Kamis, 23 April 2026

Opini

Opini: Harmoni Semesta- Tiga Jalan, Satu Tujuan Menuju Fitrah 

Mari jadikan momentum langka ini sebagai titik balik untuk menjadi manusia yang tidak hanya beragama, tapi juga ber-Tuhan. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MUHAMMAD G.ARIFOEDDIN
Muhammad G. Arifoeddin 

Allah SWT berfirman:

"Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain." (QS. Thaha [20]: 55)

Momentum ini mengajak kita menundukkan wajah ke tanah (sujud), mengakui bahwa kita kecil di hadapan Yang Maha Besar. 

Becoming true (menjadi benar) berarti mengakui posisi kita sebagai hamba (Abdullah), bukan penguasa mutlak.

Awal Puasa dan Latihan Empati (Discipline & Solidarity)

Puasa digambarkan sebagai latihan menahan diri dan mengasah empati. Ini adalah inti dari Taqwa. 

Puasa bukan sekadar ritual lapar-dahaga, melainkan sebuah madrasah untuk merasakan penderitaan orang lain dan mengekang hawa nafsu yang liar.

Tujuannya adalah mencetak pribadi yang bertakwa, sebagaimana firman-Nya:

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Lebih jauh, puasa memecahkan sekat-sekat egoisme. Dengan lapar, seorang aktivis, pemimpin, atau orang kaya sekalipun, dipaksa turun ke level yang sama dengan kaum papa. Inilah bentuk solidaritas kemanusiaan tertinggi yang diajarkan agama.

Kesimpulan: Fastabiqul Khairat dalam Keberagaman

Pertemuan Imlek, Rabu Abu, dan Awal Puasa adalah manifestasi nyata dari kehendak Tuhan menciptakan keberagaman, bukan untuk saling menegasikan, tetapi untuk saling berlomba dalam kebaikan menuju-Nya.

Pesan "Satu Hati" dalam tulisan ini adalah cerminan dari ayat Al-Qur'an yang sangat indah tentang pluralitas dan kompetisi kebajikan:

"Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikanmu satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan..." (QS. Al-Ma'idah [5]: 48)

Intisari Spiritual

Apapun gerbang yang kita masuki—apakah itu gerbang pembaruan (Imlek), gerbang pertobatan (Rabu Abu), atau gerbang pengendalian diri (Puasa)—semuanya bermuara pada satu titik: Hati yang Salim (Qolbun Salim). 

Hati yang selamat, yang damai, dan yang kembali kepada Tuhan dengan ridha.

Mari jadikan momentum langka ini sebagai titik balik untuk menjadi manusia yang tidak hanya beragama, tapi juga ber-Tuhan. 

Manusia yang visinya seluas langit, namun kakinya tetap berpijak rendah hati di bumi.  (*)

Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved