Opini
Opini: Kleine Soenda Eilanden
Masyarakat NTT tentunya perlu menyambut dan bersiap diri untuk terlibat di dalam kerja sama Sunda Kecil untuk mendatangkan manfaat yang besar.
Oleh : Emanuel Kolfidus
Pegiat literasi, tinggal di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Tiga Gubernur di gugus kepulauan Sunda Kecil (Kleine Soenda Eilanden), yakni NTT, NTB dan Bali memggagas kerja sama antar daerah ditandai Penandatanganan Kerjasama Regional NTT, NTB dan Bali, di Labuhan Bajo, Manggara Barat, Rabu, 28 Januari 2026.
Disebutkan bahwa inisiasi ini dalam rangka membangun persaudaraan Kawasan Sunda Kecil dan membuka babak baru Pembangunan Indonesia Timur dalam naskah Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan fokus pada lima bidang strategis.
Kelima bidang meliputi konektivitas transportasi, pariwisata dan ekonomi kreatif, energi terbarukan, peragangan dan ekspor serta integrasi perencanaan pembangunan.
Baca juga: BREAKING NEWS: Kejari Kota Kupang Tetapkan Komut Christa Jaya Christofel Liyanto sebagai Tersangka
Perisitiwa ini, mengingatkan penulis 18 tahun lalu, langkah yang sama dilakukan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, dengan menginisiasi kerja sama Sunda Kecil dengan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dalam MoU Nomor 415.4/4/11 Tahun 2008 dan Nomor Hk. 33 Tahun 2008 untuk program ekonomi, pariwisata dan budaya, perhubungan, agribisnis, konservasi dan kesejahteraan sosial.
Apa yang dilakukan Gubernur Frans Lebu Raya dan sekarang oleh Gubenur Melki Laka Lena sebenarnya berangkat dari jejak sejarah dimana sejak abad ke-14 M bahkan abad ke-10 M, Sunda Kecil (baca : NTT, NTB dan Bali) sudah terkenal ke seantero dunia karena pesatnya perdagangan “internasional” meliputi Cina, Eropa dan Mauritius, negara kepulauan di barat daya Samudera Hindia, sekitar 900 km dari sebelah Timur Madagaskar.
Upaya kerja sama kembali seperti membangkitkan memori masa silam akan kejayaan ekonomi Sunda Kecil.
Peluang
Kerjasa Sunda Kecil memang memiliki peluang atau potensi ekonomi mengingat sejumlah kesamaan sumber daya.
Bali yang kesohor dengan pariwisata dunia, dapat memberikan dampak positif bagi NTB yang juga memiliki beberapa keunggulan wisata termasuk gelaran event internasional MotoGP di Sirkuit Mandalika.
Demikian pula NTT tidak kalah dengan kawasan wisata premium Labuhan Bajo ditambah jejeran aneka wisata sepanjang pulau Flores, Adonara, Solor, Lembata, Alor, Timor, Sabu Raijua, Rote Ndao dan Sumba.
Bidang pariwisata, rasanya mnejadi andalan dan icon dalam kerja sama ini.
Kita dapat melihat sejauh mana kinerja pwriwisata di tiga provinsi ini kemudian cara atau strategi menciptakan pertumbuhan yang seimbang.
Berdasarkan data kinerja tahun 2024 hingga proyeksi 2025/2026, Bali masih mendominasi secara absolut sebagai pusat pariwisata internasional, sementara NTB dan NTT tumbuh pesat sebagai destinasi khusus (sport tourism dan eco-tourism).
Ketiga wilayah ini sedang diintegrasikan dalam "Segitiga Emas" pariwisata Indonesia untuk meningkatkan konektivitas.
Mari kita melihat data potensi wisata di tiga provinsi. Bali sebagai pemimpin pasar, dengan kinerja 2024-2025 sangat baik, mencetak rekor baru dengan perkiraan kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 7,05 juta pada 2025, naik dari 6,3 juta pada 2025, menyumbang sekitar 44-53 persen dari total devisa pariwisata nasional.
Bali memiliki karakteristik wisata massal (mass tourism), leisure, budaya, dan wellness dengan keunggulan infrastruktur matang, konektivitas udara yang padat, dan brand global yang kuat.
NTB hadir dengan kinerja pariwisata berupa pertumbuhan pesat didorong oleh kawasan Mandalika (Kuta Mandalika) dan event olahraga internasional dengan karakteristik pada sport tourism (MotoGP, WSBK) dan wisata alam (Lombok, Sumbawa).
Memiliki konektivitas hubungan terdekat dengan Bali (udara, darat dan laut), dengan penerbangan langsung dan akses laut yang semakin baik, berperan sebagai penopang utama pariwisata Bali, terutama dalam menarik niche market (pecinta otomotif/petualangan).
Sementara NTT hadir dengan destinasi Premium & Eco-Tourism, dengan kinerja pariwisata dengan pertumbuhan fokus pada Labuan Bajo (Manggarai Barat) sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP).
Wisata NTT berkarakteristik eco-tourism (Taman Nasional Komodo), wisata budaya, dan bahari, memiliki keunggulan pengalaman premium dan eksklusif yang berbeda dari pariwisata massal di Bali, dengan tantangan infrastruktur di luar Labuan Bajo masih terbatas dan konektivitas udara yang perlu ditingkatkan.
Dalam hal ini telah lahir konsep pariwisata Labuhan Bajo Flores terintegrasi, yang juga perlu menjangkau Alor, Timor, Sabu, Rote dan Sumba dengan ekostisme tersendiri sebagai pulau sandlewood.
Tantangan
Kita perlu mencari apa saja tantangan-tantangan yang dihadapi NTT dalam proses kerja sama dimaksud agar kemajuan Sunda Kecil terintegrasi dalam nafas Kepulauan Nusa Tenggara sebagai satu kesatuan.
Karena itu, NTT perlu memiliki kerendahan hati untuk mau belajar atau menimba ilmu dari Bali dan NTB, dalam hal kemanfaatan pariwisata yang terdistribusi merata ke semua gugus pulau-pulau di NTT daripada hanya terpusat di Labuhan Bajo yang sangat premium itu.
Apa artinya memiliki Labuhan Bajo jika tidak memberi efek domino pada aliran larva ekonomi ke seluruh wiilayah NTT sebagai gugusan kepulauan indah dan elok.
Karena itu, Pemerintah NTT perlu memastikan bahwa elitisme Labuhan Bajo adalah elitisme yang dermawan dan adil bagi kabupaten dan kota lainnya di NTT.
NTT selain membangun sinergi antar provinsi di Sunda Kecil, harus segera membangun sinergi internal oleh pemerintah dengan pelaku usaha dan masyarakat, untuk memaksimalkan potensi pariwisata di NTT include memaksimalkan promosi wisata serta menata dengan baik infrastruktur.
Beberapa hal yang dapat dilakukan yakni membenahi transportasi, akomodasi, frasilitas umum, kampanye digital, pameran pariwisata, pelatihan Bahasa asing, pelatihan hospitality dan pelatihan ketrampilan khusus terutama bagi Masyarakat yang tinggal atau berada di sekitar kawasan wisata, juga tidak boleh dilupakan, kesiagaan bencana di setiap spot wisata.
Ada hal menarik dari kerja sama Sunda Kecil yakni pada point integrasi perencanaan pembangunan.
NTT perlu mencermati atau bisa disebut belajar dari Provinsi Bali yang sudah menerapkan sistem atau pola perencanaan pembangunan daerah terintegrasi untuk sembilan kabupaten/kota di sana.
Model perencanaan pembangunan Provinsi Bali menggunakan pendekatan Pola Pembangunan Semesta Berencana (PPSB) dengan visi “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”, yang berfokus pada menjaga kesucian dan keharmonisan alam, manusia, serta budaya Bali secara sakala (sekular/nyata) dan niskala (spiritual).
Model ini berlandaskan filosofi Tri Hita Karana yang dijabarkan melalui kearifan lokal Sad Kerthi, dilaksanakan secara terintegrasi satu pulau, satu pola, dan satu tata kelola.
Perlu diperhatikan bahwa tiga Sunda Kecil ini memiliki karakteristik budaya dan agama yang khas.
Dapat disebut Bali sebagai provinsi Hindu, NTB sebagai provinsi Islam dan NTT sebagai provinsi Kristiani yang tentunya akan selalu menjadi sinar atau cahaya penuntun bagi perencanaan maupun kebijakan pembangunan di masing-masing provinsi, maka, integrasi rencana Pembangunan Sunda Kecil akan berada dalam naungan nasionalisme – humanis di bawah payung Pancasila dengan metode kerja gotong royong dan musyawarah.
Masyarakat NTT tentunya perlu menyambut dan bersiap diri untuk terlibat di dalam kerja sama Sunda Kecil untuk mendatangkan manfaat yang besar.
Kerja sama Sunda Kecil ini merupakan kolaborasi di mana Bali bertindak sebagai hub (pusat kedatangan), sementara NTB dan NTT menjadi destinasi lanjutan (secondary destination) untuk menciptakan dampak ekonomi yang lebih merata dan membawa kesejahteraan bagi masyarakat di Kleine Soenda Eilanden alias Kepulauan Sunda Kecil. (*)
Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News
Sunda Kecil
Provinsi Sunda Kecil
Provinsi Bali
Provinsi Nusa Tenggara Barat
Provinsi Nusa Tenggara Timur
Eman Kolfidus
Opini Pos Kupang
| Opini: Lamalera dan Dunia yang Hampir Kehilangan Jiwa |
|
|---|
| Opini - Merenungkan Peristiwa Mulia Selama Bulan Maria yang Bertepatan dengan Masa Paskah |
|
|---|
| Opini: Kemanusiaan harus Melampaui Legalitas- Catatan untuk Bupati Ende |
|
|---|
| Opini: Menggugat Timor Kouk |
|
|---|
| Opini: Gugatan Etika atas Euforia Siswa-Siswi NTT Saat Kelulusan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Anggota-DPRD-Provinsi-NTT-dari-Partai-Demokrasi-Indonesia-Eman-Kolfidus.jpg)