Opini
Opini: Meramadankan Keakuan Manusia
Puasa menjadi jalan disiplin diri yang menata ulang struktur batin manusia untuk menemukan kembali dirinya yang hanif.
Tujuan dari perintah puasa agar supaya kamu bertakwa. “Diwajibkan atas kamu berpuasa … agar kamu bertakwa.” (Q.S Al-Baqarah [2]:183).
Secara syariat, puasa itu menahan diri dari kebutuhan biologis. Secara hakikat puasa mendidik kita untuk menahan diri dari segala bentuk perbuatan buruk, mengendalikan nafsu dan mendekatkan diri kepada Ilahi, sang “Sangkan paran dumadi”.
Puasa adalah madrasah ruhaniah untuk penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). inti ibadah puasa bukanlah sekadar tindakan lahiriah, melainkan transformasi batin.
Nafsu — yang dalam kerangka Al-Ghazali merupakan sumber dominasi hasrat dan ego — harus dididik, bukan dituruti.
Puasa menjadi jalan disiplin diri yang menata ulang struktur batin manusia untuk menemukan kembali dirinya yang hanif.
Dengan demikian puasa menjadi tirakat pembakaran keakuan (nafsu) yang menguasai diri, mematikan berhala dalam diri, memutus mata rantai penghambaan kepada selain Allah yang membelenggu diri manusia.
Berpuasa di bulan Ramadan menjadi api kesadaran yang perlahan mengikis kerakusan, meredam egoisme, dan menenangkan hasrat yang tak pernah puas yang menjadi problem penyakit manusia modern.
Dunia kontemporer hari ini mengakibatkan manusia kehilangan orientasi transcendental, mendorong manusia terus merespons hasratnya.
Puasa justru mengajarkan sebaliknya: kemampuan menahan di tengah kebiasaan menumpahkan, memilih mengendalikan dibanding melampiaskan, Ia membangun kesadaran bahwa tidak semua yang diinginkan harus dipenuhi, tidak semua yang bisa dilakukan harus dilakukan.
Dengan demikian, Ramadan adalah proyek meramadankan keakuan manusia. Ramadan sejatinya adalah momentum paling tepat untuk meruntuhkan tirani “aku” yang absolut.
Menata ulang pusat kehidupan agar menjadi manusia merdeka, tak teralienasi.
Ramadan menghadirkan kembali Tuhan dalam kesadaran manusia, menjadi manusia yang bertakwa. (*)
Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News
Idharsyah T. Dasi
Opini Pos Kupang
Berkah Bulan Ramadan
Amalan Bulan Ramadan
Puasa di Bulan Ramadan
| Opini - Suanggi Dalam Pertarungan Pengetahuan: Antara Keyakinan Lokal dan Rasionalitas Moderen NTT |
|
|---|
| Opini - Budaya yang Mengalir: Reinterpretasi Tradisi Lokal NTT melalui Kosmologi Heraklitos |
|
|---|
| Opini: Duduk Melingkar Bersama Guru- Proficiat, Prof. Otto Gusti Madung |
|
|---|
| Opini: Imam Cendekiawan Organik |
|
|---|
| Opini: Paradoks Hari Kartini |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Idharsyah-T-Dasi.jpg)