Selasa, 9 Juni 2026

Opini

Opini: Ogoh-Ogoh, Nyepi, dan Seni Menaklukkan Diri

Di Kupang, Nyepi tidak berhenti sebagai ritual internal umat Hindu. Ia hadir melalui donor darah, solidaritas sosial, dan perjumpaan

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI I PUTU YOGA BUMI PRADANA
I Putu Yoga Bumi Pradana 

Untuk memahami Nyepi, orang tidak boleh berhenti pada rupa luarnya. Melasti, misalnya, sering dibaca sekadar prosesi menuju pantai atau laut. 

Padahal esensinya lebih dalam. Melasti adalah ritus penyucian diri dan jagat. 

Air dalam tradisi Hindu bukan hanya unsur alam, melainkan lambang kemurnian, kehidupan, dan kembalinya manusia kepada kejernihan.

Melasti mengandung pengakuan yang sangat manusiawi: bahwa tidak ada orang yang sepenuhnya bebas dari debu batin. 

Ada amarah yang diam-diam menetap, keserakahan yang menebal, iri hati yang menggelapkan, dan kesombongan yang mengeraskan jiwa. 

Karena itu, Melasti mengajarkan bahwa perubahan sosial tidak pernah benar-benar dimulai dari slogan, tetapi dari pembersihan karakter.

Begitu pula ogoh-ogoh. Ia paling sering disalahpahami justru karena paling mudah dilihat. Ogoh-ogoh bukan objek sembahan. 

Ia adalah perlambang dari unsur-unsur gelap dalam diri manusia, yang dalam ajaran Hindu dikenal sebagai sad ripu, kama (nafsu), lobha (rakus), krodha (amarah), mada (kesombongan atau mabuk kuasa), moha (kebingungan), dan matsarya (iri hati).

Maka ketika ogoh-ogoh diarak, yang sesungguhnya dihadirkan bukan kejahatan untuk dimuliakan, melainkan bayang-bayang batin untuk dikenali. Dan ketika ia dibakar, yang hendak dilebur bukan seni atau budaya, melainkan kerak gelap dalam diri manusia. 

Pembakaran ogoh-ogoh adalah simbol transformasi, bahwa yang keruh harus diakhiri, yang liar harus dijinakkan, dan yang gelap harus dimurnikan sebelum manusia memasuki tahun yang baru.

Di titik ini, ogoh-ogoh bukan tontonan kosong, melainkan cermin moral. Bahayanya muncul ketika ia direduksi hanya menjadi atraksi wisata. 

Wisata boleh tumbuh, ekonomi lokal boleh bergerak, tetapi tradisi kehilangan martabatnya jika sakralitasnya dikalahkan oleh hiburan.

Catur Brata dan Etika Menahan Diri

Puncak Nyepi justru terjadi ketika keramaian berhenti. Pada hari itu, umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian: amati geni, amati karya, amati lelanguan, dan amati lelungan. 

Secara lahiriah, ini berarti menahan api atau hawa nafsu, tidak bekerja, tidak bersenang-senang, dan tidak bepergian. 

Namun secara batiniah, Catur Brata adalah disiplin untuk menata kembali relasi manusia dengan keinginannya sendiri.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved