Kamis, 23 April 2026

Opini

Opini - Uskup Baru Larantuka, Ritus Iman-Budaya dan Spirit Menggelekat 

Penunjukan Pastor Yohanes Hans Monteiro, Pr sebagai Uskup Terpilih Keuskupan Larantuka yang diumumkan oleh Paus Leo XIV.

Editor: Alfons Nedabang
DOKUMENTASI PRIBADI YOGEN SOGEN
Yogen Sogen 

Oleh: Yogen Sogen
Warga Lamaholot tinggal di Jakarta

POS-KUPANG.COM - Penunjukan Pastor Yohanes Hans Monteiro, Pr sebagai Uskup Terpilih Keuskupan Larantuka yang diumumkan oleh Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Paus Leo XIV pada Sabtu (22/11/2025) adalah anugerah terbesar bagi seluruh umat. 

Keputusan ini, yang datang dari pusat Gereja Universal, menandai dimulainya sebuah babak suci dan mengukuhkan estafet kepemimpinan di wilayah yang bukan hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga kedalaman rohaninya; Bumi Lamaholot dan Kota Reinha Rosari (Larantuka).

Larantuka bukan sekadar sebuah titik di peta, melainkan jantung iman yang berdetak dengan irama devosi. Sejarah Gereja Katolik di Larantuka adalah kisah epik tentang ketahanan iman yang telah berakar kuat sejak pelaut dan misionaris Portugis menjejakkan kaki di tanah ini pada abad ke-16. 

Di sinilah iman ditanamkan dengan kasih dan tumbuh subur, bukan dengan paksaan, melainkan melalui proses inkulturasi yang mendalam. Ajaran Kristus meresap dalam denyut kearifan lokal.

Hasilnya adalah tradisi spiritual yang teguh: ketaatan abadi kepada Bunda Maria, Reinha Rosari. Ketaatan ini menjadi matriks spiritualitas umat, membentuk karakter yang lembut dalam penyerahan diri, namun teguh dalam menghadapi badai kehidupan. Puncak dari tradisi ini adalah perayaan Semana Santa. Semana Santa adalah bukti nyata bahwa iman di Bumi Lamaholot adalah iman yang dihidupi melalui budaya.

Dalam konteks yang lebih luas, spiritualitas Larantuka menjadi sumbangan berharga bagi negara, memupuk solidaritas dan persatuan antar umat beragama. Keimanan yang terinkulturasi menjadikannya semakin relevan dan membumi. 

Melansir Wikipedia Keuskupan Larantuka (per 2021), Keuskupan Larantuka melayani sekitar 253.922 umat Katolik yang tersebar di 51 Paroki. Jumlah paroki yang masif ini menunjukkan tanggung jawab pastoral yang luar biasa besarnya. Artinya, gereja dan umat perlu membangun kolaborasi yang masif untuk dapat bergerak membangun masa depan gereja dan bangsa.

Estafet Keteladanan

Sebelum mata tertuju sepenuhnya pada masa depan, adalah kewajiban moril bagi seluruh umat untuk menyampaikan rasa syukur yang paling mendalam kepada gembala yang telah menahkodai Keuskupan sebelumnya, Mgr. Fransiskus Kopong Kung. Pengabdiannya adalah sebuah keteladanan yang akan menjadi pondasi kokoh bagi Uskup Terpilih.

Kini, Uskup Baru mengemban panggilan suci dengan semangat "menggelekat", sebuah istilah dalam ritus sosial-budaya masyarakat adat Lamaholot. Secara harfiah, "menggelekat" berarti melekat erat atau berjarak sangat dekat dengan umat untuk melayani ribu ratu (seluruh masyarakat). 

Semangat tersebut merupakan sebuah janji pelayanan yang tidak berjarak. Uskup Hans Monteiro membawa bekal intelektual dan spiritual yang kuat untuk menerjemahkan semangat ini dalam aksi pastoral yang nyata.

Menanti Semangat Menggelekat

Di bawah kepemimpinan gembala baru, Gerakan Apostolik harus terus dihidupkan dengan melibatkan seluruh elemen Gereja, terutama kaum awam sebagai subjek perutusan Kristus. Semangat menggelekat ini harus mengakar dan bergerak dalam misi inkulturasi yang berkelanjutan. 

Nilai-nilai luhur Lamaholot, seperti semangat persaudaraan dan musyawarah, harus menjadi instrumen teologis dan pastoral yang memperkaya pelayanan.

Selain itu, pelayanan iman wajib memiliki fokus sosial dan kesadaran ekologis yang kuat, sejalan dengan seruan Mendiang Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si' yang membasis pada kesadaran untuk menjaga bumi sebagai rumah kita bersama.

Gereja wajib menjadi suara kenabian yang lantang dalam realitas kehidupan umat. Isu-isu kemanusiaan mendesak, seperti praktik human trafficking yang masih menjadikan NTT sebagai zona darurat, menuntut Gereja untuk menjadi benteng perlindungan dan pemberdayaan ekonomi.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved