Opini
Opini: Mengoptimalkan Lahan Marginal
Jika dikelola cermat, lahan marginal bisa menjadi penopang ketahanan pangan lokal dan sumber diversifikasi pangan nasional.
Mulsa organik memperkuat struktur tanah, menjaga kelembaban, dan menyediakan hara tambahan.
Penanaman legum antarbaris memperbaiki kesuburan tanah secara alami. Rotasi tanaman menjaga tanah tetap produktif dan merangsang aktivitas mikroba.
Pemupukan terpadu organik dan anorganik meningkatkan efisiensi serapan hara dan memperkuat daya tahan tanah.
Dengan pendekatan ini, lahan bergelombang tinggi dapat menjadi produktif dan stabil.
Produktivitas tidak mengorbankan kesuburan tanah, dan sistem pertanian menjadi lebih berkelanjutan serta adaptif terhadap perubahan iklim.
Perbukitan Ringan
Lahan bukit perbukit dengan kemiringan 15–30 persen menuntut strategi konservasi intensif.
Tanaman keras seperti sorgum, ubi jalar, kacang tanah, dan hortikultura keras lebih sesuaikarena tahan terhadap erosi dan fluktuasi kelembaban.
Tersering sederhana dan bedengan kontur menahan erosi, meningkatkan infiltrasi air, dan menyebarkan hujan merata.
Langkah ini mengurangi kekeringan lokal dan menjaga kesuburan tanah tetap stabil.
Mulsa organik menambah bahan organik, menahan kelembaban, dan menyediakan nutrisi tambahan.
Pemupukan organik dan anorganik terpadu memperkuat tanah tipis yang miskin hara, sehingga tanaman tumbuh sehat dan produktif.
Pohon peneduh atau pagar hidup menahan lereng sekaligus menambah nilai ekonomi.
Pendampingan intensif diperlukan agar petani menguasai teknik konservasi dan memaksimalkan hasil tanpa merusak tanah.
Bukit Bergunung
Lahan bukit hingga bergunung dengan kemiringan 30–45 persen memiliki risiko tinggi erosi dan degradasi tanah. Tanaman harus fokus pada ketahanan terhadap kondisi ekstrem.
Pohon buah, kopi, kakao, tebu, dan tanaman keras lokal lebih adaptif karena sistem perakarannya kuat dan menahan tanah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yoseph-Yoneta-Motong-Wuwur.jpg)