Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Minggu 19 April 2026: Kembali kepada Gembala
Petrus kembali ke Roma dan akhirnya wafat sebagai martir, disalibkan terbalik karena merasa tidak layak mati seperti Gurunya.
Oleh: RD. Leo Mali
Rohaniwan dan Dosen Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Banyak orang tidak sadar bahwa mereka tersesat. Itu yang terjadi ketika lautan massa ikut arus, beramai-ramai menghukum Yesus dari Nazareth.
Padahal tentang Dia, para nabi telah bersaksi (bdk. Yes. 53; Mzm. 22). Bahkan Daud, raja besar bangsa Yahudi, telah meramalkan kedatangan-Nya (bdk. Mzm. 16:10; Kis. 2:25-31).
Demikian ditegaskan oleh Petrus dalam khotbahnya yang membakar pada hari Pentekosta, suatu peristiwa yang menandai kelahiran Gereja oleh kuasa Roh Kudus (Kis. 2:1-13).
“Kamu semua orang Yahudi dan kamu yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini… Yesus dari Nazaret adalah seorang yang ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan, mukjizat dan tanda-tanda… Dia yang diserahkan menurut maksud dan rencana Allah, telah kamu salibkan dan kamu bunuh… tetapi Allah membangkitkan Dia…” (Kis. 2:22-24).
Baca juga: Opini: Tangan yang Menenun, Hidup yang Belum Terjalin
Petrus menegaskan kesaksian dalam khotbahnya agar orang-orang yang mendengarnya sadar bahwa mereka telah tersesat.
Maka jalan untuk selamat adalah mereka harus bertobat, mengaku kesalahan mereka dan kembali percaya kepada Allah (Kis. 2:37-38).
Kesaksian Petrus adalah kesaksian yang benar, karena ia menuntun semua orang untuk kembali kepada Allah.
Inilah suara kebenaran yang sesungguhnya. Dalam terang Injil Yohanes, inilah suara Sang Gembala yang sejati yang dikenal oleh domba-domba-Nya (Yoh. 10:3-4).
Namun, kesaksian Petrus pada hari Pentekosta adalah buah dari sebuah proses pembaruan diri yang dikerjakan oleh Allah dalam hidupnya.
Petrus juga melewati kemelut iman seperti dialami oleh dua murid dalam perjalanan ke Emaus (Luk. 24:13- 35).
Seperti mereka, Petrus pernah kecewa dan goyah. Dalam waktu-waktu tertentu, matanya tertutup dan tidak mengenal Allah.
Ia menyangkal Yesus tiga kali (Luk. 22:54-62), bahkan pernah ditegur keras oleh Yesus karena berpikir menurut caramanusia (Mat. 16:23).
Namun, ia juga adalah pribadi yang dipilih: “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku” (Mat. 16:18).
Di sinilah kita melihat dinamika iman yang nyata: jatuh, bangkit, dandiperbarui.
Seperti ditegaskan oleh Agustinus dari Hippo: “Gereja bukanlah kumpulan orang kudus yang sempurna, tetapi persekutuan orang-orang berdosa yang dipanggil untuk bertobat.”
Maka pengalaman Petrus, begitu juga pengalaman dua murid dalam perjalan ke Emaus adalah cermin pengalaman Gereja dan juga pengalaman kita semua.
Ada sebuah tradisi kuno yang hidup dalam Gereja, yang kemudian diabadikan dalam novel dan film Quo Vadis, yang melukiskan karakter Petrus yang pernah goyah namun akhirnya setia.
Kejadiannya sekitar tahun 64 M, pada masa pemerintahan Nero, ketika penganiayaan terhadap orang Kristen memuncak setelah kebakaran besar Kota Roma (bdk. Great Fire of Rome).
Menurut tradisi, Petrus sempat melarikan diri meninggalkan Roma. Di tengah jalan, di Via Appia Antica, ia bertemu Yesus dan terjadilah dialog: Petrus: “Quo vadis, Domine?” (Tuhan, Engkau hendak ke mana?)
Yesus: “Romam eo iterum crucifigi.” (Aku pergi ke Roma untuk disalibkan kembali).
Dialog ini menggugah kesadaran Petrus. Ia kembali ke Roma dan akhirnya wafat sebagai martir, disalibkan terbalik karena merasa tidak layak mati seperti Gurunya.
Tradisi ini ditegaskan oleh para Bapa Gereja seperti Origen dan Eusebius dari Kaisarea. Makamnya kini diyakini berada di bawah Basilika Santo Petrus.
Tuhan yang bangkit menyatakan diri kepada Petrus, sama seperti kepada duamurid di Emaus.
Tuhan membimbing para murid untuk percaya dan kembali—kembali ke Yerusalem, kembali pada iman yang benar.
“Bukankah hati kita berkobar- kobar ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan?” (Luk. 24:32). Hati yangberkobar-kobar itu adalah tanda kehadiran Sang Gembala yang hidup.
Apa yang dikatakan Petrus, sesungguhnya adalah tentang hidupnya sendiri. Tuhan yang bangkit dan mendatanginya membuat dia sadar bahwa ia tidak sempurna.
Sama seperti para rasul yang lain, Petrus memiliki masa lalu yang rapuh. Namun di hadapan Kristus yang bangkit, selalu ada masa depan.
Kebenaran ini mendasari pembaruan diri para murid sebagai saksi pertama kebangkitan Kristus. Sehingga sebagaimana dikatakan oleh Gregorius Agung: “Seorang gembala sejati adalah dia yang terlebih dahulu kembali kepada Tuhan, sebelum menuntun orang lain kembali.”
Tuhan yang bangkit mengajak kita untuk percaya bahwa semua orang kudus memiliki masa lalu, dan semua pendosa memiliki masa depan yang baru.
Sebab di hadapan Sang Gembala yang bangkit, tidak ada kesesatan yang terlalu jauh untuk ditebus, dan tidak ada hidup yang terlalu hancur untuk dipulihkan. Amin. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
| Renungan Harian Katolik Minggu 19 April 2026, 'Kleopas dan Dinamika Kehidupan Kita' |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Minggu 19 April 2026, Paham Isi Kitab Suci Tinggalkan Beban Masa Lalu |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Minggu 19 April 2026, “Kisah Jalan ke Emaus” |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Sabtu 18 April 2026, "Ini Aku, Jangan Takut" |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Sabtu 18 April 2026, "Kuasa Ilahi: Menuntun Menuju Keteduhan" |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Leo-Mali-P.jpg)