang memengaruhi kemampuan ekonomi jangka panjang.

Karena itu, memaksakan mereka menjadi pelaku utama dalam skema nilai tambah seperti OVOP adalah pendekatan yang tidak realistis.

Mereka harus dipastikan menerima hak dasar seperti  BLT, JKN/Askes, KIP dan  intervensi gizi. Dan fokus pada pengelolaan faktor produksi untuk bertahan hidup.

Sebaliknya, OVOP harus diarahkan ke kelas menengah desa—kelompok yang memiliki ruang untuk tumbuh, mampu mengambil risiko terbatas, dan menjaga kualitas produksi.

Pendekatan ini sejalan dengan Amartya Sen (capabilities) dan Angus Deaton (pengurangan ketidakpastian sebagai prasyarat pembangunan).

Penutup

“Kesempatan dalam kesempitan” bukan masalah karakter, tetapi respons rasional terhadap sistem.

Jika OVOP ingin berhasil, maka yang harus diubah bukan hanya programnya, tetapi ekosistemnya: konsistensi kebijakan, akses pasar, dan perlindungan sosial.

Tanpa itu, peluang akan terus dimaksimalkan hari ini—karena besok belum tentu ada. Dan selama kebijakan masih supply-driven, distorsi akan terus berulang.
Solusinya jelas: melindungi yang rentan, dan mendorong yang siap tumbuh. (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved