Opini

Opini: Magang ke Jepang

Perawat kita tangguh, adaptif, dan secara budaya memiliki empati tinggi, sesuatu yang sangat dihargai di Jepang. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI PRIMA TRISNA AJI
Prima Trisna Aji 

Saatnya Indonesia Mengirim Tenaga Kesehatan Go Internasional dengan Martabat Global

Oleh: Prima Trisna Aji
Dosen Spesialis Medikal bedah Universitas Muhammadiyah Semarang

POS-KUPANG.COM - Ketika pintu kerja sama internasional terbuka, sebuah bangsa diuji: apakah ia siap melangkah masuk, atau hanya berdiri terpukau melihat peluang lewat begitu saja. 

Penandatanganan MoU antara UNIMUS Semarang dan Suenoba Cooperative Association dari Prefektur Fukuoka, Jepang, pekan lalu adalah salah satu momen yang tak boleh sekadar lewat. 

Ini bukan sekadar seremoni bertukar dokumen, melainkan wujud perjalanan panjang perguruan tinggi Indonesia untuk mengangkat derajat profesi perawat di panggung global.

Di ruang pertemuan FIKKES UNIMUS Semarang yang sederhana namun penuh harapan, saya melihat sesuatu yang lebih besar daripada kata internasionalisasi. 

Baca juga: Opini - Mendorong Anak Muda NTT Bekerja di Jepang

Ada wajah-wajah muda yang menunggu wawancara, tangan mereka bergetar tapi mata mereka berbinar. 

Mereka bukan hanya menunggu kesempatan ke Jepang mereka menunggu validasi bahwa mimpi anak bangsa juga berhak terbang jauh. Dan bagi saya, inilah inti dari seluruh cerita.

Internasionalisasi Pendidikan Kesehatan Bukan Lagi Pilihan, Tetapi Keharusan

Wakil Rektor 4 UNIMUS Semarang, Muhammad Yusuf, dengan tepat menyebut kerja sama ini sebagai “langkah nyata” internasionalisasi kampus. 

Pernyataan itu bukan jargon. Jepang saat ini menghadapi super-aging society yang menuntut jutaan tenaga kesehatan tambahan dalam dua dekade ke depan. 

Sementara Indonesia, ironisnya, memiliki surplus lulusan keperawatan yang sering kali terhambat kualitas, bahasa, dan kurangnya eksposur standar global.

MoU UNIMUS dan Suenoba Jepang adalah jawaban dari dua kebutuhan besar ini dari dua negara yang sama-sama mencari jalan keluar yang saling melengkapi. 

Namun lebih dari itu, ia menjawab kegelisahan lama: Kapankah institusi pendidikan kesehatan Indonesia benar-benar menyelaraskan diri dengan standar dunia?

Keberanian Institusi: Dari Teori Global ke Praktik Global

Selama ini banyak perguruan tinggi berbicara tentang “global mindset” sebagai slogan, bukan implementasi. UNIMUS Semarang memilih jalur berbeda. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved