Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Bulai

Bulai mengingatkan bahwa alam bergerak dalam dinamika kompleks. Pengelolaan menuntut kerendahan hati dan ketekunan ilmiah. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YOSEPH YONETA M. WUWUR
Yoseph Yoneta Motong Wuwur 

Oleh: Yoseph Yoneta Motong Wuwur
Warga Lembata, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Jagung berpotensi memberi hasil tinggi. Namun, penyakit bulai sering muncul di lapangan. 

Daun perlahan memucat dan muncul garis-garis klorotik. Pada tahap lanjut, tanaman kerdil dan gagal membentuk tongkol. Serangan dini hampir selalu menurunkan hasil total.

Bulai disebabkan patogen oomycetes seperti Peronosclerospora maydis. Ia menyerang jaringan muda dan menyebar sistemik ke seluruh tanaman. 

Infeksi cepat dan sering tak disadari, kerusakan terjadi sejak fase awal pertumbuhan. 

Baca juga: Opini: Makna Prapaskah bagi Nusa Tenggara Timur

Gejala awal sering samar dan disalahartikan sebagai kekurangan hara, sehingga respons pengendalian terlambat.

Penyakit ini bukan sekadar masalah estetika daun. Fotosintesis terganggu dan metabolisme terhambat. Potensi produksi merosot tajam, sementara spora terbawa angin dan menyebar luas. 

Dalam satu musim, serangan berat bisa memusnahkan sebagian besar tanaman. Wabah senyap ini menuntut kewaspadaan kolektif sejak dini. 

Biologi Infeksi Sistemik

Bulai bersifat sistemik. Patogen masuk melalui stomata atau jaringan muda dan mengikuti aliran nutrisi tanaman. 

Seluruh organ vegetatif dapat terkolonisasi, sehingga infeksi tidak berhenti di titik awal.

Pada malam lembap, patogen membentuk sporangium di permukaan bawah daun. Struktur ini menjadi sumber inokulum sekunder. 

Infeksi baru muncul dan siklus berulang selama kondisi lingkungan mendukung. Penyebaran berlangsung cepat dan luas.

Suhu hangat dan kelembapan tinggi sangat ideal bagi penyakit ini. Di wilayah tropis, kondisi tersebut menjadi norma. 

Risiko bulai bersifat struktural, sehingga pengendalian tidak bisa bersifat reaktif. Kewaspadaan harus dibangun sejak awal.

Infeksi sistemik menjelaskan mengapa fungisida kontak sering kurang efektif bila terlambat diaplikasikan. Saat patogen telah menyebar di dalam jaringan, intervensi menjadi terbatas. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved