Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Belajar Tinggi di Kelas Rendah

Pembelajaran di kelas rendah SD masih dipraktikkan sekadar sebagai transfer pengetahuan, bukan pembentukan cara berpikir. 

Editor: Dion DB Putra
DOK POS-KUPANG.COM
Antonius Nesi 

Oleh:  Antonius Nesi
Dosen Prodi PBSI, FKIP Unika St. Paulus Ruteng, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Kemampuan literasi dan numerasi siswa SD di Nusa Tenggara Timur ( NTT) masih mengekor di level rendah meskipun angka partisipasi dan kelulusan sekolah relatif tinggi. 

Temuan Asesmen Nasional, laporan berbagai riset mutakhir, serta reportase investigatif media nasional dan lokal menunjukkan bahwa lebih banyak siswa SD di NTT belum mampu membaca pemahaman dan menggunakan keterampilan berhitung secara memadai. 

Kondisi ini mengindikasikan lemahnya penguatan fondasi pembelajaran pada jenjang kelas rendah SD yang sesungguhnya menjadi dasar seluruh proses pendidikan berikutnya (Kompas, 12/5/2025).

Masalah tersebut sesungguhnya bukan hanya persoalan keterbatasan fasilitas dan kondisi geografis, melainkan persoalan paradigma pembelajaran. 

Baca juga: Opini: Pendidikan Kita- Perut Kenyang, Kantong Kencang, Otak Melayang?

Pembelajaran di kelas rendah SD masih dipraktikkan sekadar sebagai transfer pengetahuan, bukan pembentukan cara berpikir. 

Di sekolah siswa dilatih untuk menjawab soal sesuai buku, tidak dibiasakan untuk mengemukakan alasan; siswa disuruh untuk menghafal definisi, tidak diarahkan untuk memahami, membedakan, dan menganalisis gejala. 

Pola pembelajaran seperti itu membuat siswa tidak terbiasa bernalar sejak dini, sehingga kesulitan ketika dihadapkan pada tuntutan berpikir yang lebih kompleks di jenjang berikutnya. Jadi, persoalan rendahnya hasil TKA di tingkat menengah perlu juga dilihat dari akarnya.

Sesungguhnya, kegagalan siswa berpikir kritis dan  kreatif pada jenjang-jenjang berikutnya berakar pada pembelajaran awal yang miskin tantangan. 

Padahal, kualitas pembelajaran di kelas rendah, terutama harus didorong pada level kognitif seperti menanya, menalar, dan merefleksikan proses berpikirnya. Dengan itu, ada dampak jangka panjang terhadap capaian hasil belajar. 

Rendahnya mutu pembelajaran di kelas rendah menjadi fondasi rapuh bagi keseluruhan bangunan pendidikan, sehingga hal itu harus diantisipasi melalui prinsip “belajar tinggi” (Hattie, 2023).

Dalam konteks inilah gagasan “belajar tinggi di kelas rendah” menjadi relevan dan mendesak. Belajar tinggi tidak berarti membebani siswa kelas rendah dengan materi abstrak atau konsep akademik yang rumit. 

Belajar tinggi merujuk pada pengembangan HOTS yang adaptif, kontekstual, dan bermakna sesuai tahap perkembangan siswa. 

Pembelajaran kelas rendah mesti diarahkan pada proses berpikir yang melampaui hafalan, seperti membandingkan, memberi alasan, menarik simpulan sederhana, serta memecahkan masalah kontekstual. 

Proses-proses ini justru lebih efektif ditumbuhkan sejak dini melalui aktivitas sederhana yang menantang cara berpikir, bukan melalui penumpukan materi dengan latihan soal yang jawabannya terdapat dalam modul.

Penting Menanya

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved