Opini
Opini: Dari Hormuz ke Selat Malaka
Mengapa Amerika begitu agresif di tahun 2026 ini? Jawabannya ada pada psikologi sebuah imperium yang sedang menua.
Pertama, menurut UN Trade and Development (UNCTAD) 2025, volume perdagangan hampir 40 persen hingga 60 persen dari total nilai perdagangan dunia melewati selat ini.
Ini bukan hanya soal minyak, tapi soal mesin, elektronik, hingga gandum yang memberi makan miliaran orang.
Kedua, Malaka adalah nadi energi. Menurut Badan Informasi Energi AS (EIA), selat tersebut menangani sekitar 23,2 juta barel minyak per hari pada semester pertama tahun 2025, yang mewakili 29 persen dari total aliran minyak maritim global.
Sementara, aliran Gas Alam Cair sebesar kurang lebih 9,2 miliar kaki kubik per hari (setara dengan sekitar 260 juta meter kubik) bersumber dari rilis statistik EIA yang sama untuk periode 2025-2026.
Titik cekik Malaka ada di area Phillips, lebarnya hanya 2,8 kilometer. Bayangkan, ekonomi dunia yang bernilai triliunan dolar harus mengantre di sebuah lubang jarum yang begitu sempit.
Bagi Tiongkok, ini adalah mimpi buruk yang nyata. Pada 2003, Presiden China saat itu Hu Jintao mencetuskan istilah "dilema Malaka" untuk menggambarkan tingginya ketergantungan China terhadap jalur perairan tersebut.
Nah, jika Amerika berhasil mengendalikan Malaka, maka mesin ekonomi Tiongkok akan mati dalam hitungan bulan.
Psikologi Ketakutan AS
Mengapa Amerika begitu agresif di tahun 2026 ini? Jawabannya ada pada psikologi sebuah imperium yang sedang menua.
Tulisan saya di media ini berjudul “Mengapa Trump Seperti Ini” telah mengulas detail bagaimana psikologi AS.
Washington sedang mengalami ketakutan eksistensial. Hegemoni Dollar yang selama ini menjadi fondasi kekuatan mereka (Petrodollar) mulai digerogoti oleh aliansi BRICS dan sistem pembayaran Yuan di selat Hormuz. Iran mewajibkan kapal yang melintas bayar pakai Yuan.
Ketika kekuatan ekonomi mulai bergeser, Amerika kembali ke insting dasarnya: Kekuatan Militer.
Proposisi terbaru AS kepada Indonesia untuk mendapatkan izin militer menyeluruh di wilayah udara Nusantara pasca-kesepakatan pertahanan 30 April 2026 bukanlah sebuah kerja sama biasa.
Ini adalah upaya Amerika untuk menempatkan mata dan moncong senjatanya tepat di atas nadi Tiongkok.
Amerika ingin memastikan bahwa jika Tiongkok melampaui batas sensitif seperti isu Taiwan atau Laut China Selatan, maka Washington bisa melakukan blokade udara dan laut di Malaka secara instan. Ini adalah pesan kepada Beijing: "Kami memegang leher kalian."
Tiongkok memang mencoba membangun jalur alternatif melalui pipa minyak Myanmar, kereta api melintasi Pakistan (CPEC), hingga jalur sutra kutub di utara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Irvan-Kurniawan.jpg)