Opini
Opini: Dari Hormuz ke Selat Malaka
Mengapa Amerika begitu agresif di tahun 2026 ini? Jawabannya ada pada psikologi sebuah imperium yang sedang menua.
Namun, secara geografis dan matematis, tidak ada yang bisa menggantikan efisiensi Selat Malaka.
Ketergantungan ini membuat Beijing harus bereaksi terhadap setiap gerakan AS di Indonesia. Itulah sebabnya kemarin China peringatkan Indonesia soal Kesepakatan overflight clearance dengan AS.
Jubir menlu China bahkan mengingatkan Indonesia jangan merusak perdamaian dan setabilitas regional.
Jika Indonesia memberikan izin udara tersebut kepada AS, Tiongkok akan melihatnya sebagai pengkhianatan terhadap stabilitas kawasan.
Risiko eskalasi jangka panjangnya jelas. Malaka akan berubah dari zona perdagangan menjadi zona termiliterisasi yang penuh dengan kapal perang dan pesawat intai.
Posisi Indonesia
Di sinilah titik paling kritis bagi kita. Secara geografis, Indonesia adalah pemilik sah dari gerbang ini. Namun, jika kita bandingkan dengan Iran di Selat Hormuz, posisi Indonesia terlihat sangat kontras.
Iran, dengan segala keterbatasannya, memiliki "nyali" untuk menegaskan kedaulatannya di Hormuz. Mereka berani menantang armada kelima AS dan menetapkan aturan main di wilayahnya sendiri.
Sebaliknya, Indonesia seringkali terjebak dalam diplomasi "cari aman" yang menurut saya sebagai kurangnya ketegasan strategis.
Padahal, Malaka jauh lebih strategis dari Hormuz. Kita memegang kartu yang bisa menentukan masa depan dua negara adidaya.
Namun, hingga tulisan ini dibuat, Indonesia masih berada dalam posisi menimbang-nimbang proposal militer AS.
Ada kekhawatiran bahwa Indonesia hanya akan menjadi penonton di rumah sendiri, atau lebih buruk lagi malah menjadi medan tempur bagi dua gajah yang sedang berkelahi.
Strategi penyeimbangan yang dijalankan Prabowo mendekat ke AS untuk pertahanan sambil tetap berpegangan tangan dengan China untuk ekonomi adalah permainan yang sangat berbahaya di tengah suhu geopolitik yang mendidih. Satu langkah salah, dan kedaulatan kita bisa tergilas.
Menuju Eskalasi Baru: Apakah Malaka Selanjutnya?
Setelah Venezuela dijinakkan dengan sanksi dan penangkapan Maduro dan Iran dikepung dengan blokade, Selat Malaka adalah benteng terakhir yang harus dikuasai atau setidaknya dikendalikan oleh Amerika untuk memastikan Tiongkok tetap berada di tempatnya.
Kita sedang melihat pergeseran geopolitik Malaka menuju situasi yang sangat kompetitif. Dampaknya bagi perdagangan global tidak main-main.
Pertama, setiap ketegangan militer di Malaka akan membuat biaya pengiriman barang naik berkali-kali lipat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Irvan-Kurniawan.jpg)