Rabu, 15 April 2026

Opini

Opini: Ketika Cinta Ditentukan Oleh Ternak- Kritik atas Inflasi Belis di NTT

Secara kultural, belis memiliki makna sakral. Perempuan dipandang sebagai “Rahim kehidupan”, sumber keberlanjutan generasi. 

Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO
Rolandus Yosep Dosi 

Oleh: Rolandus Yosep Dosi 
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Widya Mandira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Tradisi belis di Nusa Tenggara Timur ( NTT) merupakan salah satu warisan budaya yang hingga kini tetap hidup dan dijaga oleh masyarakat. 

Dalam nilai idealnya, belis bukan sekadar pemberian materi, melainkan simbol penghormatan kepada perempuan dan keluarganya, sekaligus tanda keseriusan laki-laki dalam membangun rumah tangga. 

Namun dalam dinamika sosial modern, praktik belis mengalami pergeseran makna. 

Besarannya yang terus meningkat—dipengaruhi status sosial, tingkat pendidikan, latar belakang keluarga, bahkan gengsi— memunculkan fenomena yang patut disebut sebagai “inflasi belis”. 

Tulisan ini bertolak dari tesis bahwa inflasi belis telah menggeser esensi luhur tradisi menjadi beban ekonomi dan simbol prestise sosial, sehingga membutuhkan refleksi kritis agar tetap relevan dengan konteks masyarakat masa kini. 

Baca juga: Opini: Kalau Bangga Bayar Belis, Harus Malu Cucu Otak Setengah

Kritik ini bukanlah upaya meniadakan adat, melainkan usaha mengembalikan belis pada makna dasarnya: simbol penghormatan dan ikatan kekeluargaan yang proporsional.

Topik ini penting diangkat karena belis bukan sekadar konsep normatif dalam buku adat, melainkan realitas konkret yang dihadapi banyak keluarga, terutama di wilayah Flores, Sumba, dan Timor, Lembata, Alor, Rote dan Sabu. 

Tradisi ini berakar kuat dalam sejarah dan mengandung nilai filosofis yang mendalam tentang penghormatan, tanggung jawab, serta relasi antar-keluarga. 

Namun dalam perkembangan sosial-ekonomi yang semakin kompleks, muncul dinamika baru yang tidak bisa diabaikan. 

Peningkatan jumlah ternak, emas, dan uang dalam penentuan belis sering menjadi perbincangan hangat. 

Tidak sedikit pemuda menunda pernikahan bertahun-tahun demi memenuhi tuntutan adat. Bahkan ada yang merantau jauh untuk bekerja keras mengumpulkan biaya. 

Dalam situasi seperti ini, muncul pertanyaan mendasar: apakah belis masih murni simbol penghargaan, atau telah berubah menjadi tolok ukur gengsi sosial?

Secara kultural, belis memiliki makna sakral. Perempuan dipandang sebagai “Rahim kehidupan”, sumber keberlanjutan generasi. 

Karena itu, belis merupakan bentuk terima kasih dan penghormatan kepada keluarga perempuan yang telah membesarkan dan mendidik anak gadis mereka. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved