Opini
Opini: Saatnya Kita Menyehatkan Keluarga
Beberapa fakta itu semakin meyakinkan kita tentang pentingnya institusi keluarga dalam berbagai urusan di muka bumi ini.
Oleh: Saverinus Suhardin
Dosen di STIKES Maranatha Kupang, Nusa Tenggara Timur
POS-KUPANG.COM - Kita baru saja merayakan Hari Natal 2025 dan tema yang diusung oleh PGI dan KWI kali ini sangat menarik untuk direnungkan: “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga”.
Dari berbagai khotbah dan surat edaran Pemimpin Gereja membuat kita semakin sadar, bahwa keluarga merupakan “gereja” di tingkat rumah tangga.
Beberapa fakta itu semakin meyakinkan kita tentang pentingnya institusi keluarga dalam berbagai urusan di muka bumi ini.
Selain menjadi ladang subur penumbuhan iman, keluarga juga banyak diberi beban berbagai urusan lain.
Misalnya saja, ketika ada isu kenakalan remaja, biasanya selalu muncul solusi agar pembinaan anak tersebut harus dimulai dari keluarga.
Baca juga: Opini: Selamat Datang Buku Baru Tahun 2026
Ada banyak lagi urusan lainnya yang pada akhirnya dibebankan kepada keluarga, termasuk kesehatan atau keperawatan.
Sebagai perawat, saya banyak sekali membaca, mendengar, dan mengamati berbagai fenomena masalah kesehatan yang ujung-ujungnya dikaitkan dengan peran keluarga.
Keluarga bisa menjadi penentu kesehatan semua anggota yang ada di dalamnya; bisa menjadi sumber pendukung untuk mencegah penyakit tertentu; orang yang selalu ada dan memberikan perawatan ketika ada yang sakit; dan kalau kondisi sakitnya berkepanjangan, hanya keluarga yang bertahan untuk merawat.
Pendek kata, segala macam urusan sehat-sakit kita tidak bisa dilepaskan dari keluarga.
Umberson dan Thomeer (2020), menulis tentang konsep Linked Lives (hidup yang saling terhubung) dalam artikel "Family Matters: Research on Family Ties and Health, 2010 to 2020" yang terbit di Journal of Marriage and Family.
Konsep itu menegaskan bahwa kesehatan individu tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan sangat bergantung pada kesehatan, perilaku, dan pengalaman anggota keluarga lainnya.
Keluarga Kuat, NTT Sehat
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Lakalena, sudah 2 kali menghadiri prosesi wisuda di STIKES Maranatha Kupang dan tiap kali datang selalu menitipkan pesan agar sama-sama menyelesaikan berbagai masalah kesehatan di NTT seperti stunting, masih tingginya angka kematian ibu dan anak, HIV/AIDS, TBC, dan masih banyak lainnya.
Kompleksitas persoalan kesehatan di NTT tidak saja banyak, tapi juga unik.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT, drg. Iien Adriany, M.Kes, pada saat penandatanganan PKS (Perjanjian Kerja Sama) dengan lembaga keagamaan dan institusi pendidikan kesehatan yang berlangsung Jumat (12/12/2025) lalu sempat menggambarkan kondisi tersebut.
Ia mengatakan bahwa, hampir semua masalah kesehatan yang ada di Indonesia dan dunia pada umumnya ada juga di NTT.
Tapi pada kondisi tertentu, ada juga masalah kesehatan yang hanya ada di NTT dan belum atau tidak ada di tempat lain.
Kondisi itu semakin rumit dengan terbatasnya fasilitas dan tenaga kesehatan untuk melayani semua masyarakat yang tersebar di wilayah kepulauan ini.
Sebagai gambaran saja, jumlah dokter yang tercatat di NTT pada tahun 2023 hanya 2.058 orang.
Bila kita bagi dengan jumlah penduduk NTT saat itu yang berjumlah sekitar 5,6 juta jiwa, maka rasio dokternya adalah sekitar 0,37 dokter per 1.000 penduduk.
Angka ini sangat rendah jika dibandingkan dengan standar WHO (1 dokter per 1.000 penduduk) atau bila dibandingkan dengan rata-rata nasional.
Tanpa harus menjadi ahli statistik kita sudah bisa memperkirakan bahwa akses layanan kesehatan formal saat ini masih menjadi barang yang mewah.
Memang kita tahu, itu kewajiban negara untuk menyediakan layanan kesehatan yang memadai buat semua sebagaimana konsep UHC (Universal Health Coverage) yang diusung WHO.
Tapi kita juga tahu, negara kita ini sedang berkembang menuju negara maju.
Karena itu, ketimbang kita terus mengeluh yang bisa merusak kesehatan jiwa juga, lebih baik kita mengambil peran dengan memperkuat keluarga masing-masing untuk menghadapi berbagai tantangan kesehatan yang ada.
Lima Tugas Kesehatan Keluarga
Tema Natal 2025 tadi, bila dipandang dari kaca mata iman Kristen, tentunya kita merasakan suka cita yang besar, sebab Allah telah hadir dalam keluarga.
Ia tentunya hadir membawa kekuatan dan semangat baru menyongsong hari-hari mendatang.
Sebagai bentuk rasa syukur, tidak ada salah kita mulai menata kembali keluarga bersama Allah yang telah hadir dalam berbagi urusan, termasuk memperkuat aspek kesehatan.
Ada banyak konsep dan teori kesehatan atau ilmu keperawatan yang menjelaskan bagaimana hubungan antara kesehatan dan keluarga.
Karena keterbatasan halaman, maka kali ini kita fokus dulu untuk sama-sama menyadari lima tugas kesehatan keluarga berdasarkan taksonomi Friedman (2010).
Pertama, mengenal masalah kesehatan setiap anggota keluarga. Proses mengenal masalah kesehatan ini bisa melalui berbagai jalur.
Misalnya, berdasarkan pengalaman sendiri atau informasi dari orang, membaca berita, menyaksikan di media sosial, dan sebagainya.
Apa pun sumber informasinya, keluarga sebaiknya perlu melakukan validasi atau cek kebenaran informasi itu kepada tenaga kesehatan, sebab hoaks atau berita bohong di bidang kesehatan juga sangat melimpah.
Kedua, memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga. Kemampuan membuat keputusan ini sangat berkaitan dengan kemampuan pertama.
Kalau kita sudah mengenal masalah kesehatan dengan baik, maka harusnya bisa membuat keputusan yang tepat dan cepat.
Ada banyak kondisi yang perlu penanganan cepat dan kalau kita lambat mengambil keputusan, bisa saja kondisinya semakin memburuk lalu berujung fatal.
Ketiga, memberi perawatan kepada anggota keluarga yang sakit. Meski kita tidak belajar secara formal di bidang kesehatan, sebagai keluarga kita perlu saling belajar memberikan perawatan yang bisa dilakukan secara mandiri di rumah.
Ada banyak keterampilan yang biasa kita pelajari secara autodidak dan itu sangat terasa manfaatnya saat pandemi Covid-19.
Dari wabah itu kita belajar, ada banyak sumber daya alam dan kearifan lokal yang bisa kita maksimalkan untuk kesehatan.
Keempat, keluarga harus mampu memodifikasi lingkungan rumah yang sehat.
Lingkungan di sini tidak sekadar yang kelihatan secara fisik (bersih, rapi, sirkulasi udara baik, sanitasi bagus, dll), tapi juga menyangkut lingkungan psikologis, sosial dan spiritual.
Keluarga perlu merekayasa suasana rumah sehingga menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi semua.
Kelima, semandiri apa pun keluarga kita, sebaiknya tetap memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di masyarakat.
Memang sebelumnya kita sempat mengeluh dengan keterbatasan SDM dan fasilitas kesehatan.
Tapi, dari sedikit yang sudah ada itu, mari kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk peningkatan kualitas hidup. Nikmati layanan yang paling dekat, misalnya puskesmas.
Jumlah dokter memang belum banyak di NTT, tapi tenaga kesehatan seperti perawat, bidan, dan lainnya juga siap melayani Anda.
Kalau mereka menilai kondisi Anda membutuhkan penanganan lebih lanjut oleh tenaga ahli dengan fasilitasi memadai, sudah ada sistem rujukan juga.
Itu beberapa upaya yang bisa kita lakukan bersama saat di keluarga masing-masing. Kalau setiap tugasnya dijalankan dengan baik, maka peluang hidup dengan sehat dan berkualitas semakin besar.
Kita akhirnya bisa menyambut kehadiran Allah dalam keluarga dengan kondisi yang sehat dan bahagia. Salam damai Natal. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
| Opini: Kerugian Negara dan Alarm Tata Kelola Keuangan Publik |
|
|---|
| Opini: Children helping Children a la Pangeran Cilik |
|
|---|
| Opini: Makna Pentahbisan Diakon dalam Perspektif Thomas Aquinas tentang Penggerak Pertama |
|
|---|
| Opini: Pelajaran dari Pancasila bagi Kebijakan Satu Peta |
|
|---|
| Opini: Ketika Luka Menjadi Pemandangan- NTT dan Kelelahan Merawat Sesama |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Saverinus-Suhardin02.jpg)