Breaking News

Opini

Opini: Mengoptimalkan Lahan Marginal

Jika dikelola cermat, lahan marginal bisa menjadi penopang ketahanan pangan lokal dan sumber diversifikasi pangan nasional.

Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Yoseph Yoneta Motong Wuwur 

Terasering intensif, guludan kontur, dan penanaman legum antarbaris menjaga kesuburan dan mencegah erosi. Teknik konservasi ini mendistribusikan air hujan merata dan mengurangi kekeringan lokal.

Pupuk organik menjadi kunci meningkatkan bahan organik tanah yang tipis. Mulsa dan penutup tanah memperlambat penguapan, menjaga kelembaban, dan mendukung pertumbuhan tanaman sehat serta stabil. Konservasi air menjadi prioritas, terutama saat kemarau panjang.

Dengan teknik konservasi yang tepat, lahan bukit bergunung dapat menghasilkan hortikultura premium secara berkelanjutan. 

Produktivitas tidak mengorbankan kesuburan tanah, dan sistem pertanian menjadi tangguh terhadap perubahan iklim.

Bergelombang Kompleks

Lahan bergelombang-lobang perbukit memiliki kemiringan bervariasi dan 
mikrorelief tidak rata, sehingga risiko erosi tinggi. Tanaman harus adaptif terhadap fluktuasi air dan hara.

Jagung hibrida, kacang-kacangan, ubi kayu, dan sayuran tahan kekeringan paling cocok karena mampu bertahan di bagian tanah tipis sekaligus subur.

Pupuk harus ditempatkan sesuai zona; bagian rendah biasanya lebih subur. Pemupukan organik dan anorganik terpadu membantu menyebarkan kesuburan merata dan meningkatkan efisiensi hara. 

Guludan kontur dan mulsa organik menahan air, tanah, dan mengurangi penguapan.

Rotasi tanaman dan penanaman penutup tanah memperkuat aktivitas mikroba, menahan erosi, dan menjaga kelembaban. 

Langkah ini membuat lahan bergelombang kompleks lebih stabil dan mendukung pertumbuhan tanaman sehat.

Pendampingan teknis sangat penting agar petani memahami adaptasi spesifik ini. 

Dengan pengelolaan tepat, lahan bergelombang-lobang perbukit dapat produktif, stabil, dan berkelanjutan tanpa merusak tanah.

Strategi Produksi Berkelanjutan

Pemilihan tanaman sesuai kontur hanyalah bagian dari strategi pertanian berkelanjutan.

Integrasi konservasi tanah, pupuk organik, manajemen air, dan diversifikasi tanaman menjadi kunci keberhasilan di lahan marginal.

Pendekatan berbasis kontur mengurangi erosi, meningkatkan efisiensi pupuk, dan memanfaatkan air hujan secara optimal. 

Bedengan kontur, guludan, mulsa organik, dan legum antarbaris merupakan teknologi sederhana yang terbukti efektif meningkatkan produktivitas.

Diversifikasi tanaman memperkuat ketahanan pangan lokal dan stabilitas ekonomi petani.

Varietas adaptif, dan pengelolaan berbasis lokasi menjadi faktor penentu sukses jangka panjang.

Dengan strategi ini, lahan marginal bukan lagi beban. Lahan dapat berfungsi sebagai aset produktif, adaptif, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung masa depan pertanian yang tangguh terhadap perubahan iklim. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved