Kamis, 23 April 2026

Opini

Opini: Dari Hormuz ke Selat Malaka

Mengapa Amerika begitu agresif di tahun 2026 ini? Jawabannya ada pada  psikologi sebuah imperium yang sedang menua. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI IRVAN KURNIAWAN
Irvan Kurniawan 

Kedua, volatilitas harga energi pasti terjadi. Jika sebuah kapal perang AS atau Tiongkok melakukan manuver provokatif di selat ini, harga minyak dunia dan bahan-bahan dasar akan bergejolak lebih hebat daripada krisis di Timur Tengah. 

Dari data dan analisis ini kita wajib menyadari bahwa Selat Malaka bukan sekadar jalur pelayaran. 

Ia adalah garis depan perang dingin baru. Tiongkok tidak akan diam melihat nadinya dijepit, dan Amerika tidak akan berhenti hingga hegemoni mereka aman.

Indonesia harus sadar bahwa posisi tengah tidak bisa selamanya dipertahankan jika tidak dibarengi dengan kekuatan dan keberanian untuk mendikte aturan di wilayah sendiri. 

Kita tidak boleh hanya menjadi pengelola atau penjaga pintu yang kuncinya dipegang orang lain.

Jika Prabowo tetap tidak memiliki nyali untuk mengendalikan Malaka agar tetap aman bagi kedua adidaya, maka jangan terkejut jika besok pagi, kita terbangun dan menyadari bahwa Selat Malaka telah menjadi titik api eskalasi perang besar berikutnya. Waspada! (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved