Selasa, 14 April 2026

Opini

Opini: Ogoh-Ogoh, Nyepi, dan Seni Menaklukkan Diri

Di Kupang, Nyepi tidak berhenti sebagai ritual internal umat Hindu. Ia hadir melalui donor darah, solidaritas sosial, dan perjumpaan

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI I PUTU YOGA BUMI PRADANA
I Putu Yoga Bumi Pradana 

Di sinilah Nyepi terasa sangat radikal untuk zaman sekarang. Dunia modern hampir selalu mendorong manusia untuk terus bergerak, membeli, berkomentar, dan bereaksi. 

Nyepi menawarkan arah sebaliknya, kebebasan bukanlah mengikuti semua keinginan, melainkan kemampuan untuk tidak diperintah oleh keinginan itu.

Ajaran Hindu memandang pengendalian diri sebagai jalan menuju kejernihan budi. Karena itu, Catur Brata bukan anti-kehidupan, melainkan koreksi terhadap hidup yang kehilangan pusat. 

Ia mengingatkan bahwa tidak semua yang diinginkan perlu dituruti, tidak semua yang menyenangkan membawa kebaikan, dan tidak semua gerak berarti kemajuan.

Nyepi, dengan demikian, bukan ritus eksklusif. Nilai-nilainya melampaui batas agama. 

Dunia hari ini memerlukan lebih banyak jeda, lebih banyak keheningan, dan lebih banyak disiplin batin agar manusia tidak terus-menerus dikuasai oleh kebisingannya sendiri.

Kupang, Minoritas, dan Teladan Harmoni

Di Kupang, Nyepi tidak berhenti sebagai ritual internal umat Hindu. Ia hadir melalui donor darah, solidaritas sosial, dan perjumpaan dalam ruang kota yang majemuk. 

Di sana tampak bahwa spiritualitas Hindu bergerak bukan menuju eksklusivisme, melainkan pelayanan, iman yang tidak membangun tembok, tetapi jembatan.

Di Nusa Tenggara Timur, umat Hindu memang kecil secara jumlah, tetapi tidak kecil dalam makna. 

Kehadiran mereka menunjukkan bahwa tradisi dapat sakral sekaligus terbuka, keyakinan dapat teguh tanpa menjadi keras, dan spiritualitas dapat mendalam tanpa menjauh dari kemanusiaan.

Dari Kupang, Nyepi mengajarkan satu hal penting: bangsa yang sehat bukan hanya bangsa yang pandai bersuara, tetapi juga bangsa yang tahu kapan harus hening. 

Sebab terang tidak selalu lahir dari gemerlap; sering kali ia tumbuh dari keheningan, tempat manusia menjernihkan dirinya sebelum memperbaiki dunia. (*)

Simak terus berita, cerpen dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News 

 

 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved