Opini
Opini: Idul Fitri dan Tantangan Moral Indonesia yang Terluka
Idul Fitri bukan hanya ritual keagamaan, tetapi infrastruktur emosional yang mengikat masyarakat dan memperkuat kohesi nasional.
Oleh: Hendrikus Maku, SVD
Pengajar Islamologi IFTK Ledalero, Alumnus SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
POS-KUPANG.COM - Taqabbalallāhu minnā wa minkum, shiyāmanā wa shiyāmakum; selamat Idul Fitri 1447 H, mohon maaf lahir dan batin—semoga Idul Fitri tidak hanya menjadi penanda kemenangan spiritual, tetapi juga momentum reflektif bagi bangsa yang tengah menghadapi tantangan moral yang serius.
Di balik kemeriahan silaturahmi yang menenteramkan ruang sosial, Idul Fitri sekaligus menyingkap paradoks Indonesia: harmoni yang dipraktikkan secara simbolik kerap menutupi retakan mendalam yang belum disentuh refleksi etis maupun kesadaran struktural.
Baca juga: Opini: Menabung Air Sebelum Haus- Liturgi Hijau Melawan Godzilla El Nino
Gema takbir yang memenuhi ruang publik seakan menegaskan bahwa kita masih melangkah membawa beban luka kolektif yang belum ditangani secara bermakna.
Dalam konteks inilah, pertanyaan fundamental mengemuka: sejauh mana hikmah Idul Fitri dapat menjadi energi moral yang mendorong pemulihan Indonesia yang terluka?
Indonesia yang Terluka
Indonesia hari ini tampak sebagai tubuh besar yang penuh memar: demokrasi yang merosot, ekologi yang rusak, korupsi yang mengakar, dan intoleransi yang terus berulang.
Indeks demokrasi yang disebut “hancur lebur” oleh Feri Amsari menegaskan penyusutan kebebasan sipil, sensor terhadap ekspresi kritis, serta meningkatnya represi aparat (Tempo.co, 06 Maret 2025).
Kekerasan terhadap aktivis HAM Andrie Yunus—yang melibatkan empat anggota BAIS TNI—memperlihatkan rapuhnya akuntabilitas negara dan menguatnya pola represi terhadap masyarakat sipil (detik.com, 18 Maret 2026).
Di sisi lain, laporan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) menunjukkan krisis ekologis yang kian akut akibat model pembangunan ekstraktif yang merusak hutan, air, dan ruang hidup komunitas adat, petani, serta nelayan (walhi.or.id, 29 Januari 2026).
Luka korupsi juga belum pulih: praktik state capture terus berlangsung meski skor Corruption Perceptions Index (CPI) naik, sementara skandal besar seperti kasus PT Timah dan Pertamina menegaskan tumpulnya reformasi tata kelola (indonesiana.id, 20 Oktober 2025).
Luka intoleransi melengkapi gambaran suram ini. Imparsial dan laporan internasional mencatat pembatasan kebebasan beragama, pembiaran terhadap aksi intimidasi, serta lemahnya penegakan hukum terhadap kelompok intoleran (usembassy.gov/id, 08 Oktober 2024).
Dalam konteks itu, kasus Andrie Yunus bukanlah anomali, melainkan cermin dari sistem yang kian rentan: demokrasi melemah, hukum tidak tegak, ruang sipil menyempit, dan negara gagal menjalankan mandat dasarnya.
Pertanyaannya kini sederhana namun mendesak: seberapa dalam luka-luka ini dan siapa yang bersedia sungguh-sungguh menyembuhkannya?
Hikmah Idul Fitri untuk Indonesia yang Sedang Tidak Baik-baik Saja
Idul Fitri, pada hakikatnya, bukan sekadar puncak ritual setelah sebulan berpuasa.
Dalam khazanah tasawuf klasik, Syekh Abdul Qadir al-Jilani menegaskan bahwa Idul Fitri sejati bukan terletak pada pakaian baru atau hidangan lezat, melainkan munculnya tanda-tanda diterimanya ibadah, pembersihan diri dari dosa, dan perubahan keburukan menjadi kebaikan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Hendrik-Maku-Pater-01.jpg)