Opini
Opini: Natal, Bencana dan Solidaritas
Kota Kupang tampak lebih semarak dengan hiasan pohon-pohon Natal sepanjang jalan dengan lampu hias warna warni.
Oleh: Herman Musakabe
Gubernur Nusa Tenggara Timur periode 1993-1998
POS-KUPANG.COM - Hari Raya Natal sudah dekat. Umat Kristen bersiap-siap menyambut kelahiran Yesus Kristus Sang Juru selamat dengan acara ibadat Natal di gereja dan acara berkumpul dengan keluarga dalam suasana sukacita.
Natal adalah tanda solidaritas total dan kasih Allah tanpa batas kepada manusia yang penuh dosa sehingga Ia merelakan PuteraNya yang tunggal datang ke dunia dalam keadaan miskin papa.
Tetapi dunia tidak mengenalNya dan bahkan tidak memberi tumpangan bermalam bagi Bunda Maria yang akan melahirkanNya sehinga Ia lahir di kandang hewan dan diletakkan di atas palungan.
Bagi masyarakat umum, Natal identik dengan libur panjang sampai tahun baru.
Tempat wisata diserbu para pelancong dan wisatawan, kamar hotel penuh dibooking, angkutan udara, laut dan darat panen keuntungan akhir tahun, kepadatan lalu lintas meningkat.
Polisi harus bekerja ekstra keras untuk mengamankan dan melancarkan arus lalu lintas dengan Operasi Lilin untuk Natal dan Tahun Baru atau pengamanan Nataru.
Harga-harga bahan pokok melonjak dan seolah sudah jadi tradisi tanpa bisa diprotes.
Kota Kupang tampak lebih semarak dengan hiasan pohon-pohon Natal sepanjang jalan dengan lampu hias warna warni.
Pemandangan indah kota Kupang di bawah Wali kota dr Chris Widodo yang tak mau kotanya kalah dengan Kota Solo.
Bencana Alam dan Buatan Manusia
Di tengah suasana menyambut akhir tahun terjadilah bencana alam banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Banjir bandang bukan hanya meluapkan air bah tetapi juga menghanyutkan kayu-kayu gelondongan yang meluluhlantakan semua yang dilewatinya.
Selain banjir juga terjadi tanah longsor yang menimbun infrastruktur jalan, rumah dan manusia.
Korban jiwa sedikitnya 1.016 orang, 293 dinyatakan hilang, 112 ribu lebih rumah rusak, 1.666 titik infrastruktur rusak dan 2.058 km jalan rusak, 31 jembatan nasional dan 48 jembatan daerah putus, 362 fasilitas pendidikan dan 25 fasilitas kesehatan rusak.
Perkiraan sementara kerugian ekonomi mencapai 68,67 triliun rupiah. Masyarakat korban banjir harus berjalan jauh berhari-hari untuk mencari bahan makanan atau bantuan dari pemerintah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gubernur-Musakabe-Herman.jpg)