Opini
Opini: Tragedi Sumatra dan Panggilan Pertobatan Ekologis
Pertobatan ekologis bukan sekadar jargon teologis, tetapi revolusi moral yang menuntut keberanian: keberanian untuk melawan keserakahan..
Ketiga, hari doa untuk alam. Mengikuti seruan Paus Fransiskus, paroki dapat menetapkan satu hari khusus untuk doa dan aksi nyata bagi bumi, misalnya pada Hari Doa Sedunia untuk Ciptaan yang jatuh pada setiap tanggal 1 September.
Keempat, advokasi dan edukasi. Mengajak umat untuk mendukung kebijakan yang melindungi hutan dan menolak praktik deforestasi.
Ikhtiar untuk mengedukasi publik itu bisa melalui seminar, media sosial, dan komunitas basis.
Selain keempat langkah tersebut, di atas segalanya, lilin solidaritas untuk korban mesti dinyalakan.
Menggalang dana dan bantuan untuk korban bencana, bukan hanya sebagai aksi karitatif, tetapi sebagai bentuk kasih yang menghidupkan iman.
Mazmur mengingatkan kita: “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya” (Mazmur 24:1).
Alarm Pertobatan Ekologis
Jika bumi adalah milik Tuhan, maka merawatnya bukan sekadar pilihan, melainkan ibadah yang nyata.
Tragedi Sumatra bukan hanya kisah tentang banjir dan longsor; air mata duka para korban adalah lonceng yang berdentang keras, mengingatkan kita bahwa pembangunan tanpa etika ekologis adalah jalan pintas menuju kehancuran.
Setelah menyingkap bagaimana lokasi bencana berubah menjadi panggung pencitraan, menelusuri akar persoalan yang berakar pada dosa struktural terhadap alam, dan merenungkan bencana sebagai cermin pertobatan, satu pesan tak terbantahkan: empati saja tidak cukup.
Kita tidak bisa berhenti pada rasa iba. Kita dipanggil untuk melangkah lebih jauh, yakni bertobat, mengubah cara pandang yang eksploitatif, dan menjadikannya aksi nyata berbasis kemanusiaan dan/atau kekhalifahan.
Pertobatan ekologis bukan sekadar jargon teologis, tetapi revolusi moral yang menuntut keberanian: keberanian untuk melawan keserakahan, menolak pencitraan kosong, dan memilih solidaritas yang hidup.
Jika kita gagal menjawab panggilan ini, kita sedang menulis undangan untuk tragedi berikutnya.
Mari bertafakur sejenak: Apakah kita akan terus menjadi penonton di panggung bencana, atau bangkit sebagai khalīfah fi al-arḍ, sebagai pengelola bumi yang setia pada amanah Sang Pencipta? (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Paulus-Tolo.jpg)