Rabu, 22 April 2026

Opini

Opini: Sakramen Perkawinan dan Relevansi Ecclesia Domestica di Tengah Dinamika Modern

Elemen komunikasi memegang peranan yang sangat krusial dalam mempertahankan integritas Gereja domestik. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI DARVIS TARUNG
Darvis Tarung 

Elemen komunikasi memegang peranan yang sangat krusial dalam mempertahankan integritas Gereja domestik. 

Banyak krisis keluarga yang berakar pada kegagalan komunikasi, seperti ketidakmampuan untuk mendengar dengan empati dan kecenderungan untuk saling menyalahkan. 

Dalam terang iman, komunikasi yang sehat bukan hanya soal pertukaran informasi, tetapi tentang membuka hati dan menerima pasangan apa adanya dengan kasih yang sabar dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. 

Paus Fransiskus menekankan pentingnya tiga kata sederhana namun penuh daya dalam kehidupan rumah tangga: "Tolong", "Terima kasih", dan "Maaf", yang jika dipraktikkan secara rutin dapat memulihkan keharmonisan dan menjaga kedamaian batin keluarga. 

Dialog yang tulus menjadi sarana bagi pasangan untuk saling "membentuk" identitas satu sama lain, seperti seorang pekerja seni yang sabar menunggu karya agungnya matang dalam bimbingan kasih Allah.

Keluarga sebagai Ecclesia domestica juga memiliki misi eklesial untuk menjadi tempat pertama di mana anak-anak mengenal wajah Allah melalui kasih orang tua mereka. 

Orang tua adalah guru iman yang pertama bagi anak-anak, sebuah tugas yang tidak dapat sepenuhnya didelegasikan kepada lembaga pendidikan sekolah atau institusi lainnya. 

Melalui doa keluarga, pembacaan Sabda Allah, dan partisipasi aktif dalam Ekaristi, keluarga membangun kehidupan rohani bersama yang menjadi sumber kekuatan tak tergantikan. 

Dalam konteks ini, anak-anak belajar tentang iman bukan dari kata-kata belaka, melainkan dari teladan hidup orang tua yang hidup dalam saling menghormati dan setia pada janji perkawinan mereka. 

Kesaksian hidup keluarga yang bahagia dan suportif ini akan menjadi ragi yang mentransformasi masyarakat dan menjadi cahaya di tengah dunia yang sering kali kehilangan arah.

Gereja sendiri memiliki tanggung jawab besar untuk mendampingi keluarga-keluarga ini agar mampu bertahan dan bertumbuh di tengah tantangan zaman. 

Pendampingan pastoral tidak boleh terbatas hanya pada tahap persiapan pra-nikah, tetapi harus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari melalui pembinaan keluarga, konseling pastoral, dan komunitas basis yang empatik. 

Gereja harus hadir dengan wajah kerahiman, khususnya bagi keluarga-keluarga yang terluka atau berada dalam situasi yang belum sempurna, tanpa mengurangi kebenaran ajarannya. 

Logika integrasi dan belas kasih pastoral menuntut agar setiap orang merasa diterima di dalam rumah Bapa, di mana mereka dapat menemukan secercah cahaya untuk memahami situasi mereka dan menemukan jalan pertumbuhan pribadi.

Pada akhirnya, mempertahankan keutuhan perkawinan Katolik dan eksistensi Gereja domestik di era modern memang bukanlah tugas yang mudah, namun justru dalam kesulitan itulah panggilan kekudusan menemukan maknanya yang paling dalam. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved