Minggu, 3 Mei 2026

Opini

Opini: Kolaboasi, Inovasi dan Masa Depan Ekonomi NTT

Mengapa kita belum selesai dengan problem kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan yang menjadi hak dasar setiap warga? 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO-DOK PRIBADI
Willfridus Demetrius Siga 

Pada sektor pendidikan, perguruan tinggi di NTT masih didominasi oleh program studi pendidikan, kesehatan, dan agama. Prodi-prodi ini menyerap banyak mahasiswa dan memiliki lulusan terbanyak. 

Maka perlu juga untuk mengantasipasi bahwa akan ada masa dimana terjadi ledakan jumlah lulusan yang kesulitan mendapatkan pekerjaan mengingat akses pendidikan dan kesehatan yang terbatas untuk wilayah seperti NTT.

Jangan sampai terjadi kondisi dimana lulusan perguruan tinggi mengalami over qualified karena upah yang diterima tidak sesuai dengan usaha yang dikeluarkan dan kompetensi keilmuannya.

Beberapa perguruan tinggi sudah mulai dengan prodi-prodi vokasional seperti
pertanian, peternakan, dan kewirausahaan. 

Ada juga perguruan tinggi yang memulai prodi teknik, politeknik dan menjadi tuan rumah peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis. 

Sebuah kebanggaan bahwa NTT hari ini jauh lebih baik dari NTT hari kemarin. 

Transformasi pendidikan di NTT yang semakin positif ini diharapkan dapat
mendukung generasi muda untuk mendapatkan akses pendidikan yang semakin
terbuka dan mulai menggeser point of view bahwa sukses bukan lagi menunggu dan berharap menjadi ASN tetapi mejadi local champion melalui pemberdayan potensi dan memperkuat ekonomi kewilayahan.

Sisi lain, geliat ekonomi rakyat juga terus hidup. Hal ini bisa dibuktikan dari hadirnya koperasi di hampir seluruh kabupaten/kota dan desa. 

Hadirnya koperasi terasa sangat membantu pergerakan ekonomi rakyat di luar lembaga keuangan konvensional. 

Salah satu yang perlu dijaga adalah kondisi keuangan yang sehat dan proporsional di tengah frame pekerjaan yang rentan akan working poor dan over work. 

Hal ini cukup beralasan karena keanggotaan koperasi masih didominasi oleh mereka yang bekerja di sector formal menurut data BPS NTT tahun 2025 sebesar 6,81 persen jika dibandingkan dengan kelompok miskin yang tidak bekerja di atas usia 15 tahun sebesar 28,49 persen dan mereka
yang bekerja di sektor informal berjumlah 64,69 persen. 

Ada gap yang cukup lebar antara mereka yang memiliki penghasilan tetap dengan mereka yang memiliki penghasilan tidak tetap atau bahkan sama sekali tidak memiliki penghasilan.

Persepsi dan kapasitas kewirausahaan juga patut mendapat perhatian. Kewirausahaan (entrepreneurship) bukan lagi menjawab pertanyaan mengapa saya berjualan pisang goreng, tetapi bagaimana pisang goreng ini tetap laris, tetap memuaskan pelanggan, dan yang terpenting adalah tetap sustain dengan pilihan produk dan rasa yang variatif.

Kewirausahaan juga bukan hanya sebesar modal/investasi, tetapi seberapa tekun menjalaninya. 

Karakter kewirausahaan ini sekiranya dapat mengubah definisi sejahtera dari menjadi pegawai ke inisiator bisnis yang mandiri dan melahirkan lebih banyak entrepeneur muda dari NTT.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved