Opini
Opini: Natal, Hari Ibu dan Tahun Yubileum 2025
Kelahiran Yesus menjadi momen perdamaian karena Yesus lahir untuk mendamaikan umat manusia, menebus dosa manusia.
Oleh: Gabriel Ola
Umat Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus Ili, Keuskupan Maumere Flores - Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Perayaan Natal 25 Desember setiap tahun tidak sekadar seremonial duniawi semata baik aspek sosial dan ekonomi dengan kemewahan yang terungkap dalam semarak pesta di setiap keluarga.
Lebih dari pada itu perayaan Natal merupakan momen refleksi spiritual tentang solidaritas, kerendahan hati, saling memaafkan dan adanya pembaharuan iman menuju terciptanya pribadi yang mampu memperbaharui diri.
Kelahiran Yesus menjadi momen perdamaian karena Yesus lahir untuk mendamaikan umat manusia, menebus dosa manusia.
Ia datang membawa pengharapan baru di dunia yang diliputi konflik kepentingan baik ekonomi, politik maupun ideologi.
Baca juga: Opini: Menagih Makna Hari Ibu
Bunda Maria menjadi tokoh kunci dalam karya penyelamatan dunia (umat manusia). Bunda Maria mengandung dan melahirkan Yesus, Sang Juru Selamat.
Rahim Bunda Maria adalah rahim kasih karena Allah mengasihi umatnya dan mengutus Yesus untuk menyelamatkan umat manusia.
Rahim Bunda Maria adalah rahim harapan karena kelahiran Yesus membawa harapan baru dalam tahun yang baru.
Dalam rahim Bunda Maria ada kedamaian karena Natal membawa damai, ketenangan dan harmoni.
Karena Bunda Maria menjadi umat pilihan Allah dalam karya penyelamatan maka memperingati hari Natal menuntut kita umat kristiani untuk merayakan dalam suasana batin penuh kasih, kerendahan hati, tahu bersyukur kepada Tuhan atas rencana keselamatanNya.
Rahim Bunda Maria adalah rahim pembawa keselamatan bagi umat manusia. Melalui Bunda Maria kita diajarkan untuk menerima rencana dan kehendak Tuhan karena dalam kebimbangan justru Bunda Maria mengatakan “Terjadilah Padaku Menurut perkataanMu”.
Hari Ibu
Hari Ibu dirayakan pada tanggal 22 Desember setiap tahun untuk mengenang Kongres Perempuan Indonesia I (22 – 25 Desember 1928) di Yogyakarta.
Kongres ini muncul atas keprihatinan kaum perempuan saat itu yang mendorong mereka bangkit untuk memperjuangkan hak dan kewajiban mereka dalam kehidupan bangsanya.
Kondisi belum merdeka menjadi tantangan tersendiri untuk berjuang dalam rangka memperbaiki kualitas hidup yang terkungkung dari belenggu penjajah.
Saat ini peran perempuan dalam setiap dimensi kehidupan sangat penting dan strategis.
Karena itu pada momentum Hari Ibu apresiasi atau penghargaan patut diberikan kepada kaum perempuan karena peran mereka saat ini maupun di masa yang akan datang tidak lagi terbatas pada urusan keluarga.
Peran perempuan sudah merambah dan patut diperhitungkan dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya.
Tahun Yubileum
Tahun Yubileum 2025 dengan tema Ziarah Pengharapan, umat Katolik diajak untuk melakukan ziarah spiritual dalam rangka pembaruan iman, membangun harapan masa depan, dan melakukan pertobatan.
Umat Katolik diharapkan membangun solidaritas antar dan intern umat beragama.
Solidaritas antarumat beragama merupakan salah satu wujud menghadirkan ajaran sosial gereja di tengah kemajemukan.
Karena pada titik inilah umat Katolik mengejahwantahkan pesan injil menjadi garam dan terang di tengah dunia .
Pada Tahun Yubileum 2025, gereja Katolik hendak mengajak umat untuk melakukan perjalanan spiritual mencari Tuhan yang merupakan simbolisasi dari perjalanan bangsa Israel menuju tanah terjanji dengan fokus pada iman, harapan dan pertobatan atau pengampunan dosa ( idulgensia).
Perjalanan spiritual memberi pesan bagi umat Katolik untuk melakukan pencarian makna hidup, menemukan keheningan, kesederhanaan dan pembaharuan iman.
Tahun Yubileum 2025 memberi pesan harapan agar manusia dapat mengatasi keputusasaan akibat menghadapi berbagai persoalan seperti krisis iklim, konflik bersenjata, atau bencana alam.
Tahun Yubileum 2025 juga merupakan kesempatan memperoleh pengampunan dosa melalui pertobatan.
Melalui pertobatan maka akan ada transformasi diri dari manusia lama ke manusia baru yang membawa harapan baru dalam tata dunia baru.
Antara Natal, Hari Ibu dan Tahun Yubelium 2025 ada pesan penting yang perlu diangkat dan menjadi nilai yang perlu dihidupi umat Katolik dalam kehidupan menggereja dan bermasyarakat.
Pertama, Bunda Maria merupakan tokoh sentral dalam kehidupan umat manusia.
Melalui Bunda Maria Tuhan melakukan karya penyelamatan terhadap umat manusia dengan menghadirkan Yesus sebagai Juru Selamat untuk menebus dosa manusia.
Kongres I Perempuan telah melahirkan tonggak sejarah perjuangan untuk keluar dari kungkungan penjajah. Artinya peran perempuan melahirkan sebuah peradaban tentang keluar dari kungkungan penjajah.
Di sini menunjukan peran ibu merupakan tokoh pembebasan (pembebasan dari dosa dan pembebasan dari perbudakan).
Kedua, peran Bunda Maria dalam menjaga harmoni antara manusia dengan Tuhan, antara manusia dengan manusia dan antara manusia dengan alam ditandai dengan penebusan dosa oleh kematian Yesus di kayu salib.
Akibat dosa maka hubungan antara manusia dengan Tuhan, antara manusia dengan manusia dan antara manusia dengan alam menjadi renggang.
Peran perempuan dalam kongres I perempuan Indonesia telah menciptakan sebuah semangat perjuangan untuk membela hak dan kewajiban sehingga terciptanya kemerdekaan yang dapat mengantar rakyat Indonesia keluar dari perbudakan, kesengsaraan, keterbelengguan dan kemiskinan.
Inilah bukti peran perempuan dalam pembelaan terhadap peradaban manusia.
Ketiga, Bunda Maria telah menjadi Bunda Yesus. Ia membimbing Yesus sebagai manusia biasa menuju kedewasaan fisik manusiawi dan akhirnya Yesus menjadi pemimpin, gembala, guru umat Katolik yang disegani oleh kawan maupun lawan.
Kaum perempuan saat ini telah melahirkan dan membesarkan generasi menuju manusia yang dewasa dan bermartabat serta berkarya bagi kepentingan gereja dan bangsa.
Bunda Maria dan perempuan-perempuan saat ini maupun yang akan datang telah dan akan menjadi pilar utama dalam membangun fondasi keluarga yang kokoh menuju sebuah bangsa yang kuat.
Keempat, Bunda Maria adalah Bunda Penyelamat karena anaknya Yesus telah menjadi penyelamat bagi umat manusia.
Perempuan Indonesia di kala itu menjadi penyelamat bagi rakyat dalam belenggu penjajah. Kaum ibu adalah penyelamat dunia.
Kelima, Natal merupakan peristiwa Bunda Maria melahirkan Yesus Sang Juru Selamat.
Hari Ibu adalah hari lahirnya tonggak sejarah perjuangan perempuan untuk keluar dari belenggu penjajah.
Tahun Yubileum 2025 dengan Tema Ziarah Pengharapan kiranya membawa para peziarah menuju pertobatan sehingga terciptanya pembaharuan iman.
Yesus datang untuk menebus dosa umat manusia maka umat Katolik diajak bertobat.
Ziarah pengharapan tahun Yubelium 2025 semoga menjadi daya dorong bagi perjuangan kaum perempuan untuk mencapai harapan baru dalam tata dunia di masa yang akan datang.
Semoga Natal, Hari Ibu dan Tahun Yubileum 2025 membawa harapan baru, pertobatan, pengampunan dosa, pembaharuan iman menuju tata dunia baru seturut injil. Semoga. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gabriel-Ola.jpg)