Opini
Opini: Dari Hormuz ke Selat Malaka
Mengapa Amerika begitu agresif di tahun 2026 ini? Jawabannya ada pada psikologi sebuah imperium yang sedang menua.
Oleh: Irvan Kurniawan
Youtuber yang meminati isu geopolitik dan geostrategi.
POS-KUPANG.COM - Dunia hari ini terpaku pada api yang berkobar di Selat Hormuz, setelah drama penangkapan Maduro di Venezuela.
Mata kita kini tertuju pada bagaimana Iran, dengan keberanian yang dianggap nekat, mencekik jalur minyak dunia dan membuat Washington meradang.
Saya sendiri melihat ketegangan ini dalam bingkai persaingan AS vs China. Ini jelas adalah upaya saling jegal dengan cara memotong jalur logistik.
Karena itu sangatlah mungkin di mata Pentagon, Hormuz adalah "gangguan" taktis ke China mengingat hampir 80-an persen impor minyak China berasal dari Iran.
Pertanyaan pentingnya adalah setelah Iran, ke mana eskalasi akan memanas?
Baca juga: Dua Kapal Pertamina Belum Bisa Melintasi Selat Hormuz
Saya melihat titik kronis yang akan menentukan siapa yang akan memimpin abad ke-21 ini sedang bergeser ke arah timur, menuju sebuah jalur perairan sempit yang membelah Nusantara. Itu adalah Selat Malaka.
Jika Hormuz adalah jantung energi, maka Malaka adalah "otak" dari sistem saraf logistik global.
Di sinilah letak titik paling rawan dalam anatomi kekuasaan dunia. Dan di tengah pusaran ini, Indonesia berdiri dengan kegamangan yang membahayakan.
Operasi Saling Jegal
Amerika Serikat tidak sedang berperang melawan Venezuela atau Iran secara acak. Jika kita melihat dengan kacamata yang lebih luas, sanksi terhadap Venezuela (disusul penguasaan minyak oleh AS) dan pengepungan terhadap Teheran adalah bagian dari satu grand strategi mencekik pasokan energi Tiongkok.
Tiongkok adalah raksasa manufaktur yang lapar. Untuk menggerakkan mesin-mesin pabriknya dan armada militernya, Beijing membutuhkan aliran minyak dan gas yang tak terputus.
Amerika sadar bahwa mereka tidak bisa mengalahkan Tiongkok dalam perang terbuka tanpa risiko kehancuran nuklir. Maka, modus yang dipilih adalah penjegalan jalur logistik.
Dengan melumpuhkan Venezuela dan mengunci Iran, Amerika secara perlahan mengurangi opsi sumber energi Tiongkok.
Kini, langkah pamungkas mereka adalah menguasai titik distribusi terakhir dan yang paling krusial yakni Selat Malaka.
Anatomi Selat Malaka
Pertanyaan pentingnya, mengapa Malaka lebih menakutkan bagi Tiongkok daripada Hormuz?
Pertama, menurut UN Trade and Development (UNCTAD) 2025, volume perdagangan hampir 40 persen hingga 60 persen dari total nilai perdagangan dunia melewati selat ini.
Ini bukan hanya soal minyak, tapi soal mesin, elektronik, hingga gandum yang memberi makan miliaran orang.
Kedua, Malaka adalah nadi energi. Menurut Badan Informasi Energi AS (EIA), selat tersebut menangani sekitar 23,2 juta barel minyak per hari pada semester pertama tahun 2025, yang mewakili 29 persen dari total aliran minyak maritim global.
Sementara, aliran Gas Alam Cair sebesar kurang lebih 9,2 miliar kaki kubik per hari (setara dengan sekitar 260 juta meter kubik) bersumber dari rilis statistik EIA yang sama untuk periode 2025-2026.
Titik cekik Malaka ada di area Phillips, lebarnya hanya 2,8 kilometer. Bayangkan, ekonomi dunia yang bernilai triliunan dolar harus mengantre di sebuah lubang jarum yang begitu sempit.
Bagi Tiongkok, ini adalah mimpi buruk yang nyata. Pada 2003, Presiden China saat itu Hu Jintao mencetuskan istilah "dilema Malaka" untuk menggambarkan tingginya ketergantungan China terhadap jalur perairan tersebut.
Nah, jika Amerika berhasil mengendalikan Malaka, maka mesin ekonomi Tiongkok akan mati dalam hitungan bulan.
Psikologi Ketakutan AS
Mengapa Amerika begitu agresif di tahun 2026 ini? Jawabannya ada pada psikologi sebuah imperium yang sedang menua.
Tulisan saya di media ini berjudul “Mengapa Trump Seperti Ini” telah mengulas detail bagaimana psikologi AS.
Washington sedang mengalami ketakutan eksistensial. Hegemoni Dollar yang selama ini menjadi fondasi kekuatan mereka (Petrodollar) mulai digerogoti oleh aliansi BRICS dan sistem pembayaran Yuan di selat Hormuz. Iran mewajibkan kapal yang melintas bayar pakai Yuan.
Ketika kekuatan ekonomi mulai bergeser, Amerika kembali ke insting dasarnya: Kekuatan Militer.
Proposisi terbaru AS kepada Indonesia untuk mendapatkan izin militer menyeluruh di wilayah udara Nusantara pasca-kesepakatan pertahanan 30 April 2026 bukanlah sebuah kerja sama biasa.
Ini adalah upaya Amerika untuk menempatkan mata dan moncong senjatanya tepat di atas nadi Tiongkok.
Amerika ingin memastikan bahwa jika Tiongkok melampaui batas sensitif seperti isu Taiwan atau Laut China Selatan, maka Washington bisa melakukan blokade udara dan laut di Malaka secara instan. Ini adalah pesan kepada Beijing: "Kami memegang leher kalian."
Tiongkok memang mencoba membangun jalur alternatif melalui pipa minyak Myanmar, kereta api melintasi Pakistan (CPEC), hingga jalur sutra kutub di utara.
Namun, secara geografis dan matematis, tidak ada yang bisa menggantikan efisiensi Selat Malaka.
Ketergantungan ini membuat Beijing harus bereaksi terhadap setiap gerakan AS di Indonesia. Itulah sebabnya kemarin China peringatkan Indonesia soal Kesepakatan overflight clearance dengan AS.
Jubir menlu China bahkan mengingatkan Indonesia jangan merusak perdamaian dan setabilitas regional.
Jika Indonesia memberikan izin udara tersebut kepada AS, Tiongkok akan melihatnya sebagai pengkhianatan terhadap stabilitas kawasan.
Risiko eskalasi jangka panjangnya jelas. Malaka akan berubah dari zona perdagangan menjadi zona termiliterisasi yang penuh dengan kapal perang dan pesawat intai.
Posisi Indonesia
Di sinilah titik paling kritis bagi kita. Secara geografis, Indonesia adalah pemilik sah dari gerbang ini. Namun, jika kita bandingkan dengan Iran di Selat Hormuz, posisi Indonesia terlihat sangat kontras.
Iran, dengan segala keterbatasannya, memiliki "nyali" untuk menegaskan kedaulatannya di Hormuz. Mereka berani menantang armada kelima AS dan menetapkan aturan main di wilayahnya sendiri.
Sebaliknya, Indonesia seringkali terjebak dalam diplomasi "cari aman" yang menurut saya sebagai kurangnya ketegasan strategis.
Padahal, Malaka jauh lebih strategis dari Hormuz. Kita memegang kartu yang bisa menentukan masa depan dua negara adidaya.
Namun, hingga tulisan ini dibuat, Indonesia masih berada dalam posisi menimbang-nimbang proposal militer AS.
Ada kekhawatiran bahwa Indonesia hanya akan menjadi penonton di rumah sendiri, atau lebih buruk lagi malah menjadi medan tempur bagi dua gajah yang sedang berkelahi.
Strategi penyeimbangan yang dijalankan Prabowo mendekat ke AS untuk pertahanan sambil tetap berpegangan tangan dengan China untuk ekonomi adalah permainan yang sangat berbahaya di tengah suhu geopolitik yang mendidih. Satu langkah salah, dan kedaulatan kita bisa tergilas.
Menuju Eskalasi Baru: Apakah Malaka Selanjutnya?
Setelah Venezuela dijinakkan dengan sanksi dan penangkapan Maduro dan Iran dikepung dengan blokade, Selat Malaka adalah benteng terakhir yang harus dikuasai atau setidaknya dikendalikan oleh Amerika untuk memastikan Tiongkok tetap berada di tempatnya.
Kita sedang melihat pergeseran geopolitik Malaka menuju situasi yang sangat kompetitif. Dampaknya bagi perdagangan global tidak main-main.
Pertama, setiap ketegangan militer di Malaka akan membuat biaya pengiriman barang naik berkali-kali lipat.
Kedua, volatilitas harga energi pasti terjadi. Jika sebuah kapal perang AS atau Tiongkok melakukan manuver provokatif di selat ini, harga minyak dunia dan bahan-bahan dasar akan bergejolak lebih hebat daripada krisis di Timur Tengah.
Dari data dan analisis ini kita wajib menyadari bahwa Selat Malaka bukan sekadar jalur pelayaran.
Ia adalah garis depan perang dingin baru. Tiongkok tidak akan diam melihat nadinya dijepit, dan Amerika tidak akan berhenti hingga hegemoni mereka aman.
Indonesia harus sadar bahwa posisi tengah tidak bisa selamanya dipertahankan jika tidak dibarengi dengan kekuatan dan keberanian untuk mendikte aturan di wilayah sendiri.
Kita tidak boleh hanya menjadi pengelola atau penjaga pintu yang kuncinya dipegang orang lain.
Jika Prabowo tetap tidak memiliki nyali untuk mengendalikan Malaka agar tetap aman bagi kedua adidaya, maka jangan terkejut jika besok pagi, kita terbangun dan menyadari bahwa Selat Malaka telah menjadi titik api eskalasi perang besar berikutnya. Waspada! (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Irvan-Kurniawan.jpg)