Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Bunuh Diri- Representasi Kemiskinan Ekstrem dan Lemahnya Kebijakan Publik

  Kemiskinan itu pun diperparah oleh lemahnya daya kebijakan publik dalam mengakomodasi kebutuhan masyarakat. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI GEBRILE MIKAEL M UDU
Gebrile Mikael Mareska Udu. 

Oleh: Gebrile Mikael Mareska Udu
Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

POS-KUPANG.COM - Miris dan Tragis! Kasus bunuh diri kembali mencuat di Indonesia. YBR (10), siswa kelas IV pada salah satu Sekolah Dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), tewas karena gantung diri. 

Alasan dibalik tindakan tersebut lantaran tidak terpenuhinya kebutuhan YBR akan buku dan pena oleh orang tua. 

Lebih jauh masalah ini menyangkut masalah kemiskinan ekstrem yang melanda keluarga korban. Ibunya adalah orang tua tunggal dengan 5 anak tanpa sosok seorang ayah.

Secara global, kasus bunuh diri merupakan persoalan serius yang dihadapi oleh setiap negara berpenghasilan rendah maupun tinggi. Dalam beberapa tahun terakhir, korban didominasi oleh kelompok usia muda. 

Baca juga: Opini: Molo Mama, Molo Indonesia

Data terakhir yang dirilis oleh Pusiknas Bareskrim Polri, sebanyak 1270 kasus bunuh diri yang ditangani oleh pihak kepolisian sejak Januari sampai November 2025. 

Data tersebut belum termasuk kasus bunuh diri terbaru sebagaimana yang terjadi di Kabupaten Ngada

Kasus bunuh diri adalah ancaman serius bagi keberlangsungan negara. Emile Durkheim, sosiolog asal Prancis menyebutnya bukan sekadar tindakan individu untuk mengakhiri hidupnya melainkan fenomena sosial dan indikator patologi (sakit) masyarakat yang mengganggu stabilitas negara. 

Bunuh diri mengindikasikan lemahnya integrasi sosial dan krisis regulasi dalam sebuah negara yang pada akhirnya menyebabkan negara dalam situas chaos.

Bunuh diri sebagai Ancaman Negara

Ancaman bunuh diri bagi negara sebagaimana dimaksud oleh oleh Emil Durkheim, dapat dijelaskan dalam empat jenis bunuh diri (Ritzer, 2014). 

Pertama, bunuh diri egoistis. Tipe ini sering ditemukan dalam masyarakat modern yang cenderung individualistis. 

Keputusan untuk melakukan bunuh diri terjadi ketika lemahnya ikatan atau interaksi sosial dari individu dengan unit sosial yang luas. 

Hal tersebut lantas mengancam negara bukan karena tindakan individual semata tetapi nilai yang sedang luntur di tengah masyarakat. 

Bunuh diri egoistis mengartikulasikan lemahnya solidaritas sosial, dan lunturnya rasa kepedulian kolektif akan sesama yang lain. individu juga merasa bahwa negara tidak bermakna baginya. 

Bunuh diri egoistis menandakan bahwa negara mengalami kehilangan ikatan batin dengan rakyatnya. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved