Opini
Opini: Natal, Bencana dan Solidaritas
Kota Kupang tampak lebih semarak dengan hiasan pohon-pohon Natal sepanjang jalan dengan lampu hias warna warni.
Harusnya SDA hutan dan pertambangan itu dikelola negara/pemerintah dengan menjaga lingkungan dan hasilnya dikembalikan untuk kepentingan pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan rakyat.
Bagaimana Dengan Kita?
Bencana alam bisa terjadi di mana-mana termasuk daerah NTT. BMKG melaporkan bahwa Indonesia sedang dikepung oleh 3 sistem siklon tropis yaitu Siklon Tropis Bakung, Bibit Siklon 935 dan Bibit Siklon 955.
Daerah yang kemungkinan terdampak antara lain Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua dan Sumatera. Kita harus tetap waspada dan mengantisipasi bencana alam tersebut.
Selain bencana alam kita juga harus mewaspadai bencana akibat ulah manusia di sekitar yang sudah membunyikan alarm peringatan.
Profesor Reinald Khazali dalam sebuah video yang beredar baru-baru ini memperingatkan tentang penyebaran HIV AIDS di kalangan pelajar dan mahasiswa di Kota Kupang.
Menurutnya jumlah penderita HIV di kalangan pelajar dan mahasiswa telah melebihi jumlah penderita HIV di kalangann pekerja seks komersial (PSK).
Masalah ini bukan hanya menyangkut kesehatan tetapi juga masalah sosial dan pendidikan.
Hal ini disebabkan antara lain oleh kurangnya edukasi Kesehatan reproduksi, pergaulan bebas dan minimnya kesadaran tentang risiko penyebaran HIV AIDS serta tindakan pencegahan.
Perlu upaya kolaborasi antara pemerintah kota, lembaga kesehatan, masyarakat untuk mengatasi masalah ini agar tidak terjadi bencana.
Peran RT, RW, sekolah dan orang tua penting untuk mengawasi serta rencana pemerintah untuk menanggulanginya secara komprehensif.
Mukjizat Masih Ada
Banjir bandang yang terjadi di Sumut juga menyisakan peristiwa yang dipercaya sebagai mukjizat dari Tuhan.
Sebuah biara Susteran OSF San Damiano di Tapanuli Tengah selamat dari terjangan banjir bandang dan longsor pada Desember 2025.
Tanah longsor berhenti tepat di depan gedung biara, sementara para suster berdoa rosario, menandakan ada tangan Tuhan yang melindungi biara yang berisi para suster dan anak-anak yang tidak berdaya di dalamnya.
Sebuah batang kayu besar melintang di depan biara yang menahan banjir, lumpur dan gelondongan kayu yang terbawa air bah. Ada tangan yang tidak kelihatan (invisible hand) yang menahan banjir itu sehingga biara dan penghuni di dalamnya selamat semuanya.
Bapak Uskup Agung Medan Mgr Kornelius Sipayung OFM Cap sempat meninjau lokasi TKP di sekitar biara dan berkata kepada suster yang mendampinginya: “Menurut kamu tangan siapa yang menahan sehingga banjir tidak menerjang biara dan isinya?”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gubernur-Musakabe-Herman.jpg)