Opini
Opini: Demokrasi Zombie Itu Nyata
Para ahli yang dikutip dalam pemikiran Holivil menekankan bahwa pembungkaman ini efektif karena ia merusak struktur kepercayaan publik.
Oleh: Inosensius Enryco Mokos
Dosen Ilmu Komunikasi dan Filsafat
POS-KUPANG.COM - Demokrasi di Indonesia tengah menghadapi ujian krusial yang mengancam fondasi kebebasan berpendapat.
Belakangan ini, viral di media sosial serangkaian aksi teror fisik dan psikis menyasar para pemuka pendapat (influencer) serta aktivis yang vokal mengkritik kebijakan pemerintah, menandai pergeseran gaya represi dari meja hijau ke tindakan kekerasan jalanan.
Fenomena ini bukan sekadar kriminalitas biasa, melainkan sebuah sinyal bahaya bahwa ruang sipil sedang mengalami penyusutan (shrinking civic space) yang ekstrem.
Saat argumen logis dibalas dengan ledakan bom molotov, intimidasi melalui bangkai binatang, vandalisme dan surat teror, kita tidak lagi berada dalam ruang dialektika yang sehat, melainkan dalam cengkeraman upaya sistematis untuk membungkam kebenaran melalui rasa takut.
Baca juga: Sampah 7 Ton Terkumpul di Pulau Padar, Komitmen PHC Menuju Zero Waste
Kondisi ini membawa kita pada refleksi teoritis yang tajam mengenai apa yang disebut Ernestus Holivil dalam bukunya sebagai "Demokrasi Zombie" (2025).
Holivil menggambarkan sebuah kondisi patologis di mana institusi demokrasi, seperti pemilu, partai politik, dan konstitusi tetap berdiri tegak bak cangkang yang utuh, namun ruh kedaulatan rakyat dan substansi kebebasannya telah lama mati.
Teror terhadap para pengkritik adalah instrumen utama yang memastikan "mayat hidup" demokrasi ini tetap berjalan tanpa gangguan dari suara-suara yang menuntut akuntabilitas nyata.
Demokrasi Zombie dan Matinya Demokrasi
Kasus yang menimpa DJ Donny, seorang influencer yang kerap memberikan analisis kritis terhadap kebijakan publik, menjadi puncak gunung es dari represi ini.
Teror yang diterimanya sangat eksplisit; kediamannya menjadi sasaran pelemparan bom molotov oleh orang tak dikenal.
Tindakan ini bukan sekadar upaya perusakan properti, melainkan serangan terhadap ruang privat yang dirancang untuk mengirimkan pesan teror.
Penggunaan perangkat peledak ini menunjukkan adanya eskalasi kekerasan yang brutal demi menciptakan efek jera (chilling effect) bagi siapa pun yang berani mengusik kenyamanan penguasa.
Serupa namun tak sama, aktivis Greenpeace Iqbal Damanik juga menghadapi tekanan psikis yang mengerikan.
Ia menerima kiriman paket misterius yang berisi bangkai ayam yang sudah membusuk, disertai surat ancaman bernada kebencian.
Penggunaan simbol "bangkai" dalam komunikasi teror ini merupakan taktik intimidasi kuno yang bertujuan meruntuhkan mentalitas korban.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Inosensius-Enryco-Mokos-03.jpg)