Opini
Opini: Omnia in Caritate- Ketika Kasih Menjadi Bahasa Pelayanan yang Nyata
Ketika banyak lembaga sibuk membangun citra, pelayanan konkret sering kali menjadi bahasa yang paling mudah dimengerti masyarakat.
Oleh: Tian Rahmat
Alumnus Filsafat di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero Flores, tinggal di Jakarta. Sejak 2018 aktif menulis opini di berbagai media massa baik lokal maupun nasional.
POS-KUPANG.COM - Ada momen-momen tertentu ketika sebuah tayangan sederhana justru meninggalkan jejak refleksi yang mendalam.
Perasaan itu muncul ketika menyaksikan kanal YouTube Komsos Keuskupan Ruteng pada 31 Maret 2026.
Mgr. Siprianus Hormat bersama para imam berbagi sukacita Paskah dengan umat melalui penyerahan bantuan sembako kepada keluarga kurang mampu, terutama mereka yang berada dalam kondisi sosial khusus dan membutuhkan perhatian pastoral yang nyata.
Baca juga: Opini: Merenungkan Makna Paskah di Tengah Konflik Mondial
Tayangan itu tidak hanya memperlihatkan kegiatan sosial biasa, tetapi menghadirkan pesan moral yang kuat bahwa kasih, ketika dijalankan dengan tulus, selalu menemukan bentuknya yang paling manusiawi.
Di tengah dunia yang semakin riuh oleh statistik kemiskinan, ketegangan sosial, dan derasnya arus narasi publik, tindakan sederhana justru kerap berbicara lebih kuat daripada pidato panjang.
Ketika banyak lembaga sibuk membangun citra, pelayanan konkret sering kali menjadi bahasa yang paling mudah dimengerti masyarakat.
Dalam konteks itulah motto episkopal Omnia in Caritate yang dihidupi Mgr. Siprianus memperoleh makna yang sangat nyata: kasih tidak berhenti pada semboyan, tetapi turun ke ruang hidup umat.
Ungkapan Latin Omnia in Caritate berarti “lakukanlah segala sesuatu dalam kasih.”
Moto ini bukan sekadar kalimat simbolik pada lambang kegembalaan, melainkan arah moral pelayanan yang menyentuh kebutuhan paling dasar masyarakat.
Kehadirannya kembali terlihat ketika sukacita Paskah diterjemahkan bukan hanya dalam liturgi, tetapi juga dalam perhatian terhadap keluarga-keluarga yang sedang bergumul dengan keterbatasan ekonomi.
Kasih yang Turun ke Tanah
Moto tahbisan episkopal Mgr. Siprianus berakar pada 1 Korintus 16:14: “Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih.”
Sejak tahbisan episkopal pada 19 Maret 2020, prinsip ini menjadi fondasi spiritual pelayanan pastoral beliau.
Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan bahwa kasih bukan sekadar perasaan religius, tetapi energi sosial yang harus menjelma dalam tindakan konkret.
Di sinilah pembagian sembako memperoleh arti lebih luas. Bantuan itu memang berupa beras, minyak goreng, gula, dan kebutuhan pokok lain, tetapi makna sosialnya jauh melampaui isi paket bantuan.
Yang hadir sesungguhnya adalah pengakuan bahwa Gereja tetap berjalan bersama umat, terutama mereka yang sedang bergumul dengan tekanan ekonomi keluarga.
Kasih yang sejati memang selalu turun ke tanah. Ia tidak tinggal di altar, tidak berhenti dalam homili, dan tidak hanya hidup dalam dokumen rohani.
Ia mengetuk rumah sederhana, duduk bersama keluarga yang cemas, dan hadir sebagai tanda bahwa penderitaan tidak boleh dibiarkan berjalan sendirian.
Wajah Gereja yang Relevan
Tindakan pastoral semacam ini memperlihatkan wajah Gereja yang paling tua sekaligus paling relevan: bukan pertama-tama institusi yang berbicara dari ruang formal, melainkan komunitas yang berjalan bersama luka masyarakat.
Pope Francis dalam ensiklik Fratelli Tutti (3 Oktober 2020) menulis bahwa solidaritas sejati berarti perjuangan melawan akar struktural kemiskinan, ketimpangan, dan penyangkalan martabat manusia.
Pandangan ini menegaskan bahwa kasih tidak boleh berhenti pada belas kasihan sesaat, tetapi harus membangun kesadaran kolektif bahwa setiap manusia berhak diperlakukan bermartabat.
Dalam konteks Ruteng, pelayanan sosial kepada umat miskin bukan sekadar kegiatan seremonial.
Kehadiran uskup bersama para imam di tengah keluarga rentan memiliki makna antropologis: bahwa penderitaan ekonomi tidak boleh dibicarakan dari kejauhan. Justru kedekatan itulah yang membangun kepercayaan.
Martabat dalam Bantuan Sosial
Franz Magnis-Suseno dalam Etika Dasar menulis bahwa ukuran moral tindakan terletak pada sejauh mana tindakan itu mengakui manusia lain sebagai tujuan, bukan alat.
Dalam kerangka ini, bantuan sembako menjadi bermakna bila tidak menjadikan penerima sekadar objek belas kasihan. Bantuan harus dibaca sebagai penguatan martabat.
Di sinilah letak kekuatan Omnia in Caritate: kasih yang bekerja tidak mengubah penerima bantuan menjadi angka statistik, tetapi saudara yang martabatnya diteguhkan.
Kemiskinan bukan hanya soal kekurangan material. Ia juga menyentuh ruang psikologis: rasa khawatir, rasa malu, rasa tidak diperhatikan.
Karena itu, ketika bantuan datang bersama sapaan dan kehadiran, yang dibagikan bukan hanya pangan, tetapi juga ketenangan batin.
Solidaritas sebagai Pendidikan Sosial
Secara sosial, pelayanan Gereja lokal seperti ini mengandung pesan penting bagi ruang publik Indonesia hari ini: solidaritas tetap mungkin dibangun melalui tindakan kecil yang konsisten.
Dalam masyarakat yang kerap terpecah oleh perdebatan identitas, pelayanan yang langsung menyentuh kebutuhan dasar justru menjadi bahasa universal yang dimengerti semua orang.
Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa tekanan rumah tangga di wilayah timur Indonesia masih sangat dipengaruhi fluktuasi harga pangan dan distribusi logistik.
Dalam kondisi seperti itu, bantuan pangan memang tidak menyelesaikan seluruh persoalan struktural.
Namun ia memberi ruang bernapas bagi keluarga yang hidup dalam batas minimum. Yang sering luput dipahami ialah bahwa tindakan kecil yang datang tepat waktu dapat mencegah putus asa tumbuh lebih jauh.
Kasih sebagai Kekuatan Peradaban
Dalam buku Lakukanlah Semua dalam Kasih: Omnia in Caritate (2020) yang disunting Max Regus, ditegaskan bahwa kasih dalam pelayanan pastoral bukan kelembutan pasif, tetapi keberanian hadir di titik paling konkret kehidupan umat.
Buku itu juga menegaskan bahwa perbedaan pandangan dalam komunitas harus tetap bermuara pada bonum commune—kebaikan bersama.
Pramoedya Ananta Toer pernah menunjukkan bahwa ukuran kemajuan masyarakat tidak hanya terletak pada gagasan besar, tetapi pada keberanian menyentuh kenyataan hidup rakyat.
Pelayanan kasih di tingkat lokal mengingatkan bahwa pembangunan moral bangsa tidak selalu lahir dari kebijakan besar, melainkan dari tindakan kecil yang dijalankan dengan kesungguhan hati.
Kasih pada akhirnya memang bukan slogan. Ia adalah keputusan untuk hadir. Ia adalah keberanian menolak jarak. Ia adalah tindakan yang memilih mengetuk rumah sederhana ketika banyak orang sibuk membangun citra.
Di Ruteng, Omnia in Caritate menemukan bentuknya bukan di ruang retorika, tetapi di tangan-tangan yang menyerahkan beras, minyak goreng, gula, dan harapan. Dan sejarah berulang kali menunjukkan: peradaban bertahan bukan semata karena kekuatan, melainkan karena kasih yang terus bekerja diam-diam. (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
| Opini: Dilema Strategis Bank NTT di Tengah Tekanan Fiskal, KUB atau Perseroda? |
|
|---|
| Opini: Membaca Ulang Makna Habis Gelap Terbitlah Terang dalam Fenomena Pendidikan Indonesia |
|
|---|
| Opini: Menantang Patriarki dalam Dialog Antaragama |
|
|---|
| Opini: Taruhan Sikap Ilmiah dalam Nasi Kotak |
|
|---|
| Opini: Dari Kartini ke Ayah Masa Kini- Fondasi Keluarga Hebat Indonesia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Tian-RahmatSFil.jpg)