Opini
Opini: Tragedi Sumatra dan Panggilan Pertobatan Ekologis
Pertobatan ekologis bukan sekadar jargon teologis, tetapi revolusi moral yang menuntut keberanian: keberanian untuk melawan keserakahan..
Sorotan tajam kini mengarah pada akar persoalan: deforestasi yang rakus, pembalakan liar yang tak pernah benar-benar kita hentikan.
Hutan yang dulu menjadi perisai kini tinggal cerita, digantikan oleh ambisi yang menebang tanpa nurani.
Kerusakan hutan di Sumatra bukan sekadar angka statistik; kejahatan ekologis tersebut adalah bom waktu yang menelan banyak korban.
Dalam terang iman Katolik, tragedi ini bukan hanya soal alam, tetapi soal moral.
Paus Fransiskus dalam Laudato Si’ mengingatkan: “Bumi, rumah kita bersama, semakin rusak karena dosa manusia yang mengabaikan tanggung jawab ekologis” (LS .2).
Kitab Suci pun bersuara: “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu” (Kejadian 2:15).
Manusia diberikan mandat ilahi yang clear and clean, yakni bukan untuk mengeksploitasi, tetapi untuk merawat.
Ketika sang khalîfah merusak ciptaan, kita merusak harmoni yang Allah tetapkan.
Bencana Sebagai Cermin Pertobatan
Bencana ini adalah cermin retak yang memantulkan wajah kita sendiri—wajah yang abai, serakah, dan tak belajar dari luka yang berulang.
Gereja mengajak semua pihak untuk melakukan “pertobatan ekologis”: mengubah cara pandang dari eksploitasi menuju pemeliharaan.
Paus Fransiskus menulis: “Pertobatan ekologis menuntut kita untuk mengakui kesalahan, dosa, dan kelalaian terhadap ciptaan, serta mengubah gaya hidup menuju kesederhanaan dan tanggung jawab” (LS. 219).
Pertanyaannya sederhana namun menohok: sampai kapan kita akan menulis berita duka, tanpa pernah menulis babak perubahan?
Pertobatan ekologis bukan hanya ide, tetapi aksi nyata. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh umat Katolik.
Pertama, doa lingkungan dan katekese hijau. Setiap paroki dapat mengadakan doa khusus untuk korban bencana dan refleksi tentang tanggung jawab ekologis. Misalnya, mengintegrasikan tema ciptaan dalam homili dan katekese.
Kedua, gerakan hijau paroki. Membentuk tim lingkungan di paroki untuk menanam pohon, mengurangi plastik, dan mengelola sampah. Ini bukan sekadar aksi sosial, tetapi wujud iman yang hidup.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Paulus-Tolo.jpg)