Opini
Opini: Menagih Makna Hari Ibu
Dengan demikian, momen Hari Ibu menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya dibangun di atas beban sunyi perempuan.
Oleh: Emiliana Martuti Lawalu, SE,ME
Dosen pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Bangsa Indonesia merayakan hari Ibu setiap tanggal 22 Desember.
Kongres Perempuan Indonesia 1928 menandai perjuangan perempuan untuk hak, martabat, dan keadilan, serta menjadi tonggak sejarah lahirnya hari Ibu.
Peringatan hari Ibu bukan hanya sekadar mengenang pengorbanan perempuan, tetapi juga menuntut tanggung jawab negara.
Dalam konteks pembangunan saat ini, tantangan nyata yang dihadapi perempuan adalah Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia yang masih berkisar 180 per 100.000 kelahiran hidup (BPS-Kemenkes), yang jelas jauh dari target SDGs sebesar 70.
Angka ini bukan hanya sekadar statistik kesehatan, pendidikan, perempuan, kemiskinan, hingga akses transportasi. Ini adalah gambaran suram yang mencerminkan ketidakadilan terhadap perempuan.
Baca juga: 20 Pantun Tema Hari Ibu 22 Desember, Penuh Doa dan Menyentuh Hati
Selanjutnya, dalam konteks di NTT, tingkat kemiskinan perempuan masih tinggi, seiring dengan dominasi perempuan dalam sektor informal dan pekerjaan perawatan yang tidak berbayar.
Selain perempuan, penyandang disabilitas dan kelompok rentan menunjukkan bahwa makna hari Ibu harus diperluas menjadi seruan untuk pembangunan yang berspektif GEDSI (Gender, Equality, Disability and Social Inclusion).
Dalam perspektif GEDSI, pembangunan tidak hanya dipahami sebagai peningkatan pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik, tetapi juga sebagai proses transformasi sosial yang memastikan setiap individu, tanpa kecuali, memiliki kesempatan, akses, partisipasi, dan manfaat yang adil dari pembangunan.
Ketimpangan Gender Dalam Angka
Data BPS NTT menunjukkan bahwa 51,13 persen perempuan berperan dalam kegiatan produktif, dengan lebih dari 51 persen di antaranya bekerja sebagai profesional.
Ini mencerminkan peningkatan partisipasi ekonomi. Namun, jika diteliti lebih lanjut, partisipasi perempuan sering kali terfokus pada sektor informal atau pekerjaan yang tidak dibayar (seperti mengurus rumah tangga) yang tidak tercatat dalam statistik resmi, meskipun memberikan kontribusi sosial dan ekonomi yang signifikan bagi keluarga dan komunitas.
Selain itu, masalah kesehatan reproduksi dan pendidikan masih menjadi penghalang bagi potensi penuh perempuan.
NTT termasuk dalam 13 provinsi dengan angka kehamilan remaja yang tinggi, sedikit di atas rata-rata nasional, yang menunjukkan tantangan besar dalam akses informasi, layanan kesehatan, dan dukungan sosial bagi perempuan muda.
Selain itu, kelompok yang terpinggirkan, yaitu penyandang disabilitas di NTT, berada dalam kondisi kemiskinan, mewakili lebih dari 13 persen dari total populasi penyandang disabilitas di provinsi tersebut.
Ketidaksetaraan ini tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi, tetapi juga akses terhadap pendidikan, pekerjaan, layanan kesehatan, dan partisipasi sosial.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Emiliana-Martuti-Lawalu.jpg)