Minggu, 7 Juni 2026

Opini

Opini: Tragedi Sumatra dan Panggilan Pertobatan Ekologis

Pertobatan ekologis bukan sekadar jargon teologis, tetapi revolusi moral yang menuntut keberanian: keberanian untuk melawan keserakahan..

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI PAULUS TOLO
Dr. Paulus Tolo, SVD 

Oleh: Pater Dr. Paulus Tolo, SVD
Dosen Teologi Moral di Stipas St. Sirilus Ruteng, Manggarai Flores

POS-KUPANG.COM - Sumatra kembali menjadi panggung duka. Di bawah langit kelabu yang diguyur hujan tanpa jeda, tanah yang dulu subur kini berubah menjadi kuburan massal. 

Siklon Senyar bukan sekadar badai; “lidah angin yang melumat hutan” itu adalah amarah alam yang meletup setelah sekian lama manusia yang bermartabat khalīfah fī al-arḍ (wakil Allah dan/atau pemimpin yang diberi amanah untuk merawat bumi) mengabaikan peringatannya. 

Baca juga: Panitia ETMC XXXIV Ende Donasikan Dana Buat Korban Bencana di Sumatra Rp150 Juta

Data BNPB mencatat angka yang mencengangkan: hampir seribu nyawa melayang, ratusan masih hilang, dan lebih dari sejuta manusia terusir dari rumah yang mereka sebut “tempat pulang”. 

Ribuan sekolah, jembatan, dan rumah hanyut bersama mimpi yang tak sempat selesai.

Lokasi Bencana jadi Panggung Pencitraan

Helikopter berputar di langit kelabu, kapal rumah sakit berlayar di sungai yang berubah menjadi lautan lumpur, dan sinyal Starlink dipasang agar suara-suara dari daerah terisolasi tak lenyap ditelan sunyi. 

Namun, di balik heroisme ini, ada pertanyaan yang mengiris: mengapa kita selalu menunggu bencana untuk bertindak? 

Mengapa mitigasi selalu tak berdaya di hadapan retorika politis yang sarat dengan kepalsuan?

Kritik publik pun mengemuka. Di media sosial, warganet menyorot bagaimana lokasi bencana kerap berubah menjadi panggung pencitraan. 

Foto pejabat berseragam lengkap, berpose di tengah puing, lebih cepat beredar daripada rencana aksi nyata. Padahal, para korban lebih membutuhkan solusi, bukan selfie. 

Fenomena ini menegaskan jurang antara simbol dan substansi: ketika tragedi menjadi latar drama politik, korban tetap menunggu uluran tangan yang sesungguhnya.

Seperti suara Yohanes Pembaptis yang menyerukan pertobatan, seorang Imam dari Ordo Capusin, Romo Aleks Silaen, dari Medan berkicau: 

“Bencana bukan panggung untuk pencitraan, melainkan panggilan untuk solidaritas sejati. Jika penderitaan dijadikan latar foto, kita sedang mengkhianati Injil yang mengajarkan kasih yang nyata, bukan kasih yang dipoles kamera.”

Paus Fransiskus juga mengingatkan dalam Evangelii Gaudium: “Pemimpin sejati adalah mereka yang menghidupi pelayanan, bukan mencari kehormatan. Mereka berjalan di tengah umat, bukan di atas panggung” (EG 31). 

Kutipan ini menegaskan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kerendahan hati dan keberpihakan kepada warga atau umat yang menderita, bukan sebaliknya, dari pencitraan yang mengorbankan martabat para korban.

Akar Masalah: Dosa Struktural terhadap Alam

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved