Breaking News
Rabu, 22 April 2026

Opini

Opini: Artificial Intelligence sebagai Sarana Pewartaan Iman di Era Digital

Hari ini, AI memungkinkan umat untuk mengakses Kitab Suci, renungan, dan ajaran Gereja secara cepat dan praktis. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI FLADIMIR SIE
Fladimir Sie 

Oleh: Fladimir Sie
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Di tengah derasnya arus revolusi digital, dunia hari ini tidak hanya berubah-ia berlari. 

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) hadir sebagai simbol kemajuan zaman yang mengubah cara manusia berpikir, bekerja, dan berkomunikasi. 

Namun, di balik kemajuan itu, muncul sebuah pertanyaan mendasar: di manakah tempat iman dalam dunia yang semakin dikuasai oleh teknologi? Lebih jauh lagi, dapatkah AI menjadi sarana pewartaan iman?

Pewartaan iman merupakan hakikat dari perutusan Gereja: menghadirkan kabar gembira di tengah dunia. 

Dalam sejarahnya, Gereja selalu menggunakan sarana-sarana yang tersedia pada zamannya. 

Baca juga: Opini: Dari Via Crucis Menuju Via Lucis

Dari tradisi lisan hingga media digital, semuanya dimanfaatkan untuk menyampaikan Injil. 

Dalam terang ini, AI tidak perlu dilihat sebagai ancaman, melainkan sebagai sarana baru yang dapat memperluas jangkauan pewartaan iman.

Hari ini, AI memungkinkan umat untuk mengakses Kitab Suci, renungan, dan ajaran Gereja secara cepat dan praktis. 

Bagi kaum muda yang hidup dalam budaya digital, AI bahkan dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal iman. 

Dalam konteks seperti Nusa Tenggara Timur, yang masih menghadapi keterbatasan akses pendidikan dan tenaga pastoral, AI berpotensi menjadi sarana pendukung yang membantu umat untuk tetap belajar dan bertumbuh dalam iman.

Namun, justru di sinilah diperlukan kebijaksanaan. Iman Kristiani tidak pernah berhenti pada pengetahuan, tetapi berakar pada relasi personal dengan Allah yang hidup. 

AI dapat membantu manusia memahami iman, tetapi tidak dapat menggantikan pengalaman perjumpaan dengan Allah. 

Iman tidak lahir dari algoritma, melainkan dari pengalaman hidup, dari pergulatan batin, dan dari relasi yang nyata.

Bahaya yang mengintai adalah ketika iman direduksi menjadi sekadar informasi digital. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved