Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Evaluasi Kritis Satu Tahun Kepemimpinan Melki-Johni

Rakyat tidak butuh yang retoris; rakyat butuh aksi nyata yang berdampak pada keberlanjutan hidup mereka. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI APRIANUS GUN
Aprianus Gun 

Oleh: Aprianus Gun
Mahasiswa  Fakultas Filsafat Widya Mandira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Tepat satu yang lalu yaitu pada 20 Februari 2025, euphoria kemenangan menyelimuti pasangan  Emanuel Melkiades Laka Lena dan  Johanis Asadoma. 

Dengan jargon perubahan dan janji-janji kesejahteraan yang melangit, mereka berhasil menyakinkan mayoritas pemilih bahwa masa depan daerah NTT ini berada di tangan yang tepat. 

Namun kekuasaan bukan sekadar angka di atas kertas suara; ia adalah mandat yang menuntut pembuktian melalui kebijakan nyata. 

Setelah 365 hari berlalu, pertanyaan mendasarnya adalah: sejauh mana janji kampanye telah bertransformasi menjadi realita bagi rakyat?

Fondasi yang Retak atau Transisi yang Alot? 

Satu tahun pertama sering kali disebut sebagai "masa bulan madu". Namun, bagi pasangan Melki-Johni, bulan madu ini terasa singkat karena langsung dihadapkan pada tumpukan masalah struktural yang diwariskan rezim sebelumnya. 

Baca juga: Respons Gubernur NTT Soal Hasil Survei 80 Persen Publik Puas Kinerja Melki - Johni 

Kita harus objektif melihat bahwa pembenahan birokrasi dan sikronisasi anggaran memerlukan waktu. Namun, objektivitas tidak boleh berubah menjadi pemakluman yang buta. 

Salah satu janji utama Melki-Johni adalah reformasi birokrasi  yang bersih dan efisien. Pada praktiknya, kita masih melihat adanya pola "bongkar-pasang" jabatan yang lebih kental nuansa balas budi politik ketimbang meritokrasi. 

Penempatan orang-orang di posisi strategis masih sering menjadi perbincangan di koridor-koridor pemerintahan- apakah mereka di sana karena kompetesi, atau karena kontribusi selama masa kampanye? 

Jika birokrasi sebagai mesin pengerak masih terhambat  oleh nepotisme terselubung, maka akselerasi pembangunan yang dijanjikan hanyalah angan-angan.

Ekonomi: Antara Angka Pertumbuhan dan isi Piring Nasi

Di sektor ekonomi, narasi yang dibangun pemerintah adalah pertumbuhan yang stabil. Namun, ada jurang lebar antara statistik makro dan realitas mikro di pasar-pasar tradisional. 

Melki-Johni  menjanjikan ketersedian lapangan kerja melalui hilirisasi potensi lokal dan pemberdayaan UMKM. 

Secara data, mungkin ada kenaikan investasi, namun pertanyaannya: investasi untuk siapa? 

Jika  proyek-proyek besar masih didominasi oleh kontraktor luar dan tenaga kerja asing tanpa transfer ilmu yang signifikan, maka masyarakat lokal tetap menjadi penonton di tanah sendiri. 

Inflasi harga pangan di tingkat daerah juga menjadi rapor merah yang sulit diabaikan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved