Selasa, 21 April 2026

Opini

Opini: Ogoh-Ogoh, Nyepi, dan Seni Menaklukkan Diri

Di Kupang, Nyepi tidak berhenti sebagai ritual internal umat Hindu. Ia hadir melalui donor darah, solidaritas sosial, dan perjumpaan

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI I PUTU YOGA BUMI PRADANA
I Putu Yoga Bumi Pradana 

Oleh: I Putu Yoga Bumi Pradana 
Wakil Sekretaris Parisadha Hindu Dharma Indonesia Provinsi NTT 
Demisioner Ketua Perhimpunan Pemuda Hindu Provinsi NTT 2013-2019
Demisioner Ketua Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia Provinsi NTT 2010-2012

POS-KUPANG.COM - Pada Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu merayakan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Di Kupang, Nyepi tidak hadir sebagai satu hari sunyi yang berdiri sendiri. 

Ia didahului oleh rangkaian laku spiritual: kegiatan sosial sejak awal Maret, Melasti pada 16 Maret, Tawur Kesanga dan pawai ogoh-ogoh pada 18 Maret, lalu puncaknya Catur Brata Penyepian pada 19 Maret, sebelum ditutup dengan semangat persaudaraan dalam Ngembak Geni.

Namun justru karena tampil di ruang publik, Nyepi sering dipahami secara dangkal. 

Ada yang melihatnya hanya sebagai “hari sepi”, ada yang memandang ogoh-ogoh sekadar tontonan budaya, dan ada pula yang keliru menuduh simbol-simbol itu sebagai penyembahan berhala. 

Baca juga: Opini: Mengenang Habermas dan Kritik Komodifikasi Demokrasi 

Pembacaan seperti itu gagal menangkap kedalaman Nyepi. Ia bukan pelarian dari dunia, melainkan jalan sunyi untuk kembali ke dunia dengan jiwa yang lebih jernih, tertib, dan rendah hati.

Sejarah Sunyi, Filsafat Pembaruan

Nyepi menandai Tahun Baru Saka, penanggalan yang dihitung sejak 78 Masehi. Tahun ini umat Hindu memasuki Saka 1948. 

Berbeda dari tahun baru modern yang identik dengan pesta, dentuman, dan keramaian, Tahun Baru Saka justru dibuka dengan keheningan. Di situlah keistimewaannya.

Peradaban modern memuja gerak tanpa jeda. Manusia didorong untuk terus sibuk, terus bereaksi, terus mengonsumsi, seolah hidup yang penuh suara pasti penuh makna. 

Padahal sering terjadi sebaliknya: manusia ramai, tetapi tidak jernih; sibuk, tetapi tidak bijaksana. 

Nyepi hadir sebagai kritik halus terhadap zaman yang terlalu gaduh untuk mendengar nuraninya sendiri.

Dalam Bhagavad Gita, manusia diingatkan bahwa dirinya sendiri dapat menjadi sahabat, tetapi juga dapat menjadi musuh bagi dirinya. Inilah inti Nyepi

Musuh terbesar manusia kerap bukan yang datang dari luar, melainkan yang tumbuh di dalam: ego, amarah, nafsu, iri hati, dan kebingungan batin. 

Karena itu, sunyi dalam Nyepi bukan kekosongan. Sunyi adalah ruang penyadaran, tempat manusia memeriksa apa yang dikejar, siapa yang dilukai, dan apa yang harus dibenahi.

Nyepi mengajarkan satu hal mendasar, yakni pembaruan hidup tidak lahir dari keramaian, melainkan dari keberanian untuk berhenti dan menata diri.

Melasti dan Ogoh-Ogoh: Simbol yang Sering Disalahpahami

Untuk memahami Nyepi, orang tidak boleh berhenti pada rupa luarnya. Melasti, misalnya, sering dibaca sekadar prosesi menuju pantai atau laut. 

Padahal esensinya lebih dalam. Melasti adalah ritus penyucian diri dan jagat. 

Air dalam tradisi Hindu bukan hanya unsur alam, melainkan lambang kemurnian, kehidupan, dan kembalinya manusia kepada kejernihan.

Melasti mengandung pengakuan yang sangat manusiawi: bahwa tidak ada orang yang sepenuhnya bebas dari debu batin. 

Ada amarah yang diam-diam menetap, keserakahan yang menebal, iri hati yang menggelapkan, dan kesombongan yang mengeraskan jiwa. 

Karena itu, Melasti mengajarkan bahwa perubahan sosial tidak pernah benar-benar dimulai dari slogan, tetapi dari pembersihan karakter.

Begitu pula ogoh-ogoh. Ia paling sering disalahpahami justru karena paling mudah dilihat. Ogoh-ogoh bukan objek sembahan. 

Ia adalah perlambang dari unsur-unsur gelap dalam diri manusia, yang dalam ajaran Hindu dikenal sebagai sad ripu, kama (nafsu), lobha (rakus), krodha (amarah), mada (kesombongan atau mabuk kuasa), moha (kebingungan), dan matsarya (iri hati).

Maka ketika ogoh-ogoh diarak, yang sesungguhnya dihadirkan bukan kejahatan untuk dimuliakan, melainkan bayang-bayang batin untuk dikenali. Dan ketika ia dibakar, yang hendak dilebur bukan seni atau budaya, melainkan kerak gelap dalam diri manusia. 

Pembakaran ogoh-ogoh adalah simbol transformasi, bahwa yang keruh harus diakhiri, yang liar harus dijinakkan, dan yang gelap harus dimurnikan sebelum manusia memasuki tahun yang baru.

Di titik ini, ogoh-ogoh bukan tontonan kosong, melainkan cermin moral. Bahayanya muncul ketika ia direduksi hanya menjadi atraksi wisata. 

Wisata boleh tumbuh, ekonomi lokal boleh bergerak, tetapi tradisi kehilangan martabatnya jika sakralitasnya dikalahkan oleh hiburan.

Catur Brata dan Etika Menahan Diri

Puncak Nyepi justru terjadi ketika keramaian berhenti. Pada hari itu, umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian: amati geni, amati karya, amati lelanguan, dan amati lelungan. 

Secara lahiriah, ini berarti menahan api atau hawa nafsu, tidak bekerja, tidak bersenang-senang, dan tidak bepergian. 

Namun secara batiniah, Catur Brata adalah disiplin untuk menata kembali relasi manusia dengan keinginannya sendiri.

Di sinilah Nyepi terasa sangat radikal untuk zaman sekarang. Dunia modern hampir selalu mendorong manusia untuk terus bergerak, membeli, berkomentar, dan bereaksi. 

Nyepi menawarkan arah sebaliknya, kebebasan bukanlah mengikuti semua keinginan, melainkan kemampuan untuk tidak diperintah oleh keinginan itu.

Ajaran Hindu memandang pengendalian diri sebagai jalan menuju kejernihan budi. Karena itu, Catur Brata bukan anti-kehidupan, melainkan koreksi terhadap hidup yang kehilangan pusat. 

Ia mengingatkan bahwa tidak semua yang diinginkan perlu dituruti, tidak semua yang menyenangkan membawa kebaikan, dan tidak semua gerak berarti kemajuan.

Nyepi, dengan demikian, bukan ritus eksklusif. Nilai-nilainya melampaui batas agama. 

Dunia hari ini memerlukan lebih banyak jeda, lebih banyak keheningan, dan lebih banyak disiplin batin agar manusia tidak terus-menerus dikuasai oleh kebisingannya sendiri.

Kupang, Minoritas, dan Teladan Harmoni

Di Kupang, Nyepi tidak berhenti sebagai ritual internal umat Hindu. Ia hadir melalui donor darah, solidaritas sosial, dan perjumpaan dalam ruang kota yang majemuk. 

Di sana tampak bahwa spiritualitas Hindu bergerak bukan menuju eksklusivisme, melainkan pelayanan, iman yang tidak membangun tembok, tetapi jembatan.

Di Nusa Tenggara Timur, umat Hindu memang kecil secara jumlah, tetapi tidak kecil dalam makna. 

Kehadiran mereka menunjukkan bahwa tradisi dapat sakral sekaligus terbuka, keyakinan dapat teguh tanpa menjadi keras, dan spiritualitas dapat mendalam tanpa menjauh dari kemanusiaan.

Dari Kupang, Nyepi mengajarkan satu hal penting: bangsa yang sehat bukan hanya bangsa yang pandai bersuara, tetapi juga bangsa yang tahu kapan harus hening. 

Sebab terang tidak selalu lahir dari gemerlap; sering kali ia tumbuh dari keheningan, tempat manusia menjernihkan dirinya sebelum memperbaiki dunia. (*)

Simak terus berita, cerpen dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News 

 

 

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved